Tampilkan postingan dengan label Karya Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Kita. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Oktober 2018

0

Bergeraklah Pemuda! - Hari Sumpah Pemuda

Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Sembilan puluh tahun sudah ikrar itu dikumandangkan. 
Sembilan puluh tahun lalu, para putra-putriindonesia dengan semangat yang membara berusaha memerdekakan bangsa ini.
Sembilan puluh tahun kemudian, para putra-putri kita semakin terpuruk.

Dahulu, bambu runcing digenggaman, siap mengusir para penjajah.
Sekarang, gawai digenggaman, siap memecah belah bangsa ini.

Hoax disebar. Tawuran dimana-mana.
Kemana para pemuda yang dulu sanggup melawan penjajah?
Zaman makin canggih, namun akal pikiran makin kolot.

Makin banyak politikus korupsi, makin banyak pula pemuda tak peduli.
Selalu mengeluh tanpa melihat ke bawah.
Selalu mengeluh apa yang telah diberikan negara.
Nyatanya mereka belum melakukan apapun untuk negara.

Bung Karno pernah berkata,
Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia.
Namun sekarang satu juta pemuda pun tak akan cukup untuk mencabut semeru dari akarnya.
Kita bangsa besar, kita bukan bangsa tempe. Kita tidak akan mengemis, kita tidak akan minta-minta, apalagi jika bantuan-bantuan itu diembel-embeli dengan syarat ini syarat itu! Lebih baik makan gaplek tetapi merdeka, daripada makan bistik tapi budak.
Kami menggoyangkan langit, menggempakan darat, dan menggelorakan samudera agar tidak jadi bangsa yang hidup hanya dari 2 ½ sen sehari. Bangsa yang kerja keras, bukan bangsa tempe, bukan bangsa kuli. Bangsa yang rela menderita demi pembelian cita-cita.
Kalau perempuan itu baik, maka jayalah negara. Tetapi kalau perempuan itu buruk, maka runtuhlah negara.
Kita mendirikan negara Indonesia, yang kita semua harus mendukungnya. Semua buat semua! Bukan Kristen buat Indonesia, bukan golongan Islam buat Indonesia, bukan Hadikoesoemo buat Indonesia, bukan Van Eck buat Indonesia, bukan Nitisemito yang kaya buat Indonesia, tetapi Indonesia buat Indonesia, semua buat semua!
Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke! 
Bangunlah wahai pemuda!
Sampai kapan kalian tertidur!
Jangan hanya bermimpi!
Kejarlah mimpi kalian!
Gunakan gawai digenggaman kalian sebagai senjata 'tuk meraih mimpi!
Jangan sampai gawai itu memakan tuannya sendiri!

HIDUP PEMUDA INDONESIA!

#DesaBinaanFMIPAUNJ
#AkuKamuKitaLuarBiasa
#AksiNyataMembangunBangsa
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
👥 Desa Binaan Fmipa unj
📷 Desabinaan_fmipa
🌍 desa-binaan.blogspot.com
📩 db.fmipa@gmail.com
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
© Desa Binaan GEN VIII

Selasa, 13 Maret 2018

2

Pendidikan Yang Tepat Untuk Anak Usia 6-8 Tahun

Pendidikan adalah cara terbaik untuk membentuk kepribadian dan mendidik seseorang kedalam hal-hal kebaikan. Pendidikan juga merupakan sarana yang tepat untuk mengasah bakat dan potensial seseorang.

Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan, mulai dari anak yang baru lahir, lansia, remaja, anak-anak berkebutuhan khusus dan hal ini tidak dipandang oleh kekayaan seseorang. Namun, bagaimana pendidikan yang tepat untuk anak usia 6-8 tahun?

Di Indonesia sendiri, anak-anak berusia 6 atau 7 tahun sudah wajib memasuki Sekolah Dasar. Sebelum umur yang ditetapkan, anak-anak tersebut atau balita, disarankan untuk memasuki Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) atau Taman Kanak-Kanak (TK). Menurut Gardner, setiap anak-anak memiliki 7 kecerdasan yang meliputi linguistik, logika, matematika, spasial, kinestetik, musik, intrapersonal, interpersonal dan naturalis yang mana mereka memiliki kepekaan terhadap hal-hal tersebut. Pada anak-anak, dikenal suatu istilah yaitu ‘Golden Age’ atau masa keemasan. Golden Age ini terjadi pada umur 0-8 tahun, dimana cara berfikir, emosi, motorik, fisik mereka akan berkembang dengan drastis dengan bantuan orang tua mereka.

Pada anak berusia dibawah 6 tahun, mereka melakukan apa yang disuruh oleh orang tua atau orang disekitar mereka. Namun saat berusia 6-8 tahun, anak-anak dalam masa keemasan mereka. Mereka mulai mengetahui mana peraturan yang benar dan salah, dan dapat memahami serta merefleksikan nilai moral secara dalam.

Mereka ada pada tahapan pra-operasional yaitu rangsangan yang diberikan kepada anak tidak dapat diterima secara menyeluruh karena anak masih belum mampu untuk berpikir abstrak. Lalu untuk usia 7 tahun, mereka juga sudah mulai memasuki tahapan konkret operasional dimana anak dapat berpikir lebih rasional seperti melipat, menyusun, melakukan pemisahan, penambahan dan membagi. Untuk tahapan perkembangan kepribadian, menurut Erikson, mereka berada pada tahap Industri Versus Inferioritas yang mana menandakan bahwa mereka pada masa sekolah (School Age). Anak akan memiliki rasa ingin tahu yang besar, sehingga mereka akan aktif mempelajari apa yang ada di sekitarnya, namun saat mereka menghadapi kesukaran, hambatan hingga kegagalan, mereka cendrung merasa rendah diri. Ini adalah tugas orang tua dan guru serta orang di sekitar mereka agar mengembangkan kemampuan mereka sehingga mereka terhindar dari sifat rendah diri tersebut. Peran orang tua atau guru sangatlah penting bagi anak usia ini untuk memerhatikan apa yang dibutuhkan oleh si anak. Umumnya, anak-anak yang gagal dalam bangku sekolah disebabkan lebih sering bermain dibanding belajar.

Pembelajaran di Sekolah Dasar tentu sangat berbeda dengan pembalajaran saat di TK. Saat memasuki Sekolah Dasar, pembelajaran cendrung bersifat akademis dibanding TK yang lebih bersifat bermain. Usia 6-8 tahun sudah memasuki SD kelas 1 sampai 3 dan proses pembelajaran yang mereka terima lebih mengarah kepada potensi dan kemampuan mereka. Namun dikarenakan pada satu kelas terdapat berbagai watak anak-anak yang berbeda, para guru harus paham dalam proses pembelajaran bagaimana menyikapi hal tersebut. Para guru seharusnya jangan membandingkan anak yang kurang atau lambat dalam pemahaman materi dengan anak yang tergolong cepat memahami materi. Karena hal tersebut dapat membuat anak menjadi rendah diri dan timbullah mindset bahwa dirinya adalah orang bodoh.

Karena anak SD kelas 1-3 tergolong anak usia dini, para guru harus memahami konsep pembelajaran yang memfokuskan pada sifat fisik motorik anak, seperti diajarkan cara baris-berbaris, senam atau dasar olahraga, cara menulis dan menggambar karena hal-hal ini dapat membentuk kepribadian yang disiplin dan merangsang kreatifitas anak. Selain itu, guru juga harus mengajarkan dasar-dasar ilmu pengetahuan, seperti membaca, menghitung, mengenalkan hewan, lingkungan dan manusia. Guru juga harus memberi kesempatan kepada setiap anak untuk aktif bertanya serta guru dapat bercerita agar kemampuan bahasa anak meningkat dalam hal pembendaharaan kata. Guru juga harus merangsang pengembangan sosial dengan pengerjaan tugas secara kelompok kecil. Terakhir, guru sebagai orang tua di sekolah tidak seharusnya bersikap judes atau kurang ramah dan harus mengapresiasikan segala hal yang telah anak-anak lakukan.


DAFTAR PUSTAKA:
Anonym. Industry vs Inferiority Kerajinan vs Inferioritas. 2 Januari 2017. http://www.psikologiku.com/industry-vs-inferiority-kerajinan-vs-inferioritas/
Anonym. Memahami Psikologi Anak. 2 Januari 2017. http://duniaanak.org/perkembangan-anak/memahami-psikologi-anak.html
Anonym. Tahapan Psikologi Perkembangan Anak. 2 Januari 2017. http://duniaanak.org/perkembangan-anak/tahapan-psikologi-perkembangan-anak.html
S, Ernawulan. PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI (USIA 6-8 TAHUN). 2 Januari 2017. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PGTK/196510011998022-ERNAWULAN_SYAODIH/perk_anak__6-8_th_.pdf

Senin, 13 April 2015

0

One Day with Cute Doll

Diary Hari ke-11

“Boneka cantik... Buatan Db…boleh dilirik tak boleh dibawa…”
Temen-temen, kalian tau kan lagu itu? Itu lagu yang pas banget buat kegiatan DB kemarin.
Kalian tau engga kenapa? Karena kegiatan DB kemarin adalah “Membuat Boneka Kertas ala Kak Lifa” Horeeee…
Kemarin kegiatannya emang engga kalah seru sama hari-hari sebelumnya. Yaa walaupun judulnya membuat boneka, adik-adik maupun kakak-kakaknya semangat banget pada mau ikutan buat loh. Bahkan, sepertinya malah kakak-kakaknya yang jadi engga santai gitu berebutan minta bahan-bahannya buat bikin boneka. Mungkin kakak-kakaknyabmau berlomba membuat boneka cantik ituu. Hahaha… maklum saja, mungkin masa kecil kakak-kakak DB gak seindah adik-adik DB lainnya hehehe piss kakkk (^.^)Y
Eh iya temen-temen mau tau engga apa aja bahan untuk bikin boneka kertas? Nih nih karena aku anak baik, aku kasih tau deh :P
Bahan-bahannya itu ada kertas karton, kertas kado, kertas origami (kertas lipat), dan kertas kref. Nah kalau alat yang digunakan ada gunting dan lem. Simple, kan? (
Setelah alat dan bahan siap, kita semua dipimpin kak Lifa untuk buat bonekanya. Adik-adik DB dibantu kakak-kakaknya mengikuti kata-kata kak Lifa untuk membuat bonekanya. Seru banget loh!
Semuanya semangaaat banget bikin bonekanya. Adik-adik DB pinter-pinter banget bikin prakarya(((
Dan sekitar sejam kemudian, jadilah boneka kertas kita. Horeeeee! Lucu-lucu banget bonekanya. Unyu-unyu gitu :3 adik-adik dan kakak-kakaknya kreatif banget berkreasi sama bonekanya. Apalagi bonekanya kak Rifki jadi trendsetter banget gara-gara bonekanya kaya pak haji dipakein peci sama sorban loh hahahaha :D Boneka kepunyaan kak Jihan juga cantik dipakein kerudung jadi makin unyu :3
Karena terlalu asyik bikin boneka, engga terasa jam sudah menunjukkan pukul 5 sore lebih. Jadi, adik-adik DB harus segera pulang sebelum hari semakin gelap. Adik-adik DB senang banget sepertinya. Mereka segera menyimpan boneka buatan mereka sendiri ke dalam tas dengan sangat hati-hati gitu loh biar engga rusak bonekanya hehehe.
Pokoknya hari ini senaaaang sekali. Terimakasih banyak untuk kak Lifa udah kasih kita mainan baru horeeee...

Inilah kisahkuuu.... manaa kisahmu???

Salam sejuta cintaku

Desa Binaan FMIPA UNJ