Selasa, 02 November 2021

12

Masker Batik Tania karya Jihan Awaliya Hakim

Tania adalah seorang anak berusia delapan tahun. Tania belajar di kelas 3 Sekolah Dasar. Ia periang dan senang bermain dengan temannya.

Suatu ketika di hari Sabtu yang cerah, Bapak hendak mengajak Tania pergi ke luar untuk membeli buah-buahan. Bapak berkata, “Tania, ayo ikut!”

“Iya, Bapak. Aku mau ikut!” seru Tania. “Wah, kita mau pergi ke mana, Pak?” Lanjut Tania, masih dengan senyum riangnya.

“Bapak mau membeli buah-buahan segar di toko buah bersama Ibu. Hari ini Ibu ingin membuat jus jambu kesukaan kita, Nia!” jawab Bapak.

Tania senang sekali mendengar minuman kesukaannya akan dibuat Ibu. Ia juga semangat ingin segera pergi dengan Bapak dan Ibu. Tania akhirnya bersiap-siap untuk pergi. Ia mengganti pakaian dan merapihkan dirinya.

Sejak virus Korona (Covid-19) menyebar di Indonesia, semua warga yang bepergian ke luar rumah harus memakai masker. Bapak dan Ibu sudah siap dengan memakai maskernya. Namun, Tania belum juga memakai masker. Ia tidak mau memakai masker pelindung. Ia merasa panas dan tidak nyaman saat memakai masker. Bapak sudah membujuk dan merayu Tania untuk memakai masker. Ibu juga sudah memilihkan masker yang pas dan cocok untuk Tania. Sayangnya, Tania masih enggan untuk memakai masker.

Bapak khawatir jika Tania tidak memakai masker akan berakibat buruk bagi kesehatan Tania. Akhirnya, Bapak memutuskan Tania tetap di rumah bersama Ibu. Bapak pun pergi sendiri ke toko buah untuk membeli buah-buahan segar.

Melihat hal itu, Tania merasa kecewa. Ia menangis sejadi-jadinya di pundak Ibu. Ibu berusaha menenangkan Tania. “Tania, anak kesayangan Ibu...” ucap Ibu lembut sambil mengusap kepala Tania.

Dalam sendu tangisnya Tania berucap, “Ibu, kenapa sekarang kalau kita ingin pergi harus memakai masker? Tania mau ikut Bapak pergi ke toko buah. Tania tidak mau tinggal di rumah, Bu...” Ibu mengusap pundak Tania untuk membuat Tania tenang.

Tak berapa lama, Ibu mencoba memberi pengertian kepada Tania. “Nak, kamu pasti tahu banyak orang tua temanmu yang saat ini sedang dirawat sebab terkena penyakit dari virus Corona, bukan? Kita juga mendapat kabar Pakdhe Wiryo juga sakit terkena virus Corona. Kamu tahu kan, Nak?”

Tania mengangguk perlahan, tanda mengetahui. “Nah, itulah mengapa kita perlu memakai masker pelindung. Hal itu untuk menghindari kita dari terkena penyakit yang sama,” jelas Ibu.

“Memangnya kenapa kamu tidak mau memakai masker, Nak?” Tanya Ibu pada Tania.

“Aku sebenarnya tidak nyaman memakai masker itu, Bu. Wajahku terasa panas dan aneh saat bernapas”, jawab Tania perlahan.

“Ya, memang seperti itu, Nak. Kita memang merasa tidak nyaman pada awalnya. Ibu juga sama. Tetapi, lama-kelamaan kita jadi terbiasa,” ucap Ibu. Tania diam tanda mengerti. Ia mencoba menyerap nasihat dari Ibu.

Tidak berapa lama, Ibu berkata kepada Nia, “Bagaimana jika besok kita mencoba membuat masker kain dari jarik batik yang sudah lama tidak terpakai? Nanti ditambahkan dengan lapisan kain lembut di dalamnya agar tetap nyaman dipakai?”. Ibu tersenyum melihat Tania sambil menunggu reaksi anaknya.

Tak di sangka, Tania menyambut hangat ajakan Ibu dan menyetujui untuk membuat masker bersama. “Ya, Bu. Aku sangat senang membuat masker kain dengan Ibu. Ini pasti akan mengasah keterampilan Nia. Terima kasih banyak, Bu...” ujar Nia sambil menatap wajah Ibu. Ibu membalas ujaran Tania dengan senyum hangatnya.

Keesokan harinya, Tania bersama Ibu memilih jarik batik yang sudah lama tidak terpakai. Tania menemukan satu kain jarik berwarna hijau tua dengan hiasan motif batik dan bunga mawar putih keemasan. Kain jarik itu dulu sering digunakan Tania untuk bermain bersama teman-temannya. Tania menunjukkan kain itu kepada Ibu, ia ingin menggunakan kain ini untuk dimanfaatkan kembali menjadi masker. Ibu menyetujui keinginan Tania. Selain memilih kain jarik, Tania dan Ibu juga menyiapkan alat dan bahan lain yang diperlukan, seperti kapur tulis, tali ukur, benang, jarum, tali, dan kain halus untuk melapisi bagian dalam masker.

Proses pembuatan masker kain pun dimulai. Dengan tangan lihainya, Ibu mengukur panjang kain yang diperlukan dengan tali ukur dan menandainya dengan kapur tulis. Tania membantu menggunting kain untuk dijahit oleh Ibu. Ibu merapihkan guntingan kain yang dihasilkan Tania. Ibu mencobakan lebih dahulu kain hasil guntingan kepada wajah mungil Tania.

“Bagaimana, sudah pas belum, Nak? Tanya Ibu kepada Tania dengan sabar dan penuh perhatian.

“Sepertinya masih kebesaran, Bu. Terlalu lebar di wajahku, Bu...” ujar Tania pelan.

“Wah, iya, kamu benar, Nak. Oke, coba kita perkecil ukuran kainnya, ya!” balas Ibu.

Tahap demi tahap dilalui oleh Tania bersama dengan Ibu. Ibu menata dan menjahit kain jarik batik dan kain halus bersama-sama. Tania memperhatikan tangan Ibu yang menyusuri halusnya kain jarik batik dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Ibu dengan teliti menjahit kain. Kreativitas Ibu memang luar biasa. Hal inilah yang mulai tampak dalam diri Tania.

Beberapa waktu kemudian, Ibu selesai menjahit kain. Setelah jahitan masker rapih, Ibu menambahkan tali untuk melengkapi masker. Tania senang dengan hasil masker kain yang dia buat bersama ibu.

“Wah, bolehkah aku mencoba masker ini, Bu?” Tania bertanya dengan penuh antusias.

“Ya, boleh, dong! Masker ini kan Ibu buat untuk kamu, Nak...” jawab Ibu halus.

Tania tersenyum mendengar jawaban Ibu. Tania kemudian mencoba masker tersebut di depan cermin. “Wah, bagus sekali masker kain ini, Bu. Aku juga tidak merasa panas saat memakai masker ini.” Ujar Tania dengan matanya yang masih memandangi cermin. Ibu pun senang dengan sikap Tania.

“Bagaimana jika besok Tania belajar memakai masker saat pergi ke luar rumah?” Ibu bertanya sambil memandangi wajah mungil Tania.

“Iya, Bu. Tania mau mencoba. Aku tidak mau sakit, aku ingin sehat,” jawab Tania penuh keyakinan.

Dengan senyum syukur Ibu memeluk Tania. “Anak Ibu memang hebat!” ucap Ibu dalam pelukannya.

Keesokan harinya, Ibu mengajak Tania pergi ke warung Bu Nilam. Bu Nilam merupakan seorang pedagang sayur di dekat rumahnya. Sebelum pergi, Tania dengan riang gembira menggunakan masker kain yang kemarin dibuatnya bersama Ibu. Tak seperti kemarin, saat ini Tania mau memakai masker. Melihat hal itu, Ibu senang dengan sikap Tania. Masker kain itu pun menjadi masker kesayangan Tania.

**SELESAI**

Cerita Pendek karya Jihan Awaliya Hakim
Instagram: @jihan.awaliya

28

ZORI IN PANDEMI karya Srifitria Lestari

Disuatu hari yang cerah, terlihat seorang gadis remaja yang berusia 17 tahun sedang duduk di teras rumah sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan di masa ini. Masa ini ialah masa dimana sedang sulit - sulitnya dalam ekonomi, belajar, dan lainnya. Saat sedang memikirkan hal tersebut, tiba - tiba dia dikagetkan oleh seseorang yang tak lain ialah sahabat nya sendiri.

“hayo, lagi mikirin apa kamu?”. Tanya rani kepada gadis tersebut.

“ih kamu, bikin aku kaget aja”. Jawab gadis tersebut.

“ya habisnya kamu, melamun saja. Sampai - sampai saat aku panggil pun kamu tidak mendengarnya”. Kata rani.

“ya maaf, aku lagi memikirkan apa yang harus aku lakukan di masa pandemi ini”. Kata gadis tersebut.

“hmm, apa yaa”. Ucap rani sambil memperhatikan sekelilingnya.

“aku tau apa yang harus kita lakukan di masa pandemi ini yang bisa menguntungkan”. Ucap rani.

“apa tuh ran?”. tanya zoya.

“jadi kita bikin sesuatu yang bisa bermanfaat dan menguntungkan”. Ucap rani.

“ya apa tapi aniii”. Ucap zoya dengan gregetan.

“hehehe”

“hehehe lagi kamu”

“bagaimana kalau kita jualan yang lagi viral dan hits gitu. Rani pernah liat tu di toktik makanan yang lagi viral, tapi rani lupa”.

“hmm apa yaa?”

“kita buat video pembelajaran yang menarik untuk semua orang. Saat ini kita kan sekolah online, terus banyak sekali anak anak yang belum paham terhadap materi yang diajarkan oleh guru”.

“betul juga kamu ni, kita buat lalu kita upload di sosial media kita. Secara anak zaman sekarang lebih suka bermain sosial media.”

“nah betul tu zoy. Kita buat sebisa kita dan semenarik mungkin”.

“kalau begitu yuk lah kita buat sekarang”

Setelah beberapa lama mereka berdiskusi tentang apa yang akan dilakukan di masa pandemi ini. Akhirnya mereka sepakat untuk membuat video pembelajaran, agar semua anak di Indonesia bisa memahami materi dari yang telah diajarkan oleh guru mereka di sekolah. Rani yang tadinya hanya ingin main ke rumah zoya, malah ikut berpartisipasi dalam pembuatan video tersebut. Rani dan zoya mulai mencari beberapa tutor yang bisa menjelaskan secara singkat tentang materi yang diajarkan.

Mereka mencari lalu merekam, mengedit, dan menshare di seluruh sosial media mereka. Walaupun belum tentu 100 % berhasil, namun mereka tetap berusaha agar apa yang mereka lakukan bisa bermanfaat bagi semua orang.

“bagaimana ran, kamu kesulitan tidak dalam mengedit video ini?”. Tanya zoya kepada rani.

“hmm lumayan si zoy, ini agak ribet sedikit si di beberapa bagiannya”. Jawab rani.

Ya diantara zoya dan rani, rani lah yang pandai dalam hal edit mengedit ini. Sedangkan zoya iya juga pandai, namun tidak sepandai zoya jika mengedit. Zoya pandai dalam hal public speaking nya, sehingga dia mampu menarik beberapa tutor untuk ikut dalam pembuatan video pembelajaran singkat ini. Termasuk dirinya sendiri pun ikut andil dalam menjelaskan beberapa mata pelajaran yang dia pahami.

“baiklah kalau seperti itu. Jangan terlalu dipaksa ya ran, kalau sudah tidak ada ide lagi berhenti saja dulu, istirahat”. ucap zoya.

“iya zoy”. Tiba - tiba rani mengingat sesuatu yang seharusnya ditanyakan kepada zoya dari kemarin.

“oh iya zoy. Kita belum melihat bagaimana komentar orang - orang tentang video yang kita buat ini”. Ucap rani.

“eh iya ya. Ya sudah yuk kita lihat, aku juga penasaran nih”

Kemudian mereka melihat komentar dari semua orang yang melihat atau menonton video yang mereka buat. Ternyata video yang mereka buat alhamdulillah banyak sekali yang menyukai, dan banyak yang paham.

“waaaahhh zoyaaaa, video yang kita buat banyak suka”. Teriak rani saking senangnya.

“iya ran, alhamdulillah ya, ternyata banyak yang suka dan paham dari penjelasan video tersebut”.

“komennya juga bagus bagus, ada yang bilang tampilannya menarik, materi yang dijelaskan langsung ke intinya dan jelas, terus latihan soalnya juga keren”. Lanjut zoya.

“iya dong siapa dulu gitu yang ngedit hahaha”. Ucap rani dengan tawanya yang nyaring sekali.

“iya deh, sahabat aku ini pinter banget kalau udah urusan seperti ini”.

“eehh, kamu juga kok zoy pinter banget cari tutor nya, dan kamu juga pinter menjelaskannya”

“hahaha iya iya kita sama - sama pintar”.

“yuk kita lanjut lagi, makin semangat aku kalau gini”.

Akhirnya mereka pun melanjutkan kegiatan mereka. Mereka tetap berkreatifitas di bidang tersebut. Walaupun tidak seperti orang - orang diluar sana yang hasil kreativitasnya bisa dijual, mereka malah memilih berkreasi tanpa mereka dapatkan hasil yang berupa barang. Namun karya mereka menghasilkan, hasil yang bermanfaat di masa pandemi dalam dunia pendidikan.


Cerita Pendek karya Srifitria Lestari
Instagram: @Srifitriaaa

3

Semarak Prestasi karya Priska Khairunnisa

 “Huft bosan nih di rumah mulu” ujar Nisa, sahabatku yang cerdas; sholehah; cantik; tetapi bawel minta ampun. Aku yang sedang fokus mengetik naskah hanya terdiam mendengar celotehnya.

“Woi Rere, kok aku didiamkan terus sih dari tadi kayak jemuran aja” rengek Nisa. “Ya mau bagaimana lagi, ini sedang pandemi, kamu ingin tertular?” jawabku. “Tertular apa? Tertular cerdasnya kamu dalam membuat naskah?” ujarnya sambil tertawa. Aku hanya tergeleng sambil tertawa mendengar gurauannya.

“Biar tidak bosan, makanya yuk ikut lomba kayak aku” lanjutku. “Tetapi aku tidak punya bakat” jawabnya. “Bohong, kamu pernah menang lomba debat saat SMA” ucapku. Nisa seketika diam. Aku lupa bahwa dia ada pengalaman pahit dari kejadian itu. Ibunya meninggal saat dia lomba. Sejak saat itu, dia seperti anak yang bermalas-malasan padahal sebenarnya dia sangat cerdas bahkan bisa dikatakan genius.

Keheningan selama beberapa menit membuatku tidak tahan walaupun sebenarnya aku dari tadi butuh fokus untuk mengerjakan naskah. “Nis, kamu masih berpikir bahwa ibumu meninggal karena kamu ikut lomba? Semua bukan karena itu Nis, itu bukan salah kamu. Memang takdirnya saja” ucapku memulai percakapan kembali. “Semua orang bilang takdir, kamu belum tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang menjadi pendukungku selama ini. Lagian kalaupun sekarang aku ikut lomba sepertinya aku tidak bisa menang, aku sudah kehilangan doa terbaik dari ibuku” ucapnya lirih.

“Kamu salah, kamu tahu kan ada istilah bahwa kasih ibu sepanjang masa? Doa dan harapan baik untuk anaknya tetap terus mengalir meskipun raganya tidak lagi bersamamu. Percayalah ibumu pasti bangga melihatmu memenangkan lomba saat itu dan beliau pasti selalu ingin lihat anaknya sukses dan bahagia” ujarku, tetapi reaksi Nisa masih diam tak peduli. “Aku masih ingat ceritamu dilahirkan, bagaimana ibumu tetap gigih melahirkanmu padahal saat itu kamu didiagnosis oleh dokter tidak akan hidup atau kalaupun hidup hanya bisa bernafas sebentar. Aku yakin saat itu ibumu yakin bahwa anak yang diperjuangkannya itu akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Kamu tuh sebenarnya anak yang hebat banget Nis. Asal kamu tahu saja bahwa aku sangat terinspirasi olehmu. Melihatmu bisa tertawa, bercanda, mudah bergaul padahal hati dan perasaanmu sangat sedih dan hampa. Mungkin kalau yang kehilangan ibu itu aku, aku belum tentu seceria kamu. Bahkan aku saja selalu dikatakan si murung. Aku memang kurang cerdas bermain kata-kata dan ekspresi dalam lisan tetapi saat aku berpikir bagaimana bisa sepertimu aku menemukan cara untuk aku berekspresi dengan membuat naskah. Kamu tidak perlu ikut sepertiku membuat naskah, kamu bisa berkarya dengan caramu sendiri. Kemudian untuk masalah menang atau kalah dalam lomba memang hal biasa, tidak perlu dirisaukan, yang terpenting sudah coba” lanjutku yang cukup panjang sampai-sampai aku sebenarnya kaget sendiri mengapa bisa aku berbicara seperti itu.

“Wow tumben banget aku diceramahi olehmu” ucapnya sambil bercanda. “Tetapi, terima kasih sahabat, kamu sudah memotivasiku kembali. Benar katamu, baiklah aku akan mencobanya tetapi sebelum itu aku ingin tidur” lanjutnya sambil menarik guling di kamarku dengan cepat dan cekikikan. “Ah, kebiasaan kamu” teriakku kesal. Kemudian aku juga menyusul tidur disampingnya.

Kami memang tinggal bersama karena semejak ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dan tidak ingin mengurusnya. Syukurnya aku bisa membujuk ibuku untuk menganggap Nisa sebagai anaknya juga, mungkin karena ibuku hanya punya satu anak yaitu aku.

Esok harinya, aku terkejut karena Nisa sudah tidak ada di kamar. Kemudian, saat aku memeriksa telepon genggamku, aku melihat pesan dari seseorang tak dikenal. Pesannya berbunyi “Sudah kukatakan jangan semangati Nisa untuk lomba!!!”. Tiba-tiba aku teringat bahwa ayahnya Nisa lah yang membuat Nisa seperti itu. Kepalaku sangat pusing, aku bingung harus berbuat apa.

Beberapa lama kemudian ibuku datang ke kamar. Aku menangis. Ibu memelukku. “Besok kita laporkan kepada polisi sayang, saat ini belum bisa kita adukan anak hilang” ucap ibuku berusaha menenangkan.

Aku menenangkan diri dengan membuat konten. Beberapa jam kemudian, ada telepon dari nomor luar negeri. Awalnya kupikir itu telepon salah sasaran. Namun, nomor tersebut beberapa kali telepon sehingga akhirnya kujawab. “Halo Re” salam si penelpon. Aku terkejut karena seperti suara Nisa tetapi aku tidak ingin asal memberi kesimpulan, aku memutuskan untuk menunggu konfirmasi darinya. “Ini aku Re, Nisa” lanjutnya. “Halo Nisa, bagaimana bisa tiba-tiba seperti ini? Bagaimana ceritanya? tanyaku. “Aku hanya berteman denganmu dan Jonny, tetapi saat orang-orang dari ayahku ingin menculikku aku khawatir bila menghubungimu akhirnya aku menghubungi Jonny tetapi agar tak terlacak aku meminjam telepon genggam orang lain dan menghubungi Jonny kemudian Jonny menyambung ke kamu. Aku hanya ingin mengelabuinya. Aku tidak mungkin ke luar negeri hanya dalam beberapa jam kecuali aku punya pintu kemana saja punya doraemon1” jelas Nisa. “Syukurlah kamu tidak apa-apa, kamu sekarang dimana?” tanyaku cemas. “Kamu bersyukur tetapi masih khawatir” ucapnya sambil tertawa. “Bisa-bisanya kamu tertawa?!” kesalku. “Tenang saja, aku akan kembali, kamu tak perlu khawatir” ucapnya dan ia pun langsung menutup teleponnya.

Pukul 22.00 WIB dia belum kunjung kembali. Ibu menyuruhku tidur. Namun, aku sulit memejamkan mata. Namun, akhirnya aku tertidur juga karena ibu menyetel lantunan ayat suci.

Pagi harinya, ada suara bel berbunyi. Ibu dan aku bingung siapa yang bertamu di pagi hari seperti ini. Akhirnya kami mengintip dari jendela. Kami terkejut melihat banyaknya kumpulan anak datang ke rumah kami. Kemudian, terdengar suara Nisa yang cempreng itu. Akhirnya kami membuka pintu. “Maaf Bu aku kesini membawa banyak orang tanpa mengatakan sebelumnya, tetapi mereka telah aku fasilitasi masker dan kusuruh mencuci tangan di depan Bu” ucap Nisa. “Iya tidak apa-apa Nak, selama tetap menaati protokol kesehatan ya” jawab ibuku. “Ada apa kamu bawa banyak orang Nis? Kamu mau mengadakan pesta ulang tahun?” tanyaku sambil bercanda. “Aku ingin kita ikut lomba Re dan membagikan pengetahuan atau pengalaman yang kita punya dengan memfasilitasi anak-anak yang keterbatasan biaya untuk belajar” jawab Nisa. “Bagaimana dengan ayahmu? Kamu akan terus diteror olehnya” ucapku gelisah. “Ayahku beserta anak buahnya telah ditangkap, maka aku sudah aman. Aku baru tahu sebenarnya yang terjadi mengapa ayahku begitu memaksaku untuk tidak berprestasi, kreatif dan hal-hal membanggakan lainnya” jawab Nisa. “Sudahlah cerita ayahku tidak penting, tetapi aku tidak ingin banyak orang seperti ayahku, maka saatnya kita harus membangun kreatifitas banyak anak muda, kita perlu bentuk komunitas, mulai dari komunitas kecil di lingkungan kita ini saja, baru nanti bisa kita perluas secara daring” bujuk Nisa. “Ibu bangga padamu nak, biar makin semangat belajar dan berprestasi tunggu pisang goreng buatan ibu ya” ujar ibuku semangat setelah mendengar niat baik dari Nisa. Aku pun tersenyum bangga mendengar ucapan sahabatku itu.

Ditengah-tengah diskusi dan belajar bersama, aku bertanya “Apa nama komunitas kita?”. “Semarak prestasi?” saran Nisa. “Wah, ide bagus” jawabku antusias.

Setelah beberapa bulan berjalan, komunitas semarak prestasi telah membantu ratusan orang untuk berkembang, berproses, belajar, berkarya, dan berprestasi bersama di masa pandemi. 


Cerita Pendek karya Priska Khairunnisa
Instagram: @priskakhair2002

9

RAMPAS karya Hana Farhani Maulida

Aku menarik napas berkali-kali. Meneguhkan hati untuk tabah, walau kutahu sungguh tak mudah. “Terima kasih banyak, Kak Nara.” Anak itu mengucapkannya dengan begitu tulus. Tidak terdengar lewat telinga, tetapi sampai ke hati.

Pandemi sudah enam bulan berlalu dan situasi ini merupakan masa yang sulit bagi siapapun. Aku sudah mendengar kabar duka dari beberapa kawan, tetangga, dan kerabat jauh. Syukurlah, keluargaku masih terbebas dari virus ini. Selama enam bulan ini, aku benar-benar tidak pergi kemana pun. Mama dan Papaku memberiku fasilitas yang sangat cukup bagiku untuk menjalani segala aktivitas di rumah. Hal itu juga karena mereka pun harus bekerja secara daring dari rumah. Mereka bersikap tegas di situasi pandemi ini.

Sebelum pandemi, aku tak memiliki banyak aktivitas. Fokus utamaku hanya kuliah. Aku bahkan tidak mengikuti organisasi selain yang diwajibkan oleh kampusku. Tentu saja hal itu kulakukan sekadar formalitas. Namun enam bulan di rumah membuatku benar-benar merasa terpenjara. Aku sudah membaca begitu banyak buku, menonton seluruh serial Netflix, dan mendengarkan lagu-lagu baru yang sebagian besar tidak cocok untuk telingaku. Namun semua itu tidak berhasil memudarkan rasa bosanku karena terpenjara di rumah.

Maka dari itu, aku berusaha memohon kepada kedua orang tuaku untuk mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakan oleh BEM kampusku. Aku hendak mendaftar menjadi relawan. Awalnya mereka tentu saja menolak.

“Ini situasi yang rumit, Ra. Kamu dengar kan berita kematian di luar sana? Kami gak mau namamu ada dari sekian banyak statistik kematian akibat dari pandemi ini,” ujar Papa dengan tegas sewaktu aku pertama kali mengutarakan maksudku. Mama mengangguk setuju.

Meski mereka sangat tegas, tetapi mereka juga orang tua yang demokratis. Setelah berkali-kali aku mengutarakan keinginanku, menjelaskan bagaimana konsep kegiatan, termasuk peraturan protol kesehatan yang harus ditaati, mereka akhirnya menyetujui pilihanku.

“Kamu memang sangat keras kepala. Persis seperti Papamu.” Mama melirik kepada Papa.

“Kami mengizinkanmu. Namun akan ada beberapa peraturan baru di rumah yang harus kamu patuhi,” lanjut Mama. Setelah Mama mengungkapkan beberapa peraturan baru itu disertai beberapa pertanyaan dariku, kami akhirnya menyepakati itu.

“Doain Nara, ya, Pa, Ma.”

Agenda pengabdian masyarakat yang kami lakukan adalah mengajar anak-anak sekolah yang terdampak pandemi di pinggiran kota. Lokasinya berada di sebuah taman yang ditutup selama pandemi. Kami mengajar setiap akhir pekan agar tak menganggu aktivitas kuliah. Hari Sabtu untuk jenjang SD dan hari Minggu untuk jenjang SMP dan SMA. Aku ditugaskan untuk mengajar anak SD. Kegiatan dilakukan di ruangan terbuka, maka seharusnya aman. Tentunya kami tetap memakai masker. Tempat cuci tangan juga tersedia di mana-mana. Siswa yang hadir pun terlebih dahulu didata agar tidak melebihi kapasitas. Mereka yang terdata adalah anak-anak yang bersekolah, tetapi kurang mampu.

Pada hari pertama aku menjadi relawan, aku masih cukup kaku. Namun semangat anak-anak itu ternyata mampu mencairkan kegugupanku. Kami berdoa, belajar, dan bermain bersama. Di akhir pertemuan, para relawan memberikan mereka vitamin dan sekotak susu. Mereka sangat senang.

“Makasih, Kak. Permennya enak banget!” ujar salah satu dari mereka.

“Yeh, kocak! Bukan permen kali, itu namanya vitamin. Gak pernah makan vitamin, sih!” ujar yang lainnya menanggapi.

“Kayak yang sendirinya pernah aja!”

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa tipis menyaksikan pertengkaran kecil mereka. Anak-anak di sini cukup nyablak dan selama tidak berlebihan, kami menganggap itu hal yang wajar. Meskipun jika ada anak-anak yang berkata kasar, tentu saja kami langsung mengingatkan mereka.

Saat agenda hari ini sudah berakhir dan kami tengah bersiap-siap pulang, aku tak sengaja melihat seorang anak berdiri di depan taman. Aku berpikir dia adalah anak yang datang terlambat.

“Hei, nama kamu siapa? Kenapa baru datang jam segini?” tanyaku.

“Aku Adam. Maaf, Kak.” Ia menjawab dengan terbata-bata.

“Kelas 1, ya?” tanyaku. Ia mengangguk dengan ragu.

Aku menjelaskan kepadanya bahwa pembelajaran hari ini sudah selesai dan kami sudah bsersiap-siap pulang. Aku pun memintanya untuk datang di minggu depan pada pukul 8 pagi.

“Jangan telat, ya, Adam.” Aku mengingatkannya. Aku juga memberikannya vitamin dan sekotak susu yang masih tersisa. Adam sangat senang dan berterimakasih. Ia kemudian pamit pergi.

Pada minggu selanjutnya, aku kembali bertemu dengan mereka, anak-anak yang menyenangkan. Hari ini kita tidak akan belajar mata pelajaran sekolah, kita akan menghafal doa kegiatan sehari-hari. Pertama-tama, aku memeriksa kehadiran anak-anak. Semuanya lengkap.

Setelah pertemuan hari itu usai dan kami bergegas pulang, lagi-lagi aku bertemu dengan Adam sedang berdiri ragu-ragu di dekat kami. Aku menghampirinya.

“Adam, kenapa telat lagi?” tanyaku. Ia hanya menggeleng.

“Kamu pasti cuma mau vitamin dan susunya aja ya tapi gak mau belajar? Hayo!” timpal Fani, rekanku. Adam hanya menggeleng.

“Maaf, Kak,” ujar Adam pelan.

Hari itu akhirnya memutuskan untuk menemani Adam belajar sementara rekan-rekanku pulang. Mereka mengingatkanku agar tidak terlalu lama karena mereka khawatir orang tuaku akan marah jika aku pulang terlambat. Beberapa saat kemudian, di taman hanya tersisa aku dan Adam. Aku melihat Adam sama sekali tidak membawa buku dan alat tulis. Akhirnya aku memberikannya. Aku berpikir ia lupa membawanya.

“Oke, Adam! Sekarang kita akan belajar membaca doa sehari-hari. Doa apa yang Adam hafal?” tanyaku. Adam menggeleng.

Kemudian aku menuntunnya untuk membaca dan menghafalkan beberapa doa, seperti doa makan, doa tidur, dan doa belajar. Aku membacakannya dan aku meminta ia mengulanginya. Aku bacakan beberapa kali dan hebatnya Adam dapat menghafalnya dengan sangat baik.

“Wah, Adam keren banget! Ini hadiah untuk Adam.” Aku memberikan vitamin dan susu untuk Adam. Ia menerimanya dengan senang hati.

Selanjutnya aku pun bersiap untuk pulang. Aku mengajak Adam untuk keluar bersama, tetapi Adam menggeleng. Mungkin ia masih ingin bermain-main sebentar di taman. Taman ini juga tidak terlalu jauh dari pemukiman warga, yang mungkin dekat dengan tempat tinggal Adam. Aku mengingatkannya agar tidak pulang terlalu siang, kemudian aku segera pulang.

Minggu selanjutnya, aku melihat Adam sudah tiba di taman sangat pagi, bahkan sebelum para relawan tiba di taman. Aku mengapresiasi semangatnya. Ia pun tak segan membantu kami untuk menyiapkan beberapa peralatan yang diperlukan. Ia memang anak yang sangat baik dan patuh, meski agak sedikit murung. Minggu-minggu selanjutnya ia selalu datang di waktu yang sama dan membantu kami.

Waktu berjalan tanpa terasa. Kegiatan pengabdian kami berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Aku sangat beruntung bisa mengambil peran di sini.

Suatu waktu, di saat aku sedang mengajar, tiba-tiba Mama meneleponku dan mengabari bahwa Bi Yati, asisten rumah tangga kami positif COVID. Mama memintaku segera pulang untuk melakukan tes PCR (Polymerase Chain Reaction). Aku berusaha menjelaskan kepadanya bahwa agendaku belum selesai. Namun kepanikan telanjur menguasainya. Akhirnya di tengah mengajar, aku pun pulang dengan terburu-buru.

Sesampainya di rumah, ternyata sudah ada dokter dan perawat dari rumah sakit tempat kami biasa berobat. Bi Yati sudah dibawa ke wisma atlet untuk melakukan karantina. Aku pun segera dites. Kata Mama, kemungkinan tertular saat pergi ke pasar. Positifnya Bi Yati membuat Mama melarangku untuk pergi kemana pun. Aku cukup sedih, tetapi tak bisa menolak. Sebab, ini semua demi kebaikan bersama.

Siang itu kami begitu panik dan cemas menunggu hasil tes yang baru keluar dua hari kemudian. Aku juga merasa lebih lelah dari biasanya. Aku langsung tertidur setelah dites dan baru terbangun pada keesokan harinya. Saat hendak memeriksa ponsel, aku tidak berhasil menemukannya. Mama dan Papa mencoba menghubungi, tetapi ponselku mati. Setelah aku mengingat-ingat, sepertinya ponselku tertinggal di taman saat aku terburu-buru pulang. Aku pun menghubungi temanku lewat ponsel Mama. Aku menjelaskan terkait kondisiku dan bertanya terkait ponselku yang tertinggal.

“Kemarin pas beres-beres kita gak liat ponselmu, Ra.”

Aku menghela napas. Ponselku benar-benar hilang. Mama menyayangkan kecerobohanku, tetapi karena di masa seperti ini ponsel telah menjadi kebutuhan primer, mau tak mau orang tuaku langsung membelikanku ponsel baru. Kami memesannya secara online, dan ponselku baru akan datang beberapa hari kemudian.

Keesokan harinya, Papa menerima surat hasil tes PCR lewat surel. Hasilnya kami semua negatif. Kami sangat bersyukur dan menjadi lebih tenang. Kami juga mendengar kabar Bi Yati yang keadaannya sudah semakin membaik.

Namun tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara ketukan pintu dan diiringi bunyi sirine. Mama membukakan pintu, lalu memanggilku. Ada polisi yang mencariku.

“Apakah benar ini ponsel milik Anda?” tanya polisi sambil menunjukkan sebuah ponsel yang telah ditaruh ke dalam plastik dan benar itu adalah ponselku. “Baik, kami butuh keterangan saudari sebagai saksi,” lanjutnya. Kami semua sangat kaget.

Akupun dibawa ke kantor polisi. Mama dan Papa ikut menemaniku. Polisi memberiku begitu banyak pertanyaan. Aku menjawab dengan jujur sebagaimana yang kuketahui. Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, aku sangat lemas. Ketika Mama dan Papa menanyaiku, aku tak bisa menjawab pertanyaan mereka. Aku pun tak dapat mengingat semua yang polisi tanyakan. Aku sungguh terkejut.

Satu hal yang kupahami, ada seorang anak yang dibunuh oleh preman di taman di tempatku mengajar. Polisi menduga preman membunuh anak itu karena ingin merampas ponselnya, yang ternyata merupakan ponselku. Preman itu kini telah ditangkap.

“Mbak Nara, mari kita lihat jasad korban,” ujar polisi yang tadi mewawancaraiku. Aku menurut.

“Ra, kamu yakin mau melihat jasadnya? Kalau kamu mau menolak, biar Papa yang berbicara.” Papa mencoba memastikan keadaanku.

“Pa, aku harus tahu anak itu. Siapa tau aku bisa membantunya.”

Kami pun pergi ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari kantor polisi. Tempat di mana jenazah anak itu berada. Saat kami hendak memasuki ruang jenazah, tiba-tiba polisi lain menghampiri.

“Lapor, Pak! Kami menemukan barang bukti baru berupa buku tulis di TKP.” Polisi itu menunjukkan sebuah buku tulis yang tidak bersampul. Aku agaknya mengenali buku tersebut, tetapi tidak mungkin. Pasti banyak anak yang memiliki buku seperti itu. Aku yakin anak ini bukan seseorang yang kukenali. Aku berharap begitu. Namun tiba-tiba aku meminta kepada polisi untuk melihat buku tersebut.

Polisi pun membukakan lembar demi lembar dalam buku itu di dekatku. Aku sangat kaget dengan isinya. Ya Tuhan, aku sangat mengenali buku ini. Aku segera mendesak masuk ke ruang jenazah untuk membuktikan bahwa dugaanku salah, tetapi saat itu sungguh perasaanku sudah tidak karuan.

Saat polisi membuka kain jasad anak itu, aku benar-benar langsung terjatuh dan terisak dengan sangat kencang. Aku sangat mengenali siapa anak ini. Aku memeluk Mama dengan sangat erat.

“Anak ini adalah pengamen yang selalu bermalam di taman itu. Lokasi itu memang cukup rawan dengan preman di malam hari. Dugaan kami, preman itu berusaha merampas ponsel yang dipegang anak ini. Namun, karena ia menolak, ia akhirnya dibunuh oleh preman itu.” Polisi menjelaskan dugaannya kepada.

Aku sungguh terkejut.

Anak itu adalah muridku. Aku sungguh baru mengetahui bahwa ia merupakan pengamen dan tidak memiliki tempat tinggal. Bahkan mungkin ia tidak pernah sekolah. Ia mengaku padaku bahwa ia bersekolah mungkin hanya agar ia dapat belajar bersama kami. Aku sungguh tidak percaya dengan segala yang kulihat dan kudengar. Selanjutnya, semuanya menjadi kabur.

**

/halaman pertama/ adam kelas 1.

/halaman kedua/ doa makan, doa tidur, dan doa belajar, diiajari Kak Nara

/halaman ketiga dari akhir/ adam seneng bisa belajar

/halaman kedua dari akhir/ hp kak nara ketinggalan, Adam balikin minggu depan.

/halaman terakhir/ terima kasih kak nara bidadari

**

Anak itu baru saja memulai mimpinya, tetapi realitas merampasnya dengan begitu tega.


Cerita Pendek karya Hana Farhani Maulida
Instagram: @hanafm24s

14

AKU SAMPAI karya Amira Zahra Azhari

Perkara nasib memang tidak ada yang tau. Aku bujangan yang sedang kehilangan. Hilang langkah, arah, semangat, gairah, bahkan tak ada emosi. Perlahan menyusuri jalan setapak yang becek karena genangan air. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang pengangguran. Disepanjang jalan, nyatanya tak ada yang menyapa, entah aku yang kurang bergaul atau mereka yang tak mau tau si orang miskin ini. Tinggal digubuk yang sempit dengan udara lembap didalamnya.

Sampai dirumah yang disebut gubuk ini, aku melepaskan sepatu usang dan menuju sebuah ruangan sekat bambu yang dinamai kamar, bahkan aku sangsi jika orang menganggap ini kamar. Berbaring diatas kasur lapuk dan helaan napas menjadi satu-satunya suara yang kukeluarkan sejak 4 jam yang lalu, terlalu lelah akan hidup.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar,,, Allahu Akbar, Allahu Akbar” suara adzan maghrib mengusik tidurku, pejaman mata memang menjadi obat dari segala lelah. Terduduk diatas kasur untuk pengumpulan nyawa.

Didepan pintu kamar, ada ibu disana, berdiri dan tersenyum lembut kepadaku seraya berkata “sholat nak, kemasjid gih”. Mendengar itu aku membalas senyumannya dan bangkit dari kasur, bersiap untuk ke masjid. Setidaknya ada sepucuk gairah untukku hidup, ibu.

Masjid sudah bisa sholat berjamaah sejak seminggu yang lalu, walau ada jarak tetapi disini aku merasa bahwa aku masih menjadi bagian dari manusia, tak ada beda dengan yang lainnya. Selesai sholat, tanpa basa-basi aku langsung keluar dari masjid dan pulang.

Disepanjang perjalanan menuju rumah, yang biasanya aku mendengar hiruk pikuk perkotaan, kini cenderung sepi. Jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang terasa sangat menyeramkan dikala pandemi.

Sekelebat bayangan hari ini datang dalam pikiran, aku si anak miskin dihina didepan publik. Mereka yang mengaku orang terpandang, tetapi memandang orang saja tak bisa. “Punya apa kamu melamar disini? ijazah SMA, gaada kelebihan apa apa. Sampah masyarakat tempatnya bukan disini”, itu kata dia waktu aku memberikan pesyaratan melamar kerja. Entah sudah keberapa kalinya seperti ini, menjadi bahan tontonan. Menyedihkan.

Sampai dirumah, hal pertama yang kulakukan yakni tidur. Makan malam pun khayalan saja, tak ada apa-apa yang bisa dikunyah. Sepertinya ibu pun sudah terlelap, jadi aku ingin melanjutkan skenario hidup dalam mimpi saja, setidaknya mimpi tidak mengecewakan. Maaf bu, anakmu belum bisa memberikan apa-apa.

_________________________________________________________________________

Silau, mataku terbuka, ternyata sudah pagi. Berjalan keluar kamar dan duduk diatas dipan, menyapa matahari yang masih mau menyambutku. Berfikir dan berfikir, hari ini apa yang bisa kulakukan?, semua perusahaan dan toko yang memerlukan pekerja sudah kusambangi. Memang susah sekali mencari kerja dengan ribuan pelamar lainnya, sedangkan aku tak ada apa apanya .

“Nak, jangan bengong” tersadar dari lamunan, ibu duduk disampingku.

“Ga bengong bu, cuma bingung. Cari rezeki dimana lagi ya, lagi pandemi begini gaada yang mau nerima” ucapku dengan cemas.

Ibu cuma tertawa renyah “Nak, rezeki udah ada yang ngatur. Pergilah hari ini kemanapun, ikuti langkah kaki. nanti akan sampai” aku hanya mengangguk.

Mandi, bersiap dan mencoba tegar akan keadaan. Hari ini nampaknya matahari terlalu bersemangat, panas menyengat. Entah kemana langkah kaki ini berjalan, hanya dinikmati saja. Berjalan sambil memegang map berisikan cv dan ijazah.

Kususuri jalan ibukota, mungkin ada yang mau menerima pekerja.

Hampir seharian penuh melangkah, ternyata hari ini pun sama, tak ada hasil yang kubawa pulang. “Assalamualaikum bu” ucapku dari depan pintu, kuhampiri ibu dikamar. “Bu, aku gagal” ibu hanya tersenyum, “gapapa”. Aku kecewa, entah yang keberapa kalinya.

__________________________________________________________________________

Hari-hari berlalu, semenjak lulus, kegagalan menjadi sahabat. “Bu, aku gagal” “Bu, aku gagal” “Bu, aku gagal” hanya kalimat itu yang selalu aku sebutkan. Sedih,, jujur. Lelah, sangat. Apakah harus ku akhiri hidup?.

Selama pandemi ini, dari pengeras suara masjid selalu terdengar “innalillahi wa innailahi rojiun”, apakah aku harus menyusul?.

Menetes air mata, kucuran air tak bisa membuatku kembali menjadi semula. Kata motivasi menjadi angin lalu rasanya. Semua hal seakan kebohongan belaka. AKU BENCI!.

Semua pikiran jahat lewat, “haruskah aku mencopet?” “atau aku maling saja?” “bisa apa manusia ini?” “sampah masyarakat yang dibilang mereka benar”.

“hiks, hiks ARGHHHH!” pecah sudah pertahananku. Diotakku hanya berputar “Ibu ingin aku sukses, ibu ingin aku berhasil” berulang kali. Tolongg!! Aku sekarat.

Keluar kamar mandi dengan keadaan basah kuyup, mata sembab dan hidung merah. Berlari dengan kencang tak tau arah. Bahkan sempat terpikir untukku menabrakkan diri.

“Brukk” benar saja aku terjatuh, dilhat anak kecil dan ditertawakan. “HAHAHAHAHA, bangun om, cengeng banget udah gede nangis” salah satu anak itu mengejek. Bukannya bangun, akau malah semakin mennundukkan kepala diaspal dan menangis sekencang mungkin. Kepalan tanganku seolah memiliki tenaga sangat kuat untuk menghantam aspal, aku tak mau menyakiti mereka.

“HEH!, pergi pergi, orang jatoh kok bukannya ditolongin malah diketawain” teriak seorang nenek.

“Bangun nduk” sembari memegang lenganku dan membawaku kesebuah rumah, yang ku tau ini rumah beliau dan aku didudukan diatas kursi. Nenek itu tetanggaku, seorang janda yang ditinggal suaminya baru ini karena virus.

“duhh itu tangannya berdarah, siniin” dengan agak kasar, nenek itu memegang tanganku dan membersihkan luka dengan tissue. “kenapa sih lari-lari, kan jadi jatuh” ucapnya, aku hanya memasang wajah datar.

“Nenek itu kenal sama ibu kamu, dia juga sering cerita sama nenek. Anak bujang satu-satunya gabisa dia nafkahin dengan baik, dan malah membebani kamu” kata nenek. “ibu gaperlu nafkahin nek, yang harusnya nafkahin keluarga si brengsek itu” wajar bukan jika aku marah.

Nenek hanya menghela napas, mungkin bingung ingin bicara apalagi, beliau tau berantakannya keluargaku. Akhirnya aku yang buka suara “Dari awal lulus sampai sekarang, aku cuma ngasih ibu kegagalan nek. Sial banget hidupku”. “Hushh, kalau ngomong gaboleh gitu, belum rezeki namanya” gebukan ringan kudapat dibahu darinya.

Hening menyelimuti sesaat, aku hanya menyesap teh hangat yang disediakan dan beliau kembali kebelakang.

“Ndukk!!, bisa benerin mesin cuci nenek? Rusak sepertinya” Teriaknya dari dalam. Kuhampiri beliau, lalu kulihat mesin cuci usang itu, ternyata benar tidak jalan. “sini kubenerin” ucapku lalu sedikit menggulung kemeja. 2 jam berlalu, mesin cuci itu kembali menyala.

“Cah pinter, Terima kasih ya… gaperlu encok lagi orang tua ini buat nyuci” aku tersenyum samar, ada bahagia tersendiri.

“kamu kenapa ga buka servis aja nduk?” tanyannya, “ilmuku belum cukup nek, lulusan SMA aja” ucapku sangsi. “Ya belajar!! Kreatif dikit. Anak jaman sekarang maunya instan aja, cari kerja, kerja, digaji. Kenapa ga bikin usaha sendiri” aku tercengang. “Betul, aku suka otak-atik mesin, kenapa tidak kukembangkan” ucapku dalam hati.

Tanpa pamit, aku pulang kerumah yang jaraknya mungkin hanya satu kilo dari rumah nenek, nenek hanya tertawa sedikit dan memaklumi “hahh anak baik”.

Pulang kerumah, lalu membuka handphone keluaran lama, yang sudah retak tapi masih bisa berguna. Kucari semua situs mengenai mesin elektronik, mulai dari televisi, handphone, kulkas, laptop dan lainnya.

Kutulis semua hal penting yang kupelajari, mulai dari listrik yang terambung, processor, alat-alat elektronika dan lain sebagainya. Hampir satu minggu tanpa henti kupelajari semua, tak kenal pagi, siang, sore ataupun malam. Membuka modul pembelajaran, ikut kelas gratis dan lainnya. Soal bagaimana aku mendapatkan internet, aku pergi ke belakang café free wifi lalu mengunduh semua bahan materi. Hahahaha, menyenangkan ternyata.

__________________________________________________________________________

Seminggu berlalu, sekarang waktunya eksekusi. Kembali mencari cara untuk penjualan jasa, ada dua cara yang kupikirkan, satu buka jasa dirumah, kedua menjemput bola. Aku lebih memilih menjemput bola. Karena dimasa pandemi ini tidak mungkin orang dengan bebas keluar rumah.

Kupakai kalung papan bertuliskan “JASA SERVICE ELEKTRONIK”. Keliling menyusuri perkampungan tempatku tinggal, bahkan sampai ke beberapa kampung kecil yang kusambangi. Alhamdulillah semua membuahkan hasil, hari ini 4 rumah yang kubantu untuk membetulkan barangnya. Dengan upah seikhlasnya, hampir dua ratus ribu kupegang dengan bahagia.

Malam tiba, watunya untuk pulang. Berlari memasuki rumah mencari ibu, ternyata ibu disana, duduk diatas kasur dengan mukenanya, cantik. Berlutut dibawa kasur didepan ibu “Bu, aku dapet rezeki…doakan aku selalu ya bu, supaya bisa beliin ibu rumah yang layak, beli pakaian, makan enak” Tersedu kumenangis. Ibu tersenyum “Kamu anak yang luar biasa, jangan batasi langkah, dan jangan lupa ibadah” akan kuingat nasihatnya.

_________________________________________________________________________

Sudah sebulan lamanya aku mengulang rutinitas yang sama, pergi ke beberapa kampung dan membantu orang-orang yang kesulitan untuk memperbaiki barang elektroniknya. Hampir beberapa juta kusimpan ditabungan plastik untuk investasi nantinya.

Sepulang keliling, aku menyambangi rumah nenek dengan membawa martabak kesukaan beliau, ya, coklat keju. “Assalamualaikum nekk” ucapku riang. “Waalaikumussalam” balasnya.

“duh repot-repot, makin kurus aja kamu nduk” sebegitu perhatiannya beliau kepadaku, kemana saja aku selama ini. “nek, nek, aku mau buka toko aja. cape keliling. Uangnya udah cukup buat sewa” keluhku, “nahh gitu dong, kembangin terus, jdi anak kreatif inovatif kalau kata orang di tivi hahahahaha” aku ikut tertawa.

Kini, aku sudah punya toko sendiri. Tak perlu susah untuk keliling, hanya perlu mengangkat telfon lalu kusambangi rumah itu, juga ada beberapa orang yang datang membawa barang elektroniknya untuk diinapkan ditokoku.

Tak ada perjuangan yang sia-sia. Setiap hari aku selalu meminta doa kepada ibu, selalu mendapatkan senyumnya, selalu menjadi alasanku untuk berjuang. Hampir dua bulan ini aku sudah jarang pulang kerumah, lebih sering menginap ditoko untuk membenarkan barang dan juga ada beberapa pekerja yang sekarang membantuku.

Keesokan harinya, ada seorang pelanggan setia yang selalu membenarkan barang elektroniknya disini, dan selalu puas akan kinerjaku. Dia mengajakku untuk berbincang sebentar katanya, ingin membicarakan suatu hal penting.

Disinilah aku sekarang bersama dia, didalam café yang terlihat mahal, bahkan aku yang dulu saja hanya berkhayal bisa masuk kedalam sini. “Jadi gini mas, saya berencana mau buat bisnis start up, apalagi sekarang teknologi mulai berkembang dan tergantikan dengan mesin semua. Saya mau modalin buat kembangin bisnis service ini lebih besar lagi dengan inovasi terbaru.” Jelasnya. Diotakku hanya ada kata “BAHAGIA” akhirnyaa!!. Kami berdiskusi panjang dan mendapatkan keputusan. Aku yakin bisnis ini akan berjalan dengan lancar. Semoga.

Aku berlari pulang kerumah, tanpa melepas sepatu kuteriak “IBUUU !!! BUU ANAKMU INSYAALLAH SUKSES BUU!!” “BUU!!” “IBUU DIMANA?!” Aku heran, kok ibu siang ini tidak ada dirumah.

Kuberlari sambangi rumah nenek “Assalamualaikum NEKK!!”, “Waalaikumussalam, ada apa sih teriak teriak?!” kesalnya.

“Nekk, tokoku akan berkembang nekk, ada inverstor yang mau modalin. aku akan bekerja lebih keras supaya jadi orang sukses” nenek menangis mendengarnya, tak kusangka aku bisa sampai dititik ini.

“ibu kok gaada ya nek? Aku mau bilang ibu nek” tapi nenek malah semakin menangis.

“Nekk kenapa? Ibu dimana?? Nekk !! JAWAB!” Aku marah, disaat seperti ini ibu malah tidak ada.

“NDUKK! Kamu yang harusnya sadar!!” Teriaknya, “Ibu kamu udah ngga ada!!” “SADAR NDUK SADAR! Hikss…” ucapnya sambil menggebuk-gebuk tanganku.

Seolah aku ditarik kembali ke memori dimana ibu berada di brangkar rumah sakit dengan alat yang menempel disekujur tubuh. Kala itu hanya tangisan keras takut kehilangan satu-satunya keluarga dihidupku, seorang anak yang masih duduk dikelas VII SMA.

“Nak, jangan nangis… ibu disini dan akan selalu ada disini. Jangan takut. Dunia tidak semenyeramkan itu, ada ibu” ucapnya terbata.

“tapi aku gagal terus bu, gabisa bahagiain ibu, gabisa kayak anak-anak lain hiks…” aku jatuh dan kembali jatuh.

“Kamu itu bahagianya ibu, Terima kasih ya nak… ibu disini, jangan merasa terus gagal, nanti akan sampai”, lalu kardiograf berbunyi nyaring, tanda ibu meninggalkanku. Hilang harapan saat itu. Tapi ibu tak berbohong, dia selalu ada bahkan hanya bayangan saja.

Sekarang aku hanya ingin bilang “Ibu, Aku sampai”.


Cerita Pendek karya Amira Zahra Azhari
Instagram: @mirazahra_

72

Akhirnya karya Luthfiyyah Azzahra

Kehilangan, satu kata yang sebelumnya tidak pernah begitu menyesakkan bagiku. Tetapi semuanya berubah saat kejadian itu terjadi. Tepat lima tahun yang lalu bayang-bayang kehilangan dan menghilang terpampang jelas didepan pandangan. Saat itu, pagi hari di bulan Mei. Matahari menerpa wajahnya seakan-akan dia bercahaya. Cantik, “Cia” panggilan untuk anak perempuan pintar yang sedang menyapaku dari kejauhan. Ceria seperti biasanya.

“ Assalamualaikum, rek. Hari ini jadwal e tahfidz Qur’an kan yo?”

Tanyanya sambil tergesa-gesa mengeluarkan Al-Qur’an dari dalam tasnya. Rasa aku sedikit heran, tidak biasanya anak ini terlihat panik saat jadwal tahfidz Qur’an. Apa dia melupakannya ya? Itu lebih tidak masuk akal.

“Waalaikumsalam, opo o kamu Ci, belum hafalan tah?” selidikku.

“Sudah, cuma takut wae Al- Qur’an ku kari ndek rumah. Huh, bikin wong ndredek wae.”

Sudah kuduga, tidak mungkin dia lupa hari ini ada jadwal hafalan.

Bel masuk berbunyi nyaring, kelaspun sudah dipenuhi oleh anak-anak. Mereka mulai gaduh mempersiapkan kelompok hafalan.

“ Assalamualaikum, lho tumben tenan kalian sudah rapih semua biasane wae harus di suruh-suruh dulu,” sapa ustadz. “Waalaikumsalam ustadz.” Jawab anak-anak serempak.

“Ya ndak apa-apa toh ustadz, nanti kalau belum siap sampean marah-marah lagi.” Celetuk Cia yang membuat anak-anak tertawa.

“Yowis … yowis… bagus. Ayo mulai dengan berdoa dulu ya, habis itu seperti biasa wae langsung maju satu-satu hafalan,” bangga ustadz. “Iya, siap ustadz.” Jawabku lantang.

Hafalan hari ini berjalan dengan lancar. Beberapa anak bahkan ada yang maju sampai tiga kali. Mereka benar-benar hebat, kalau begini iri sekali rasanya.

“Ini sudah hapalan semua tah nduk? Kalau sudah lanjut hafalan bareng-bareng ya.”

“Sudah ustadz, gimana kalau baca yasin wae ustadz?” sahut Cia yang diiyakan oleh ustadz.

Tidak terasa waktu yang terpakai untuk hafalan terasa lebih cepat dari biasanya. Anak-anak lain ada yang kembali ke tempat duduk masing-masing atau duduk melingkar dibelakang kelas untuk sekedar berbincang.

“Hmm rek, ayo baca Al-fatihah dan yasin rek…” Celetuk Cia.

“Wes mari Ci hafalan e.” Selaku, lagi pula tadi kita sudah membacakan Al-fatihah dan yasin.

Ya tidak salah juga kalau membacanya sekali lagi, Dyra dan Ara langsung mengiyakan permintaan Cia. Selama kami membacakannya tatapan Cia membuatku risih. Tatapannya kosong, menatapku tapi seperti tidak memikirkan apa-apa, sepertinya dia ada masalah.

“Opo o Ci?” tanyaku, masih penasaran.

“Hm? Ora opo-opo kok hehe.” Jawabnya sambil tersenyum manis. Dari jawabannya saja aku sudah bisa tebak kalau Cia sedang ada masalah.

Bel ke dua berbunyi, kami yang tadi sedang duduk di belakang kelas segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Dengan sigapnya guru matematika sudah memasuki kelas dengan membawa buku-buku tebal. Disampingku, Cia juga sudah siap dengan buku matematikanya terlihat sangat semangat. Suara bising dari luar kelas mulai memekakan telinga, bagaimana tidak? Kelas lainnya sudah istirahat dan melakukan aktivitas bebas. Anak-anak dari kelas lain bahkan dengan usilnya menggoda kelas kami yang belum selesai.

“Ustadz, kelas lain sudah istirahat lho.” Rengekku mulai memprovokasi teman-teman yang lain.

“Yowis… yowis ini juga sudah selesai kok, istirahat o kabeh!” Perintah ustadz, hehehe berhasil bukan? “Yeeee…” Sorak anak-anak bahagia.

“Tapi tugas e saya tambahkan jadi 3 halaman yo, sudah wis assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, wes rek timbang waktu istirahat e kepotong kan yo. Ayo ndang nang kantin!” Ucap Ara menyemangati yang lain. Memang benar lebih baik kalau waktu istirahat tidak terpotong hehehe.

Saat di kantin tiba-tiba Cia berhenti didepan gerobak bakso. Sebenarnya tidak heran, toh biasanya dia akan memilih bakso sebagai menu utama. Cia kemudian berjalan menuju anak-anak yang sedang berkumpul disamping gerobak bakso. Ah, ingin membeli sate telur puyuh rupanya.

“Tumbas sate ne a Ci? Lek iyo aku yo kate tumbas, ketokan e enak ngono.” Tawarku ke Cia, tampaknya anak ini juga penasaran karena yang beli lumayan banyak.

Tidak ada sauhutan, tunggu dia melamun? Karena gemas menunggu jawaban yang tak kunjung dibalas aku menyenggol lengannya.

“Eh? Iyo lah, koyok e yo enak seh. Ayo tumbas!” Ajaknya sambil menarik tanganku menuju adik kelas yang berjualan sate telur puyuh, diikuti dengan Dyra dan Ara. Hmm anak ini benar-benar.

Setelah mendapatkannya Cia menyuapkan sate tersebut kepadaku untuk mecicipinya terlebih dahulu. Rasanya lumayan tidak terlalu buruk.

“He Dek,Mbak,Mas. Kalian kalau mau satene ambil o aja nanti tak bayari.” Tunggu, barusan Cia menawarkan untuk meneraktir kan?

Aku, Ara, dan Dyra saling bertatapan, kami bertiga benar-benar kaget. Pasalnya Cia menawarkan untuk meneraktir tidak pada orang tertentu, melainkan seluruh siswa yang sedang beristirahat.

“Fa, awakmu mau kan yo? Ini loh ambil o. Dyr, Ara ayo ini lho ambil o wae.” Tawar Cia semangat.

“Ora wes Ci, aku pingin roti bakar wae.” Tolakku halus, begitupun dengan Dyra dan Ara menolak dengan halus tawaran Cia. Bukannya tidak berterima kasih, tapi kami merasa tidak enak saja.

“Hmm, yowis.” Balas Cia seadanya. Melihat perubahan air muka Cia aku jadi merasa bersalah, habis ini aku berniat untuk mengajaknya berbicara berdua, siapa tahu dia juga mau menjelaskan keadaanya yang sedari tadi menurutku aneh.

Waktu istirahat berakhir, anak-anak lainnya kembali ke kelas masing-masing begitupun kami. Pelajaran demi pelajaran kami lewati seperti biasanya, sampai tidak sadar waktu menunjukkan pukul 16.00 dimana waktunya untuk mengakhiri pembelajaran dan kembali ke rumah masing-masing. Terlihat semangat yang terpancar dari wajah anak-anak lainnya.

“ADUH SEGER E!” Teriak Dyra sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.

“Halah, pelajaran selesai wae baru seger!” Sela ku, yang membuat siempu memutarkan matanya.

“Ayo wes ndang ambil wudhu, pengen ndang mulih aku.” Ajak Dyra terburu-buru.

“Santai wae lho, tempat wudhu yo sek ramai timbangane ngenteni sambil berdiri, pegel Dyr. Wes duduk sini wae rek.” Usul Cia yang langsung disetujui oleh aku dan Ara,kami langsung saja duduk di anak tangga, sedangkan Dyra langsung melesat mencari tempat wudhu yang sepi.

“Lho ini kalian kok belum ambil wudhu?” tanya salah satu ustadz, yang tidak sengaja melihat kami bertiga duduk di anak tangga seperti anak hilang.

“Masih banyak yang antre ustadz.” Jawabku sekenanya, yang diangguki oleh Cia dan Ara.

“Sakno e arek-arek iki, hahaha.” Tawa ustadz pecah.

Kami bertiga hanya tersenyum kecut mendengarnya. Huh ustadz ini benar-benar, daripada mengasihani kami lebih baik memikirkan untuk menambah tempat wudhu baru dan pasokan air agar antrean wudhu tidak lama.

“Ustadz, foto ustadz.” Celetuk Cia yang diiyakan oleh ustadz, aku dan Ara pun langsung bergaya saat kamera ponsel diarahkan pada kami.

Beberapa detik kemudian kami sadar kalau sedari tadi diperhatian oleh guru lainnya. Tapi hal itu tidak membuat kami malu, karena yang menonton guru-guru perempuan hehehe, bahkan beliau yang mengarahkan kami bergaya. Tak lama kemudian Dyra datang menghampiri kami setelah mengambil wudhu dengan tatapan sedih.

“Lho aku ora dijak foto…. Ayo foto lagi ustadz, kan ndak boleh lho foto cuma bertiga tok.”

“Emang e opo o kalau foto bertiga Dyr?’ Tanyaku penasaran.

“Hm? Iyo Fa, jarene ancen ndak boleh. Wedi nanti ada yang meninggal salah satu e.” Jawaban yang diberikan Dyra membuatku kaget , aku tidak pernah mendengarnya.

“Nduk, wes… wes… mitos itu ndang ambil wudhu terus sholat ashar. Dyra ndang pakai mukena e nduk.”

“Oh iya ustadz, ndang rek wudhu tak enteni ndek kelas.” Final Dyra,yang membuat tiga model dadakan ini segera mengambil air wudhu.

Sholat ashar berjamaah pun selesai dilaksanakan, suasana ramai kembali menyelimuti sore ini.

Anak-anak lain masih banyak yang bermain atau sekedar berbindang di gazebo.

“Cia ayo mulih!” Ajakku.

“Sek sabar Mbak hehehe, nah wes let’s go!” Balasnya saat berhasil mengikat tali sepatunya dan langsung menyusulku duduk di depan ruang guru.

“Opo o? Cerito wae, aku koncomu lho.” Tanyaku tiba-tiba, padahal aku tidak pernah begini.

“Hmm, aku bingung Fa. Bapakku sakit sedangkan yo dino iki aku onok les bahasa Inggris. Bapakku wes bilang seh ndak uah les dulu, tapi yo opo aku ndak mau menyianyiakan kesempatan. Aku entuk beasiswa gawe les bahasa Ingrris iku bersyukur banget aku Fa, ilmu lho itu Fa.” Terang Cia panjang lebar. Terlihat genangan air mata yang hendak metes.

Ternyata ini alasan mengapa Cia terlihat melamun beberapa kali. Aku mulai menenangkannya sambil memberikan masukkan, yang akhirnya disetujui oleh Cia. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang guru untuk menghubungi bapaknya.

“Yo opo, opo jare bapakmu?”

“Bapak masih sakit e, aku ndak usah les dulu katanya lagi. Aku wes bilang mau minta tolong anak e bu kantin, tapi tetep wae ndak boleh.”

“Ci? Mulih wae yo, cuma sehari aja kok. Kan ndek rumah masih bisa ngulang pelajaran Ci.” Balasku halus.

“Hmm, yowis lah ndak usah wae.” Finalnya, dengan helaan napas yang panjang. Sebegitu besarnya kah kamu menghargai ilmu Ci?

“Ojok tinggalno aku yo? Makasih banyak.” Ucap Cia tiba-tiba, dengan pandangan lurus kedepan sambil tersenyum simpul, tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Aku hanya mengiyakan jawabannya dengan diikuti senyum diwajahku. Senang? Tentu ! Rasanya seperti mendapat apresiasi.

“Eh Ci, aku mulih disek yo? Wes datang i lho jemputan e.” Pamitku singkat pada Cia, tak lupa melakukan tos perpisahan.

Sesampainya di rumah aku membersihkan diri dan beristirahat sebentar. Setelah itu mulai mempersiapkan diri untuk mengerjakan tugas. Tapi bagai tersambar petir disiang bolong, tepat pukul 6.10 petang, Nuri teman sekelasku menghubungiku dan mengatakan bahwa Cia sudah tiada. Kecelakaan, Nuri bilang Cia terpental jauh dengan kepala yang terbentur trotoar saat perjalanan menuju tempat les. Sakit? Sesak? Entahlah semua bercampur menjadi satu, mual mendominasi. Memoriku memutar semua ingatan terakhir bersama Cia tadi sore. Rasa bersalah menyelimuti diriku. Apakah aku sudah mengingkari janji untuk tidak meninggalkannya?

“Kita ke rumah Cia sekrang.” Potong mamah membuyarkan pikiranku. Jadi, ini semua nyata? Pikiranku kalut.

Kain putih terbalut ditubuhnya, bahkan menutupi wajahnya yang cantik. Isak tangis terdengar bersahutan, sedangkan air mataku seakan kering tak ingin keluar dari tempatnya. Para guru dan teman-teman saling berlalu lalang untuk melihat keadaannya. Haruskah aku juga lihat? Tangan ini gemetar hebat, jantung ini berdetak cepat. Udara yang bebas rasanya sulit tertangkap. Kupandangi ibunya yang menghampiriku dengan isakkan yang tertahan.

“Nduk, ya Allah Rafa sahabat e anakku. Seng tabah yo nduk, matur suwun wes jaga Cia sama jadi sahabatnya.” Harusnya aku yang menenangkannya bukan beliau.

“Cia kenapa tetap berangkat les buk? Siapa sing antar? Cia kenapa bisa gitu buk? Aku sudah bilang ndak usah lho padahal, anaknya ya juga mau saya suruh pulang aja.” Tanyaku bertubi-tubi.

“Nduk, Cia diantar anak e mbak kantin lali pakai helm anak e.” Tangis ibu Cia. Aku merasa bersalah harusnya aku menenangkannya. Langsung saja kubalas pelukannya dengan erat.

“Buk, aku mau lihat Cia.” Cicitku.

“Iyo nduk, ayo kita dekati yha. Tapi wajahnya ndak bisa dilihat ndak apa-apa yo?”

“Ndak apa-apa buk, ndak apa-apa.” Tangisku mulai lagi.

Melihat dari dekatpun sebenarnya tak ada guna, semuanya sudah tertutup rapat. Menangis juga tidak akan mengembalikan Cia. Banyak pertanyaan yang muncul dikepalaku, apakah aku sudah menjaganya dengan baik? Aku bahkan terkadang tidak mendengarkan ceritanya, dan meresponnya dengan baik. Hanya biasa saja. Oh, atau ini balasan?


Cerita Pendek karya Luthfiyyah Azzahra
Instagram:@piiyyo_ 

2

Jendela Pandemi karya Fathimah Uswatun Nisa

Depok, 24 Februari 2020 (seminggu sebelum pandemi)

Dimulai dengan rintikan hujan gerimis yang semakin lama semakin lebat, diikuti angin yang bertiup kencang menggoyangkan ranting-ranting pohon cemara ke kanan dan ke kiri. Jendela kelas 10 MIPA 8 yang engselnya telah rusak ikut bergoyang menimbulkan suara berdenyit yang memilukan.

"Nyiiit...nyiiit...nyiiit..." jendela berdenyit, beberapa siswa yang berada di dalam kelas menatap jendela dengan tatapan ngeri sedang yang lainnya mengeluh ngilu dengan suara jendela tersebut. "Ctarr!!" tanpa diduga kilat menyambar gardu listrik, bersamaan dengan itu listrik dan lampu seluruh kota menjadi padam. Para siswi menjerit ketakutan karena ruang kelas menjadi gelap. Bu Wiwin, guru Fisika yang kebetulan saat itu mengajar di kelas 10 MIPA 8 mencoba untuk menenangkan mereka.

"Tetap tenang ya anak-anak, untuk yang duduknya dekat jendela yang rusak bisa pindah ke tengah. Sambil menunggu genset sekolah menyala alangkah baiknya kita berdoa supaya kita selamat dan senantiasa dilindungi Allah. Ayo Bayu, pimpin doa!" Bu Wiwin menyuruh Bayu, ketua kelas untuk memimpin doa. Bayu memimpin doa dengan khidmat, seisi kelas menjadi hening. Hanya suara lantunan doa dan suara derasnya hujan disertai suara petir yang bergemuruh.

Sementara itu, Epoy, Roni, dan Xena bukannya ikut doa bersama, mereka memilih untuk kabur diam-diam melalui jendela yang rusak. Beruntung, jendela tersebut tertutup gorden dan kelas dalam keadaan gelap karena mati lampu, sehingga tidak ada yang sadar mereka kabur.

"Ron, cepetan lompat!" bisik Epoy tak sabaran.

"Na, lu pegangin gordennya yang bener biar gak keliatan!" Xena tak luput dari teguran Epoy.

"Iyee... aman" jawab Xena.

Mereka bertiga melompat keluar jendela tanpa alas sepatu supaya tidak menimbulkan suara yang membuat Bu Wiwin dan teman sekelas mereka tahu bahwa mereka kabur melalui jendela. Tiba-tiba kilat menyambar di depan jendela rusak, tepat saat mereka melompat. "Ctarrr!" semua siswa yang ada di kelas terkejut dan teriak histeris ketakutan sambil berlari ke arah Bu Wiwin. Bu Wiwin memeluk Yaya yang menangis karena takut dengan petir yang menyambar hanya beberapa meter jauhnya dari mereka. Dengan wajah yang tampak tenang, namun tersembunyi kecemasan di sorot matanya, Bu Wiwin kembali menenangkan mereka.

"Semua baik-baik aja, kan?" tanya Bu Wiwin penuh perhatian.

"Alhamdulillah, baik-baik aja, Bu. Kami hanya shock dengan petir barusan." jawab Bayu memastikan.

"Ini teman sekelas kamu ada di dalam semua, Bayu? Tidak ada yang izin ke luar kelas?" Bu Wiwin kembali bertanya.

"Tadi, sih ada di kelas semua, Bu. Eh, tapi Epoy, Roni, sama Xena kemana, ya? Ada yang liat mereka, engga?" Kalau mereka keluar, saya duduk di barisan depan dekat pintu tidak melihat mereka lewat. Coba saya cari ke bangku belakang, biasanya mereka tidur di sana." Bayu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju bangku belakang tapi tidak menemukan siapa-siapa. Ia pun melanjutkan berjalan menuju jendela yang rusak dan melihat bahwa sebelah sepatu kiri Xena yang terjatuh di luar jendela. Namun, tidak terlihat sama sekali batang hidung Xena di sana. Bayu akhirnya kembali ke tempat Bu Wiwin dan melaporkan bahwa hanya sepatu Xena yang ia temukan.

"Bu, mereka enggak ada di belakang. Tadi, dekat jendela luar saya cuma liat sepatu Xena. Mana cuma sebelah lagi, Bu." lapor Bayu.

"Udah kayak kisah Sinderlela aja, segala sepatu ketinggalan cuma sebelah. Nah, Pangeran Bayu silakan cari tuan putrimu!" komentar Popon yang diikuti sorak riuh dan cuitan teman-temannya.

"Ya Allah... beneran kalian tak melihat mereka pergi lewat jendela, Nak?" tanya Bu Wiwin cemas. "Di luar hujan deras dan banyak kilatan petir, ya Allah mereka pergi kemana?" lanjutnya dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Kali ini tidak hanya sorot matanya yang menunjukkan rasa cemas, tetapi juga nada bicara.

"Bu...Bu Wiwin... ta..ta..di saat petir menyambar di depan jendela. Sekilas saya melihat bayangan mereka di kusen jendela hendak melompat kabur. Ta..ta..pi jangan bilang ke mereka, Bu kalau saya yang bilang hal ini ke ibu" dengan gugup Riri mengatakannya pada Bu Wiwin. Riri adalah seorang murid paling pemalu di kelas X MIPA 8 mungkin juga se-SMA Melati Jaya. Dia sering dijahili oleh genk Si Epoy, karenanya ia tak berani mengadu dari awal saat mereka bersiap untuk kabur melalui jendela.

Depok, 2 Maret 2021 (Puncak pandemi terjadi)

"Hap! Akhirnya bisa kabur juga. Ayo cepetan lari ke kantin! Hujan air ini terobos aja, lah" ajak Epoy bersemangat. Di samping kelas X MIPA 8 memang ada jalan tembusan yang menuju kantin, meskipun hanya jalan setapak.

"Eh, sebentar, ini sepatu ternyata ketinggalan sebelah." kata Xena sambil menjinjing sebelah sepatunya.

"Halah, nanti aja kita balik lagi. Sekarang kita nyeker dulu biar engga ketahuan" Reno menanggapi.

Mereka mengendap-endap berjalan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara. Akan tetapi, entah mengapa suasana sore itu benar-benar sunyi. Hanya terdengar suara derasnya hujan dan gemeruh petir. Mereka melewati lorong kelas yang lenggang. Roni penasaran dan sengaja mengintip salah satu ruang kelas dari jendela. Ia tiba-tiba terkejut karena tak ada seorang pun di dalam kelas.

"Eh, ini beneran udah pada pulang semua?" tanya Roni setelah mengintip jendela kelas yang kosong."Liat deh kosong ini kelas." sambil menarik Epoy dan Xena untuk mengintip.

"Ohiya kosong! Lah, tadi kenapa kelas kita enggak dipulangin!" Epoy berseru kesal.

"Yaudah lah, kita ke kantin dulu. Biasanya sore hujan begini pada ke kantin makan mie. Gampanglah nanti kalo mau ke pulang kita ke kelas lagi buat ambil tas." ajak Xena. Mereka pun kembali melanjutkan berjalan menuju kantin sambil bercengkrama hingga suara mereka terdengar menggema di lorong kelas. Saat tiba di kantin mereka terbelak kaget karena kantin pun juga kosong. Ini aneh, padahal beberapa menit sebelumnya mereka tidak mendengar bel pulang sekolah atau sirine keadaan darurat. Bagaimana mungkin satu sekolah bisa kosong dalam hitungan menit tanpa menimbulkan keributan?

Tiba-tiba tukang kebun sekolah atau biasa mereka panggil mamang melihat ke arah mereka. Ia menunjukkan tatapan tidak suka dan saat Epoy menghampiri mamang tampak berusaha untuk menjaga jarak.

"Mang, ini anak-anak pada kemana? Kok sepi, mang?" tanya Epoy.

"Kalian yang ngapain kesini? Enggak pake masker lagi! Ayo mana masker kalian!" Mamang memperingati mereka dengan suaranya yang tidak terlalu terdengar jelas karena tertutup masker. Epoy, Roni, dan Xena semakin bingung. Mereka tidak sakit buat apa memakai masker, lagi pula mamang sudah pakai. Akhirnya mereka kembali ke kelas bermaksud untuk bertanya pada Bu Wiwin apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, pintu kelas terkunci dan jendela rusak tempat mereka untuk kabur telah diperbaiki.

Roni mulai panik, sejak awal ia mengintip kelas yang tiba-tiba kosong memang sudah tidak beres. Jendela yang tadinya rusak berat tiba-tiba sudah diperbaiki adalah hal yang tidak masuk akal. Xena dan Epoy ternyata berpikiran hal yang sama. Bersamaan mereka melihat ponsel dan tanggal yang tertera adalah tanggal 2 Maret 2020. Kemudian, mereka bergegas ke gerbang sekolah yang terkunci. Tanpa berpikir panjang mereka melompati pagar tersebut. Derasnya hujan dan licinnya kaki karena tak memakai sepatu`` tak menghalangi mereka.

Saat berada di luar pagar sekolah, hal yang mereka lihat adalah jalanan lenggangg, toko yang hampir semua tutup, dan tak ada aktifitas manusia sama sekali seperti halnya kota mati. Namun, seorang ibu berpakaian lusuh menghampiri mereka. Wajahnya terlihat tidak asing bagi mereka. Ia mengatakan akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, asal ikut dengannya.

“Kalian pasti sedang bingung, kalau ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi bisa ikuti saya. Kalau tidak mau saya tidak bisa menjamin keselamatan kalian.” ujar ibu yang berpakaian lusuh tersebut. Epoy, Roni, dan Xena saling berpandangan kemudian menggangguk mengiyakan. Ibu tersebut membawa mereka ke gang sempit tempat rumah-rumah keluarga kurang mampu berada. Pemandangan yang mereka lihat kumuh dan sangat memprihatinkan, jalan yang becek disertai lubang dimana-mana, rumah-rumah yang masih semi-permanen dari kayu dan triplek, dan tumpukan botol-botol plastik.

“Sekarang kalian berada di tanggal 2 Maret 2021 saat ini suatu wabah menyebar di seluruh dunia. Wabah ini berasal dari virus yang menyebar melalui udara. Itulah mengapa mamang, saya, dan orang-orang di sini memakai masker. Ini masker untuk kalian” jelas Ibu tersebut sambil membagikan masker kepada mereka. “Untuk kembali ke waktu kalian semula, hal yang harus kalian lakukan adalah membantu perekonomian mereka. Riri! Kemari bantu anak-anak ini menjalankan tugasnya!” lanjutnya. Riri yang dipanggil pun datang, namun, bukan seorang yang pemalu seperti yang Epoy dan kawan-kawannya kenal. Di hadapan mereka berdiri seorang gadis yang tangguh dan tegas.

“Baik, bu. Ayo kalian ikut aku, kita berkeliling. Seperti yang kalian lihat, pandemi ini sangat berdampak bagi orang mampu seperti kami. Kegiatan yang dihentikan total membuat kami kesulitan untuk mencari penghasilan.” sambil berjalan Riri menjelaskan meninggalkan mereka yang mau tidak mau mengejar dan mengekor di belakang.

“Dalam setahun ini pun, kami sudah bertahan dari wabah dan rasa lapar yang menyerang. Kedatangan kalian ke masa sekarang adalah untuk mengajari kalian jika kembali ke masa lalu dan pandemi itu mulai datang…” lanjut Riri.

“Oke, lalu sekarang kita harus melakukan apa?” tanya Epoy tak sabar. “Iya, kita harus apa?” Reno ikut bertanya.

“Kita mulai dengan membuat kreasi barang yang layak jual dengan bahan dan proses yang mudah tetapi keuntungan yang didapat besar” jawab Riri.

“Boleh kita coba untuk membuat penghubung atau konektor masker dari kain perca” usul Xena.

“Ohiya bisa juga pake manik-manik” tambah Riri.

“Dah, jangan banyak omong ayo kita segera mulai” Epoy seperti biasa tidak sabaran.

Mereka pun mulai mencari bahan dan memberdayakan masyarakat sekitar. Inovasi produk yang yang mereka hasilkan pun mulai beragam. Tak terasa hal ini berjalan sekitar 1 bulan. Epoy dan kawan-kawan mulai belajar untuk menghargai orang lain dan bisa menjadi lebih inovatif untuk menjadi bekal bagi mereka ke masa lalu.

“Btw, ini bagaimana kita balik lagi ke masa lalu?” tanya Epoy pada suatu hari.


Cerpen Pendek karya Fathimah Uswatun Nisa
Instagram: @fathi.mahnisa

5

Hidup Terus Berjalan karya Jihan Dwi Amelia

Tenggelam, satu kata yang terpikirkan dari anak perempuan berusia 18 tahun. Hidupnya sangat berubah ketika mengetahui dirinya gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi. Hal ini seakan merubah hidupnya menjadi manusia yang sering menyalahkan dirinya, sehingga hidupnya hancur berantakan dan semua tujuan yang ingin ia capai seakan sulit untuk digapai.

Semua bermula dari siang itu, secercah cahaya masuk dan menusuk mata Celine, anak perempuan berusia 18 tahun, yang tenggelam dalam lamunannya. Celine termenung dan tidak berselera untuk melakukan sesuatu karena sore hari ia akan mengetahui hasil ujian, apakah ia lolos atau tidak. Ketika sudah sore hari, Celine masih saja belum membuka portal pengumuman ujian karena ia sangat gelisah dengan hasilnya.

"Bagaimana hasilnya?" tanya kakak Celine.

"Belum tahu nih, Kak. Belum kubuka portal pengumumannya" jawab Celine.

"Cepat dilihat, bukankah kamu juga penasaran dengan hasilnya?" ucap kakak Celine.

"Iya, iya... ini sedang kuketik nomor ujiannya" ucap Celine.

"Jangan putus asa dan tetap semangat!" Kalimat yang terlihat dilayar laptop Celine itu membuat dirinya terdiam dan semua impian yang muncul dipikirannya seakan hancur berantakan. Terdengar kalimat yang diucapkan kakaknya, "Gapapa, coba lagi ya sampai berhasil" Celine pun hanya membalas pernyataan kakaknya dengan senyuman palsu, hatinya sudah sangat sakit dan dadanya sangat sesak menahan semua emosi dari kekecewaan sampai kemarahan pada diri sendiri.

Malamnya, Celine masih belum percaya bahwa dirinya gagal dalam seleksi masuk perguruan tinggi. Dengan kejadian itu, membuat dia menyalahkan dirinya sampai akhirnya emosinya yang ditahan dari sore meluap, air mata pun jatuh dan tangisan Celine berlanjut sampai ia tertidur pulas. Paginya, Celine bangun dengan perasaan yang hampa dan memikirkan apa yang harus dilakukannya ditambah dengan pandemi yang membuatnya tidak bisa kemana-mana membuat Celine tambah stres dengan keadaan.

Hari-hari Celine jalani dengan perasaan kecewa, sampai pada di suatu titik emosinya sudah tidak bisa dikontrol. Pandemi yang menahan dirinya di rumah saja membuat pikirannya tidak bisa terkontrol dan akhirnya ia ingin sekali tenggelam. Tenggelam dalam pikirannya itu bisa membuat ia melupakan semua kekecewaan dan beban yang ia pegang. Namun, ia teringat bahwa ia tidak boleh tenggelam karena semua masalah pasti ada solusinya.

Ketika emosi Celine sudah bisa dikontol, ia menonton Youtube untuk menghibur diri dia yang bisa dibilang masih dalam titik terendahnya. Ketika asik menonton Youtube, tanpa sengaja ia menonton satu video yang berisi salah satu grup dari Korea Selatan. Celine menonton video tersebut dan ia merasa terhibur karena tingkah anggota grup Korea Selatan itu bisa memnuat Celine tertawa lagi. Celine pun mencari tahu semua hal tentang grup tersebut sampai pada akhirnya ia ingin sekali mengikuti perkembangan dari grup tersebut dan menjadi fansnya.

Kejadian yang tidak sengaja itu, mempertemukan Celine dengan hal yang bisa membangkitkan semangat hidup Celine. Celine sangat senang bisa menemukan grup tersebut karena anggota grup iti bisa memberikan motivasi untuk Celine belajar lagi. Selain itu, Celine jadi memiliki tujuan yang harus dicapai yaitu menonton konser dari grup asal Korea Selatan itu. Sebelum bisa menonton konser, Celine akhirnya belajar bahasa Korea untuk bisa mengerti apa yang dikatakan oleh anggota-anggota grup.

Hari-hari Celine jalani dengan semangat. Celine akhirnya berkabar lagi dengan teman-temannya. Celine bercerita tentang hal yang ia alami dan Celine pun mengetahui bahwa temannya itu juga menyukai grup yang sama dengan Celine. Celine merasa senang karena bias berbagi kesukaan yang sama dengan temannya dan akhirnya Celine tidak lagi merasa bahwa hidupnya hancur karena gagal untuk masuk ke perguruan tinggi. Tetapi, Celine memaknai itu sebagai pengalaman masa lalu yang tidak perlu diungkit lagi. Celine akhinya belajar mengedit foto dan video, hal pertama yang ia edit adalah foto anggota grup Korea Selatan itu. Selain untuk belajar, Celine merasa senang karena yang ia edit adalah foto-foto kesukaan Celine. Celine merasa bahwa dirinya bisa mengembangkan diri di bidang itu dan menumbuhkan kreativitas di dirinya.

Ketika hidup Celine sudah mulai berwarna dan sudah lepas dari titik terendahnya, Celine menyadari bahwa pandemi bisa memiliki makna lain yang positif. Hal positif yang Celine rasakan adalah dengan mengenal grup asal Korea selatan. Celine jadi memiliki semangat dan motivasi untuk menjalani hari-harinya. Celine akhirnya mencoba hal baru yaitu mengedit foto dan belajar bahasa Korea. Selain itu, Celine jadi memiliki pandangan baru bahwa hidup itu harus terus berjalan seperti yang dikatakan oleh grup yang ia sukai yaitu Life Goes On.


Cerita Pendek karya Jihan Dwi Amelia
Instagram: @jihandwia25

48

Destiny And Miracle Of God karya Risa Vaniar Haliza

Jam menunjukan pukul 05.00 ,ayam pun sudah mulai bersahutan untuk menunjukan bahwa pagi telah tiba dan malam telah usai. Kringgg kringgg kringgg,benda berbentuk persegi berwarna pink itu bergetar. Membangunkan dirinya yang telah terbuai oleh bunga tidur. Tangannya bergerak keatas nakas untuk segera mematikan jam digital agar tak mengganggu tidurnya, namun matanya masih enggan untuk terbuka.

"Kiranaaa cepat bangun sudah jam 05.30 kamu mau berangkat sekolah jam berapa?" Ucap sang mama sembari membuka pintu kamar anak gadis nya. Nama yg disebut oleh sang mama tidak menunjukan perubahan,ia masih tetap setia memejamkan matanya dan memeluk guling lalu melanjutkan mimpinya. Mama yang melihatnya pun sungguh geram,ditariknya selimut itu sehingga menyisakan tubuh Kirana yang dibalut piyama pink. Kirana yg merasa terganggu akan kehadiran sang mama,akhirnya memilih mengalah dan segara membuka matanya,walaupun sebenarnya masih enggan. "5 menit lagi ya ma" ucap Kirana dengan suara parau khas orang baru bangun tidur. "Ga bisa Kirana ini tuh udah jam 05.30 kamu mau berangkat kapan kalau tidur 5 menit lagi. Mau dihukum lagi?, "APAAA JAM 05.30 KO MAMA GABANGUNIN AKU SI" ucap Kirana heboh,ia pun langsung berdiri tanpa mengumpulkan nyawanya terlebih dahulu. Dengan cepat ia mengambil handuk dan melangkahkan kakinya menujur kamar mandi. Tidak perduli air dingin itu menghantam tubuhnya, yang terpenting ia bisa mandi dengan cepat lalu berangkat ke sekolah agar tidak terlambat. Mama yang melihat tingkah anak gadisnya itu hanya menggelengkan kepala,sudah terbiasa melihat pemandangan pagi yang seperti ini.

Setelah selesai mandi dan berpakaian seragam sekolah,Kirana pun segera menuju meja makan karena mama nya sudah menunggu. "Nih sarapan dulu,udah di buatin sarapan kesukaan kamu telur mata sapi dengan saus teriyaki" sambil menyodorkan piring yang berisi lauk pauk kepada Kirana ,"loh ma ini udah jam 06.00 nanti Kirana terlambat ma" ucapnya dengan gelisah. Mama pun tertawa sangat puas melihat raut wajah kirana yang sangat gelisah. Mama berhasil mengerjai gadis semata wayangnya. Jam yang berada diruang tamu memang sengaja di buat lebih cepat 30 menit,agar Kirana tidak menyepelekan waktu dipagi hari untuk bermalas-malasan. "Ya ampun ma ternyata baru jam 05.30,aku udah panik bgt tau ga,kirain bakal telat. Soalnya ini hari Kamis yang piket pa jumadi". Pa jumadi merupakan seorang guru di SMA BAKTI HUSADA 3,ia mengajar kimia untuk jurusan IPA. Di sekolah, pa jumadi sangat galak,bahkan sering kali siswa menanggilnya dengan julukan guru kiler. "Memangnya kamu pernah di hukum na,sama pa jumadi?" Ucap mama penasaran ," ya pernah dong ma,kalo ga dihukum pa jumadi tu rasanya hambar,gaada kenang-kenangannya semasa SMA" ucap Kirana dengan bangga. Sang mama kaget mendengar penjelasan dari anak gadisnya tersebut. Baru kali ini ia mendengar seseorang yang dihukum gurunya bercerita dengan mata berbinar-binar. "Na kamu sikapnya jangan aneh gini toh,nanti gaada yang suka sama kamu" ucap mama bercanda ,"loh mama gatau aku disukain sama ketua osis dan ketua rohis" ucap Kirana dengan santai dan melahap sarapannya. "Yang bener kamu na? Gaada pacar-pacaran dulu ya sampe kamu keterima di Perguruan Tinggi Negeri. nanti kamu jadi ga fokus”, "yah kan buat support system gitu ma"ucap Kirana dengan wajah memelas. "Gaada ya Kirana kalo kamu pacaran,hp kamu mama tarik" ,Kirana yang sedang minum pun tersedak mendengar wejangan yang mama nya berikan. Keadaan mulai hening dan terasa semakin canggung. Kirana buru-buru menyelesaikan sarapan nya, menghindari suasana yang canggung,lalu ia dengan sangat cepat beranjak berdiri dan meraih tas gendong nya,lalu berpamitan kepada mama,agar ilmu yang dipelajari disekolah nanti berguna hingga akhir hayat.

**

Setibanya disekolah,Kirana menuju ruangan kelas 12 IPA 1,kelas nya berada di lantai bawah dan bersebrangan dengan ruang piket guru. Ruang kelas nya cukup nyaman,hawanya pun sejuk,karena terdapat 2 buah ac di sisi kana atas pojok ruang kelasnya. Kirana sangat senang datang lebih dulu sehingga ia bisa mengulang pelajaran yang akan dipelajari hari ini dengan santai. Kirana tidak termasuk anak yang pintar,namun ia termasuk kedalam kategori anak yang rajin dan mau berusaha. Kirana mulai membuka buku the king saintek halaman 125 dengan bahasan materi algoritma. Materi yang dipelajari kirana hari ini bukanlah materi yang untuk dipelajari dikelas,tetapi materi tersebut ialah yang akan muncul di soal ujian SBMPTN.

Jam sudah menunjukan pukul 07.30 yang artinya jam pelajaran pertama sudah dimulai. Untuk hari ini khusus kelas 12 tidak ada pelajaran,melainkan hanya ada arahan dan pemberian motivasi yang dilakukan oleh Guru BK agar siswa dan siswinya semangat mengikuti ujian SBMPTN dan dapat diterima di perguruan tinggi negeri.

"Selamat pagi anak-anak, hari ini kita akan membahas tentang SBMPTN DAN SNMPTN ya" ucap Guru BK. Aku memanggil nya Bu Intan. Beliau merupakan Guru BK termuda yang ada disekolah kami. Tak jarang sekali siswa dan siswi sering bercerita kepadanya,karena dirasa cocok dan pikirannya pun mampu menyesuaikan dengan siswa dan siswinya. Bu Intan memberikan info bahwa jika ingin mengikuti program SNMPTN tidak bisa semua murid mengikutinya. Hanya murid yang dipilih sekolah saja yang boleh mengikutinya. Pada saat itu Kirana cukup khawatir mengingat nilai nya yang pas-pas an. Kirana takut apabila tidak mendapat jalur SNMPTN, kesempatan nya hanya tersisa 1 kali untuk mencoba,yaitu melalui jalur SBMPTN. Jujur saja kirana merasa tidak enak apabila harus meminta uang pendaftaran untuk jalur mandiri dan sebagainya. Menurut Kirana pendaftarannya saja sudah cukup mahal,sekitar 200 hingga 300 ribu. Kirana cukup tahu diri bahwa mama juga harus menyisihkan sebagian uangnya untuk membayar administrasi rumah sakit perawatan ayah. Ayah Kirana kini sedang mengalami koma. dikarenakan mengalami kecelakaan. Sudah 5 bulan lebih ayah nya mengalami koma. Hingga saat ini tidak ada tanda-tanda untuk bangun dari tidur panjangnya itu.

"Kirana, ada yang mengganggu pikiran mu ya?" Ucap Bu Intan sambil menepuk bahu Kirana, supaya tersadar dari lamunan nya. Kirana hanya tersenyum dan menggelengkan kepala kepada Bu Intan,menandakan bahwa diri nya baik-baik saja. Sebelum menutup acara motivasi dan seminar mengenai tentang SBMPTN dan SNMPTN, Bu Intan berpesan kepada seluruh siswa-siswinya,jika ingin ada yang berkonsultasi mengenai nilai rapot untuk jalur SNMPTN beliau siap sedia membantu.

*

Saat ini hari minggu. Kirana memiliki rencana untuk bersantai dan melepas penatnya dengan menonton drama korea. Hari senin -jum'at adalah hari yang super hectic bagi nya. Karena di hari tersebut,kirana harus meluangkan waktu lebih lama untuk belajar. Kirana sangat berharap kepada SNMPTN, namun ia tidak boleh melupakan plan lain jika SNMPTN gagal. Tidak ada yang tahu jika Kirana ingin mengambil jurusan kedokteran di UI. Mereka hanya tahu bahwa kirana akan mengambil jurusan PGSD di UPI,namun itu adalah pilihan kedua nya. Semenjak kirana menemani ayah nya dirumah sakit,Kirana pun melihat para dokter dan perawat yang sangat keren dan penuh perjuangan untuk menyelamatkan nyawa seseorang. Dari situlah kirana termotivasi untuk menjadi seorang dokter. Akan kirana usahakan untuk mengejar mimpinya,dan rencananya kirana akan mencari jalur beasiswa agar tidak memberatkan beban mama nya. Semoga saja mama nya setuju akan hal ini.

**

Waktu cepat sekali berlalu. Seperti air yang terus bergerak,maka waktu pun juga seperti itu. Ia akan terus bergerak menuju masa depan,tidak pernah berhenti berputar hingga kita menutup mata. Hari sabtu tanggal 15 februari 2023 adalah hari yang mendebarkan untuk Kirana. Pasalnya pengumuman siswa dan siswi yang berhak mengikuti SNMPTN akan di kabarkan melalui group wa pada pukul 09.00 WIB. Kirana berharap mendapatkan peluang untuk mengikuti SNMPTN. Tidak pernah berhenti berdzikir dan berdoa, meminta kepada tuhan agar semua urusan nya diperlancar. Walaupun sedikit ada keraguan yang menghampiri dirinya,namun ia percaya bahwa tuhan mengabulkan doa umatnya sesuai dengan kebutuhannya bukan kemauan nya. Dari semalam Kirana tidak bisa tidur tenang,memikirkan nasibnya dimasa depan akankah seperti yang ia inginkan,atau kah ia harus mengikhlaskan nya. Perihal ia akan mengambil jurusan kedokteran SNMPTN di UI pun belum diketahui mama nya. Ia sangat takut apabila mamanya tidak setuju,karena biaya yang sangat mahal dan beasiswa kedokteran sangat susah dicari,jarang sekali ia temukan beasiswa kedokteran 100%, paling hanya sekitar 10-30% bantuan yang di dapat. Tidak ingin terbelenggu oleh pikiran nya lebih dalam,Kirana memutuskan untuk membereskan rumah sambil menunggu waktu pengumuman siswa dan siswi yang mendapat kuota SNMPTN tiba. Yang pertama ia lakukan adalah membereskan tempat tidurnya lalu menyapu bagian kamarnya. Setelah itu baru lah seluruh bagian rumah ia jelajahi. Sehabis menyapu kirana tidak lupa untuk mengepelnya. Setelah itu Kirana berjalan kedapur untuk membuat sarapan. Ia membuat telur mata sapi dengan saus teriyaki kesuakaanya. Ia sangat pandai memasak,rasanya jangan diremehkan. Ia sudah terbiasa mandiri sejak ayahnya mengalami koma 5 bulan yang lalu. Bukan mamanya tidak peduli kepada anak nya,namun mamanya mengajarkan agar kirana tidak bergantung dengan bantuan orang lain atau bahkan bantuan mamanya. Karena mama nya sibuk mencari nafkah,maka dari itu dari hal sekecil apapun kirana diajarkan untuk mandiri. Ketika mamanya sibuk bekerja hingga malam,maka Kirana bisa menjaga dirinya dan mama nya tidak begitu khawatir.

Dengan telaten Kirana menumis bawang bombay,telur dan saus teriyaki. Setelah dirasa cukup matang,masakannya pun di letakkan di piring dan Kirana memakannya dengan sangat lahap. Ketika Kirana sedang asyik menikmati sarapannya,benda kecil berwarna putih itu bergerak dan bergetar,menunjukan bahwa ada satu panggilan masuk yang meminta untuk diangkat.

"Halo,ad..." Belum selesai Kirana menjawab,suara cempreng diujung sana langsung memotongnya "KIRANAA SUMPAH ALHAMDULILLAH KITA DAPET KUOTA SNMPTN"

Kirana diam mematung untuk mencerna perkataan yang baru saja diterimanya. Ini terasa seperti mimpi.. "Caa beneran ga si ini? Sumpah jangan ngeprank gua" ucap kirana memastikan,ia tidak mau terlalu senang dulu takut Caca hanya mengerjainya. Caca merupakan teman dekat kirana,mereka berkenalan saat pertama kali bertemu di kelas 10. "NA CEPETAN DEH BUKA WA” perintah Caca agar kirana mempercayainya. Tanpa mematikan sambungan telefon kirana langsung membuka wa dan benar saja sudah banyak notifikasi yang ia terima. Kirana pun dengan cepat membuka group wa kelas. Di dalam sana sudah terdapat file yang berisikan nama-nama yang berhasil menerima kuota SNMPTN. Kirana membukanya lalu mencari namanya dengan teliti. Mata kirana membulat,mulutnya terbuka dengan lebar. Ia masih tidak percaya bahwa ia mendapatkan kuota ini. Mereka berdua sangat gembira bahkan tanpa sadar mereka sudah merencanakan untuk menempati tempat kost berdua supaya hemat biaya. Caca dan Kirana pun memiliki tujuan untuk mendaftar di universitas yang sama namun dengan jurusan berbeda. Satu jam sudah mereka telfonan,percakapan mereka di akhiri oleh Caca yang memberi info bahwa mereka yang terpilih ke dalam kuota SNMPTN harus kesekolah jam 1 siang untuk mendapat pengarahan. Sekarang jam menunjukan pukul 09.00 yang artinya kirana masih mempunyai waktu 4 jam lagi untuk bersiap-siap ke sekolah. Rencananya sehabis makan ia akan mencari tahu jurusan kedokteran yang berada di UI. Setelah itu ia menunggu mama nya pulang bekerja untuk mendapat doa restu,agar segala urusannya di permudah.

**

Mama nya ternyata tidak setuju akan jurusan kedokteran di UI. Walaupun kirana bilang akan mencari beasiswa,namun mamanya sangat tidak tega jika nanti melihat kirana memperlakukan dirinya sendiri dengan keras,saat sudah diterima di Fakultas Kedokteran. Namun kirana tidak henti membujuk agar mamanya menyetujuinya,dan rayuan kirana pun berhasil. Setelah melewati kemudahan tentu saja akan datang kesulitan. Bu intan selaku guru BK kirana pun juga tidak setuju. Pasalnya nilai kirana tidak memungkinkan untuk bersaing. Namun kirana keras kepala,ia tetap teguh atas pendiriannya. Sehingga bu intan pun menyerah dan berpesan kepada kirana jangan bersedih jika nanti hasilnya tidak sesuai ekspetasi.

Setelah mendapati persetujuan,Kirana pun segera mendaftar. Lalu ia mencari beasiswa kedokteran yang mau menampungnya. Sudah 5 tes beasiswa yang kirana ikuti,ia hanya berharap jika nanti hasilnya tidak mengecewakan. Kirana juga selalu melaksanakan solat tahajud,membaca al-qur’an,solat duha,dan solat wajib dengan tepat waktu. Ia sadar diri bahwa segala usaha tanpa dibarengi dengan doa maka semua nya akan sia-sia.

**

3 bulan sudah berlalu,kini saatnya tiba pengumuman SNMPTN. Kirana sangat khawatir,sudah 8 kali ia memutar lagu happiness yang dibawakan oleh group idol seventeen untuk menghilangkan rasa cemasnya itu. Mamanya pun membantu menenangkan kirana dan berpesan bahwa apa yang akan ia dapat nanti sudah merupakan takdir yang diatur oleh ALLAH SWT.

Waktu pun sudah menunjukan pukul 14.55,yang artinya 5 menit lagi pengumuman SNMPTN dan hasil beasiswa bisa diakses. Kirana mengalihkan perhatiannya dengan membuka tweetter supaya waktu berjalan begitu cepat. Waktu sudah menunjukan pukul 15.00 kirana memberitahu mamanya bahwa ia akan segera membuka pengumuman keduanya. Mama pun ikut mendampingi anak gadisnya ini. tidak lupa diawali dengan bismillah,dengan ragu Kirana pun membukanya. Ia sudah menyiapkan hati dan perasaannya jika hasil tidak sesuai ekspetasi.

Namun ALLAH SWT sangat baik kepada kirana ia diterima di jurusan dan universitas kedokteran,kirana dan mamanya berteriak histeris. Kini kirana lanjut membuka pengumuman beasiswa,dan lagi-lagi semesta berpihak kepadanya. Kirana mendapatkan beasiswa 100% untuk kuliah. Kirana merasa apa yang di dapatnya merupakan keajaiban yang diberi oleh ALLAH SWT untuk dirinya. Kirana pun segera memeluk mamanya dan meluapkan tangis kebahagiaan di dalam peluk nya. Setelah adegan mengharukan, kini Kirana dan mamanya akan mengunjungi ayah nya dan memberi tahu kabar bahagia. Sesampainya disana kirana langsung bercerita tentang mimi yang sedikit demi sedikit berhasil ia raih.“ayah,kirana berhasil diterima dijurusan dan universitas yang kirana impikan,ayah gamau bangun liat muka bahagia kirana?”. Tidak ada jawab hanya hening yang di dapat. Kirana hanya mampu tersenyum getir melihat kondisi sang ayah. Namun saat Kirana ingin berbalik untuk pergi,ia mendengar suara ayahnya yang memanggil namanya dengan sangat pelan. Ia pun tersenyum senang ayahnya kini sudah terbangun dari koma nya. Ia segera memberi tau mamanya dan memanggil dokter untuk meriksa keadaan ayahnya. Saat dokter sedang meriksa keadaan ayahnya,kirana dipersilahkan untuk menunggu diluar. Namun kini dokter memanggilnya karena ada sesuatu yang ingin disampaikan ayahnya. “ayah kirana diterima di jurusan kedokteran dan mendapat beasiswa” ucap kirana dengan tangis haru. “na kamu jaga mama ya dan jangan lupa Ketika kamu sukses kamu dapat membahagiakan mama” ucap ayahnya dengan susah payah dan suara yang sangat pelan. Layar monitor kini berbunyi dengan sangat kencang,menggambarkan garis panjang. Ayahnya pun Kembali menutupkan mata. Kirana menangis dengan histeris,namun perawat berusaha menenagkan dan membawa nya untuk Kembali menunggu diluar bersama dengan mamanya. Dokter pun keluar ruangan dengan membawa berita duka. Kini kabar bahagia tertutup oleh kabar duka. Seperti inilah hidup ada yang datang dan ada yang pergi. Ada kesulitan dan ada kemudahan. Kirana dan mamanya pun berusaha menerima takdir,bahwa kini ayahnya sudah tiada. Peluknya tidak lagi dapat dirasakan,senyumnya pun kini tak bisa dinikmati. Mulai esok kirana dan mamanya pun menjalani kehidupan tanpa sosok pahlawan dihidupnya.


Cerita Pendek karya Risa Vaniar Haliza
Instagram: @risavni_

56

Saluran Radio Sekolah Desa karya Devi Andini

 Sudah lebih dari satu tahun negara kami diserang virus covid-19. Aku masih tak menyangka kalau kami harus berhadapan dengan virus seganas ini. Aku pun masih tak sepenuhnya bisa beradaptasi dengan keadaan seperti ini. Begitu pula dengan keluarga dan teman-temanku.

Sebuah virus yang kehadirannya tak hanya memberikan dampak pada kegiatan akademikku, namun juga berdampak pada keadaan ekonomi keluargaku. Satu tahun yang lalu, sebelum adanya covid-19, aku begitu semangat membantu ayahku berjualan kapurung di pasar pusat kota. Melayani pembeli yang datang silih berganti, membantu membawa bahan-bahan dari rumah ke pasar, cekatan merapihkan peralatan setelah para pembeli pulang ke rumah masing-masing.

Kapurung buatan ayahku memang menjadi salah satu makanan favorit di pasar ini. Olahan sagu yang dicampur dengan kuah, ikan, sayuran, serta bumbu khas dari nenekku memang perpaduan yang begitu nikmat. Makanan ini adalah makanan khas daerahku yang sudah menjadi incaran orang-orang di pasar, terutama para pekerja yang hendak pulang ke rumahnya.

Namun sejak adanya covid-19, kegiatan di pasar mulai dibatasi bahkan jumlah pengunjung juga dibatasi. Ini adalah salah satu cara terbaik untuk menekan penyebaran virus covid-19. Namun tak bisa dipungkiri, aku justru merasa sedih karena hal ini membuat dagangan ayahku yang tadinya laris menjadi sepi pelanggan. Apalagi semenjak adanya pandemi ini, aku harus melakukan kegiatan pembelajaran secara daring. Yang artinya aku harus menyiapkan banyak uang untuk membeli kuota internet.

Rasanya tidak mudah menghadapi situasi seperti ini. Aku takut kalau tahun depan, saat aku menginjak kelas 3 SMA, keadaannya masih terus seperti ini.

Sekolahku terletak di pedalaman Sulawesi. Aku, bapak-ibu guru, dan teman-teman sekolahku pun juga tinggal tak jauh dari sekolah. Namun kami tetap harus patuh pada peraturan untuk melakukan kegiatan pembelajaran secara daring. Pembelajaran tatap muka ditiadakan bahkan wisuda kakak kelasku juga ditiadakan. Mereka hanya diperbolehkan mengambil berkas kelulusan, lalu pulang begitu saja. Tidak ada perayaan kecil-kecilan atau sekadar sambutan kelulusan dari kepala sekolah.

Untuk melakukan kegiatan pembelajaran pun, aku harus pergi ke rumah pohon di pinggir desa agar mendapatkan sinyal. Teman-teman yang lain pun juga seperti itu. Ada yang sampai rela pergi ke pusat kota agar mendapatkan sinyal, ada pula yang harus naik ke saung di tengah sawah orang tuanya. Entah sampai kapan situasinya akan terus seperti ini.

Saat ini aku sedang membantu ayahku merapihkan dagangan. Sebagai anak laki satu-satunya, mau tidak mau aku harus menemani ayahku sampai selesai berdagang hingga malam hari. Aku tidak terlalu mempermasalahkan hal itu karena sudah terbiasa melakukannya dari awal masuk SMA. Lagipula menyenangkan membantu ayahku di pasar setelah seharian suntuk menghadapi berbagai pelajaran dan tugas-tugas sekolah. Dan saat ini pun aku masih libur semester. Jadi waktu luangku cukup banyak untuk bisa membantu ayah.

Syukurnya hari ini pelanggan yang datang sudah mulai ramai karena kasus covid-19 sudah mulai menurun. Kejadian yang cukup menenangkan sebelum minggu depan harus kembali sekolah dan menghadapi semester baru di kelas 2 SMA.

Meskipun aku belum naik kelas, sudah banyak yang mempertanyakan apakah setelah lulus aku akan melanjutkan untuk kuliah atau memilih untuk bekerja. Aku hanya bisa tersenyum menjawab pertanyaan tersebut sambil mengatakan bahwa aku belum menentukan apa pun. Padahal sebenarnya aku ingin merantau ke Jawa dan mengambil kuliah teknik seperti Mas Fikri, anak Pak Kepala Desa. Tetapi hal itu hanya sanggup aku katakan ke Mas Fikri. Aku tidak berani mengatakannya kepada ayahku.

Omong-omong soal Mas Fikri, sejak adanya pandemi covid-19 ia begitu prihatin akan keadaan pembelajaran daring di desa kami. Aku pun sempat beberapa kali meminta bantuannya terkait masalah konseksi internet. Ia berpikir bahwa sekolah kami tidak bisa terus-menerus melaksanakan pembelajaran daring seperti ini. Harus ada sesuatu yang dilakukan demi kelancaran pendidikan kami.

Hingga akhirnya ia mengajak aku dan teman-temannya untuk merencanakan pembuatan saluran radio lokal yang akan digunakan untuk kegiatan pembelajaran. Sebenarnya aku sendiri tidak begitu paham bagaimana cara kerjanya dan apa saja yang harus dilakukan. Namun aku begitu tertarik dengan hal ini.

Waktu itu aku memperhatikan bagaimana Mas Fikri dan teman-temannya mengoperasikan komputer di rumahnya, mengecek mikrofon, memastikan alat pengolah suara dan alat lainnya bekerja. Mereka begitu cekatan dan dengan senang hati mau menjawab pertanyaan-pertanyaanku seputar radio tersebut, tentang perkuliahan, hingga beasiswa kuliah.

Aku begitu salut dengan kerja keras mereka. Rasanya ingin sekali bisa kuliah dan bisa bermanfaat bagi warga di desaku seperti mereka. Namun aku sendiri tidak yakin kalau aku bisa. Mengingat untuk kuliah itu sendiri membutuhkan persiapan dan biaya yang besar, sama seperti pembuatan saluran radio ini.

Pembuatan saluran radio ini membutuhkan waktu, tenaga, dan uang yang tidak sedikit. Mas Fikri telah menjelaskan agar tak perlu khawatir akan biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan saluran radio ini karena ada banyak donatur yang bersedia membantu. Teman-teman Mas Fikri pun dengan senang hati menjadi relawan untuk menyiapkan semuanya. Berbagai surat perizinan pun telah selesai diurus sehingga besok kami akan melakukan uji coba terhadap radio tersebut.

***

Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Aku dan teman-temnku harus stand by di rumah masing-masing sambil menyalakan radio dengan saluran 107.8 MHz. Karena dari pemerintah sendiri hanya menyediakan saluran di antara 107.7 hingga 107.9 Mhz. Tidak mudah menemukan saluran tersebut dengan radio tua di rumah ini. Tetapi akhirnya aku berhasil menemukannya.

Pemasangan sumber radio dilakukan di rumah Mas Fikri. Dari sana Mas Fikri akan mencoba menyiarkan radionya. Penyiaran akan dimulai tepat pukul 9 pagi. Dan Mas Fikri akan mengucapkan beberapa kalimat yang harus kami catat, untuk dikumpulkan kepada ia agar ia tau seberapa baik frekuensi radio tersebut sampai ke rumah kami. Jika sudah selesai, kami harus datang ke rumah Mas Fikri untuk menjelaskan kualitas radio yang kami dengar dan menyerahkan catatan kami.

Pukul 9 pagi pun tiba dan suara Mas Fikri mulai terdengar dari radio. Aku mendengarkan dengan saksama, dan benar-benar tak menyangka kalau suara radionya begitu jernih. Terdengar salam dan sambutan kecil-kecilan dari Mas Fikri. Aku mencatatnya satu-persatu.

Aku yakin pembuatan saluran radio ini akan sangat membantu untuk kegiatan pembelajaran. Betapa menguntungkannya saluran radio ini. Aku tidak perlu menggunakan internet dan kuota, bahkan tidak perlu jauh-jauh pergi ke rumah pohon di pinggir desa hanya untuk mendapat sinyal. Cukup nyalakan radio dan duduk di rumah, aku pun bisa mengikuti kegiatan pembelajaran dengan lancar. Rasanya tidak sabar untuk memulai pembelajaran semester depan.

Aku kembali mendengarkan ucapan Mas Fikri dari radio sambil berusaha mencatat dengan baik kalimat yang diucapkannya. Hingga akhirnya, aku tertegun dengan satu kutipan yang dibacakan oleh Mas Fikri, yang semakin meningkatkan semangatku untuk belajar di tengah pandemi, yang semakin menumbuhkan semangatku untuk bisa kuliah, meskipun aku sendiri tidak tau nasib hidupku ke depannya akan bagaimana. 

“Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia karena dengan pendidikan, kamu dapat mengubah dunia.” – Nelson Mandela


Cerita Pendek karya Devi Andini
Instagram: @deevndn