Minggu, 15 November 2020

31

Sang Pembangun by Ridwan Fauzi

Berada di negeri kepulauan,
negeri indah penuh kekayaan.
Memiliki jutaan bibit unggul,
yang diharap siap memukul.

Bibit-bibit tak suka paksaan,
mereka hidup dengan hiburan,
meski haus akan pendidikan.
Berilah permainan terselip pelajaran.

Bermain dapat membangun moral,
dengan dampingan yang loyal.
Bermain dapat membangun spiritual,
dengan dampingan sang intelektual.

Tak peduli meski berduri.
Dipetik, berkali-kali.
Hanya demi satu tujuan pasti.
Membangun bibit yang hampir mati.

Puisi by Ridwan Fauzi
Instagram :@uwayridwan_
1

Nestapa Belajar dan Iman by Muhammad Raffi Athallah Miraza

Setetes rindu menetes ke bilik hati, kekelaman tiada kirana terbejana
Netraku tiada daya dan upaya, seakan dilalap oleh virus resah 
Uraian mata terus menusuk qalbu, palung hatiku tak letih berderu 
Akan dosa lekat laksana debu, riak air pun mengiringi seakan berlalu

Bekal apa yang bisa mempertahankan setiap langkahku 
Resah, lesu dan sesal menjadi tombak yang menghunus qalbu 
Dosa yang lahir setiap waktu, iman runtuh karena tabir khilafku 
Sementara di dalam isra hijrahku begitu banyak alpa dan batu-batu

Namun, dalam gulita daksa aku berjuang diri
Mengobati hati dengan taubatan nasuha dan shalat penuh sungguh
Mencoba bangkit meski berlimang dosa 
Tak peduli pada kata berhenti, aku harus kembali kepada Sang Ilahi

Ya Rabb, kapan cahaya magfirah itu menyapa dan kembali? 
Dayunganku singgah sebentar pada bahtera, agar langkahku dituntun oleh cahaya 
Wahai dermaga nan tiada bersua, izinkan daku membalut goresan mentah 
Bertasbih menghasilkan Nur yang menembus angkasa

Subhanallah....
Ya Rabb kau musnahkan benalu di kalbuku
Kau nyalakan pondasi istiqomah untuk hama rasa 
Kau percikkan nutrisi untuk kedua netraku


Padahal daku penuh bercak noda dalam sabda
Namun, engkau selalu hadir dalam setiap kisruhku 
Ya Rabb di atas sajadah biru ku meminta 
Kau rangkul diriku untuk menjadi lelaki sholeh

Daku menjunjung segala titah dan perintah-Mu 
Menutut ilmu dunia mengharap rida-Mu
Bahwa seluruh hidup dan matiku terpulang 
pada rida-Mu 
Aku harap Engkau mengampuni ku

Puisi by Muhammad Raffi Athallah Miraza
Instagram: @raff_ath
0

Kecil Tapi Bermakna by Luthfita Chairani Fatihah

Putra-putri pelosok daerah 
Semangat juangmu amat bergairah 
Tuk menempuh ilmu di sekolah 
Pun bersenda gurau dengan kawannya entah

Canda tawamu tampak sumringah 
Riang gembira nya dihampiri orang asing datang 
Mereka bak penolong dan teman senda gurau
Belajar menjadi suka cita, meski banyak halang rintang

Kalian senang mendengar cerita 
Seakan berkhayal dengan apa yang didengar
Senang diri ini melihatmu bahagia 
Meski tak tau ada apa dibalik ceria yng merona

Keinginan mereka sederhana,
Bisa terus menuntut ilmu hingga memberikannya
Terucap prakata dari mulut anak yang masih lugu
Ingin menjadi guru, ustadz, ustadzah
Betapa kagum nya diri ini mendengar apa yang dicita-citakan

Mulia sekali hatimu, nak 
Tak perlu menjadi orang besar tapi bermanfaat 
Diriku hanya bisa mendoakan 
Semoga keterbatasan tak menjadi halangan kalian tuk mengejar impian

Puisi by Luthfita Chairani Fatihah
Instagram: luthfitacf


1

Penggerak Kebenaran by Indra Suparlan

Menyair sebuah irama
Mengabadikan lentera jiwa
Bergerak sesuai komando 
Membuat orang terbawa dan terinspirasi
Sangat Pandai dalam berbicara 
Memahami setiap makna 
Demi menyuarakan kebenaran 
Tanpa kekerasan


Dibalik untaian kain berkancing
Tergambarkan identitas kebanggaan
Kalian sampaikan kegelisahannya 
Kalian bangkitkan mereka 
Kalian tumbuhkan benih semangat
Dalam jiwanya 
Kalian tebarkan senyum kepada mereka
Tanda kalian mampu membawa perubahan
Dengan moralitas yang tinggi 
Kalian junjung keadilan 
Diatas bumi ibu pertiwi

Puisi by Indra Suparlan
Instagram @Indra_Suparlan
24

Bangun Untuk Berdiri by Immanuella Senja Dwi Febriani

 “Hai, sedang apa? 
Di mana salammu? 
Mengapa salamku tak kau jawab? 
Apakah kau dalam abandonemen? 
Atau kau tak paham ethos? 
Cukup tanah tumpah darah saja yang terbelangkalai 
Jangan kau,” kata mereka tentangku

Aku memang masih pandir 
Kosong adab, rendah akidah 
Tapi, masih sanggup berdiri 
Kedua netraku masih mampu melihat 
Lidahku tidak kelu bicara 
Tangan dan kakiku masih bebas bergerak

Aku bangunkan sukma-sukma pemudaku 
Aku bakar gairah mereka dengan etiket 
Agar panas dan terbakar rasa ingin tahunya
Mencekoki mereka dengan lektur agama
Agar makin haus atmanya

Terjadi perang argumen yang hebat
Hatiku berkata,
“Kau mampu dan pasti menang.”
Dan ragaku berkata,
"Kau tidak mampu dan pasti kalah.”

Ya, aku terombang-ambing seperti diterpa ombak
Menginjak jalan setapak nan penuh kerikil tajam 
Walau terseok-seok sekalipun,
Tak terbesit di pikiranku untuk mundur
Aku tahu dan pasti 
Matahari akan tersenyum 
Bulan akan menderang 
Kukila akan bernyanyi 
Mereka menyambutku dengan indah 
Bahwa aku berhasil.


Puisi by Immanuella Senja Dwi Febriani
Instagram : @immanuellasenja
0

Spiritualitas Yang Terenggut by Imanisa Inner Putri

Kawan, 
Genggamanmu yang berubah Isi hatimu yang terjajah 
Keinginanmu yang sebatas tentang dunia
Pencapaianmu hanya tipuan semata

Saat terpenuhi segala keinginan
Akan datang berbagai kehampaan 
Sungguh, yang sebenarnya kau butuhkan 
Ialah ketenangan bukan kepuasan

Kawan, 
Akan ku katakan, kejarlah cita-cita 
Tanpa melupakan Sang Pencipta 
Berjuanglah meraih mimpi 
Dengan terus mengingat Sang Rabbi

Kawan, 
Usahamu takkan ternilai
Bila atas hak Tuhanmu engkau lalai 
Usahamu akan menjadi sebuah permata 
Saat kau dekati Dia Sang pemilik semesta

Kawan, 
Jangan sering meninggalkan 
Saat sudah terpenuhi permohonan 
Waktu muda tak dapat terulang 
Sibukkan diri dengan kebermanfaatan

Kawan, 
Tak malukah kita? 
Kepada Sang Maha Segala 
Yang tetap mengabulkan 
Meski sering diabaikan

Seolah lupa siapa pencipta 
Seolah tak peduli tujuan diri tercipta 
Padahal sejatinya statusmu hanya hamba
Kembalilah,Tuhanmu Maha Pemurah

Puisi by Imanisa Inner Putri
Instagram : Imanisaip
0

Doa Mu Senantiasa Bersama Ku by Hafsyah Ranita

Hari demi hari ku lalui dengan keteguhan hari
Awan hitam datang coba menghalangi jalan ku
Fatamorgana terus menggoda mimpi dan khayalan ku
Seiring tidur malam ku,
Yang nyenyak
Akan dinginnya malam
Hanya doa mu mama papa

Raih semua cita dan cintaku
Angan yang kini nyata ku gapai
Namun semua itu takkan mungkin ku raih
Indahnya hidup penuh harapan
Tanpa restu mu papa mama
Akhirnya ku gapai semua itu

Puisi by Hafsyah Ranita
Instagram : @hfsyahrnt
27

Khayalan Palsu untuk Anak-anak Kami by Feliciano Lucky Pratama

Anak-anak kami
Yang akan menghancurkan
Setiap ironi dalam perkumpulan
Yang akan melestarikan
Setiap petuah bijaksana kami
Yang akan meluruskan Setiap kemunafikan yang menyeringai
Yang akan melawan
Setiap pergulatan konflik tiada henti
Yang akan menyembuhkan
Setiap pertentangan para sanubari

Anak-anak kami
Yang siap menjauhkan
Seluruh kebodohan dalam hidup 
Yang siap menyatukan
Seluruh keberagaman sosial
Yang siap meluruhkan
Seluruh dendam pembangkang
Yang siap mengembangkan
Seluruh kisah indah tiap indah
Yang siap memantapkan
Seluruh harapan para rakyat

Namun semua itu mustahil 
Itu hanyalah khayalan
Yang merekah 
Oleh hampanya persatuan
Yang tertindih
Oleh seluruh omong kosong 
Yang tersentuh 
Oleh belas kasihan jahanam
Yang terkekeh
Oleh kritik munafik 
Yang roboh 
Oleh megahnya perbedaan sosial

Puisi by Feliciano Lucky Pratama
IG : feliciano_48

0

Ayu Akal dan Kalbu by Dwi Anjeli P

Dulu negeri ini terang benderang
Layaknya bagaskara yang setiap hari menyinari
Dulu negeri ini berpikiran luas
Seluas nabastala alam semesta

Sekarang negeri ini gelap gulita tanpa ada lentera
Sekarang negeri ini tak lagi damai bagaikan serayu
Sekarang negeri ini tak lagi kalis Se
Sekarang negeri ini lebih banyak menangis

Hai anak bangsa, hai generasi muda
Sudah senangkah kau meraih gelabah itu
Gelabah yang membuat pertiwi dalam hama nestapa
Kau bilang kau nirmala, tapi tabiatmu tercela

Wahai perintis nusantara
Jangan bertabiat ayu hanya karena mengharapkan kima
Bertabiatlah ayu dimanapun kau berpijak
Bersihkan atmi hingga tercium arumi

Wahai penerus bangsa Indonesia
Jadila daksa yang penuh akan dama
Jadilah daksa yang ayu dalam akal dan kalbunya
Untuk meraih hima harsa sampai ke nirwana

Puisi by Dwi Anjeli P
Instagram : dwianjeli10
36

Kunci Penerus Bangsa by Dea Ferbiliana Fajri

Zaman seakan lupa dengan keadaan,
Sejarah hanyalah dongeng yang diabaikan,
Merasa paling hebat dalam pengetahuan,
Merasa paling pintar dalam pemikiran.

Semua semakin terlihat buas,
Norma mulai terkikis,
Moral mulai menipis,
Inikah kemajuan zaman?

Perubahan adalah hal yang pasti,
Kemajuan zaman tidak bisa dihindari,
Kuatkan benteng pertahanan generasi,
Agar tidak tertindas globalisasi.

Bangkitlah wahai penerus bangsa!
Jangan terlena arus peradaban,
Jangan terombang-ambing tanpa harapan,
Negara butuh masa depan.

Jangan lemah,
Jangan menyerah,
Terus gali tanpa henti,
Buatlah jalan untuk menerangi.

Berjuang mengarungi lautan terjal,
Berjuang melewati jurang menakutkan,
Buang rasa takut gagal,
Ingat! Kegagalan hanya mimpi kosong tanpa angan.

Kembalikan jati diri yang sebenarnya,
Kedepankan nilai moral,
Kedepankan nilai norma,
Itulah kunci bagi penerus bangsa.

Bangkitlah wahai penerus bangsa!
Terbanglah hingga langit ketujuh,
Gapai ribuan bintang nan indah,
Untuk masa depan yang lebih cerah.

Puisi by : Dea Ferbiliana Fajri 
Instagram : @deafebriliana_
38

Pemuda Pemudi Harapan Bangsa by Azritamara Shalsadila

Ku kayuh biduk ditengah muara 
Kemudi ku patah ditengah lautan 
Ku langkahkan kaki selangkah demi selangkah 
Untuk menggapai sebuah tujuan 

Bentangan langit biru menyinari mata
Lautan luas tiada tepinya 
Keagungan Tuhan sangatlah nyata 
Demi mewujudkan harapan bangsa 

Matahari berputar pada porosnya
Planet-planet beredar sesuai ketentuannya
Anak bangsa membentangkan sajadahnya
Demi terciptanya moral dan etika

Geografi ilmu bumi
Bumi yang tidak ada ujungnya
Jika ingin memimpin negeri 
Hidupkan moral dan etika didalam jiwa 

Moral dan etika hilang ditelan bumi 
Saat dunia disibukkan dengan teknologi
Mata menunduk mulut berbicara 
Apakah etika sudah tidak ada? 

Bangun-bangun para pemuda pemudi bangsa
Negeri kita sudah tua
Bagaimana bisa membangun moral dan spritual
Jika anak bangsanya tidur-tidur saja

Ayo langkahkan kaki
Ayunkan tangan
Wujudkan harapan membangun moral dan spiritual
Indonesia jaya, indonesia merdeka, indonesia jaya


Puisi by Azritamara Shalsadila
Ig: azritamara_shalsadila
0

Kita Adalah Anak Alam by April Lia

Kita satu ibu 
Satu rahim dalam kandungan pertiwi
Kita adalah kata yang sunyi
Menyeruak menghempas ingar bingar kehampaan negeri
Kita adalah anak alam
Anak negeri yang ingin berdikari
Kita satu semesta
Menyapa rembulan
Menyapa bintang
Menyapa matahari
Kita adalah anak yang diciptakan oleh tangan Tuhan
Tuhan pemilik raga yang hakiki
Kita bangun rasa bersama 
Kita kuat kita saling topang
Bersama menjadi pribadi yang bersih

Puisi by April Lia 
Instagram @ei_prill
0

Anak Baru? by Dinda Putri Rahmawati

Anak Baru?

Kicauan burung menenangkan hati, embun menempel di daun, dingin menyeruak ke dalam tulang. Seorang gadis remaja sedang duduk di jendela kamarnya, menikmati semua suasana itu. Hahh, terasa sangat tenang hati ini, batinnya.

***

“ARINII!”

Teriak sebuah suara mengagetkannya, ternyata sudah setengah jam dia duduk disitu, tidak terasa sekali sudah saatnya ia harus kembali ke rutinitas awalnya, pergi ke sekolah.

“Iya, Ma. Arini siap-siap.”

Arini pun segera bersiap untuk berangkat ke sekolah, mandi, memakai seragam, dan setelah dirasa sudah siap ia segera keluar dari kamar dan menghampiri ibunya di dapur untuk sarapan.

“Maa, masak apa hari ini?” Tanya arini seraya memeluk pinggang mamanya dari belakang yang sedang menyiapkan sarapan

“Nasi goreng sama telur mata sapi, kesukaan kamu. Sana duduk, biar mama siapin dulu.”

“Asiik, aku sayang mama.” Ucap Arini sambil mencium pipi mamanya dan duduk di meja makan

Arini dan mamanya pun sarapan dengan tenang dan sesekali Arini bercerita tentang kehidupan sekolahnya.

“Arini berangkat dulu, ma.” Arini mencium punggung tangan ibunya

“Hati-hati, sayang.”

Arini pun pergi dengan sepeda motornya sambil melambaikan tangan kepada mamanya

***

15.30 WIB, SMA NUSA BANGSA

Kegiatan sekolah memang sangat melalahkan, jam segini lah jam yang sangat menyenangkan karena sudah waktunya pulang ke rumah. Arini pun segera menuju lahan parkir tempat iya memarkir motor dan melajukan motornya untuk pulang ke rumah.

Saat diperjalanan pulang, di dekat rumahnya ia melihat ada dua anak kecil sedang bertengkar di pinggir jalan. Arini pun berniat untuk menghampiri dan memisahkannya.

“Hey hey kamu berdua. Udah-udah jangan bertengkar!” Ucapnya seraya memisahkan keduanya

“Kak, dia duluan tau ga dia ngambil mainan aku.”

“Bener itu? Kamu ngambil mainannya?”

Anak itu malah lari menjauh seraya melempar mainan itu ke tanah.

“Nyebelin banget si kamu!”

“Udah-udah gapapa, sekarang kamu pulang. Ini mainannya, ga rusak kok agak kotor aja sedikit.”

“Makasih ya kak”

Arini tersenyum seraya melihat anak itu yang jalan pulang ke rumah yang memang dekat dari situ. Arini terdiam dan berpikir tentang anak yang lari tadi, sepertinya ia merasa belum pernah melihat anak itu sebelumnya. Ia pun akhirnya melanjutkan perjalanan untuk kembali ke rumahnya.

Sesampainya di rumah ia tidak lupa mencium tangan mamanya dan segera ke kamarnya untuk membersihkan diri. Selesai membersihkan diri, ia keluar dan ke ruang tengah untuk berbincang dengan mamanya, kemana ayah arini? Ayah arini sudah meninggal karena sakit jantung sejak Arini masih berumur 5 tahun.

“Ma, tadi masa ya kan aku lagi pulang ada anak kecil berantem deket lapangan rw itu loh.”

“Hah? Anak mana?”

“Yang satu si aku pernah liat di lingkungan kita, nah yang satu aku belum pernah liat. Ada yang baru pindah ya ma?”

“Baru pindah? Ohhh iyaiyaa, ada ada. 1 keluarga dua-duanya sibuk sih orang tuanya, jadi anaknya masih 5 tahun tinggalnya bareng sama mbanya art gitu.”

“Iya kali yaa dia kali ya. Pantes aja gapernah liat.”

“Kenapa sih emang berantemnya?”

“Katanya sih gara gara yang anak baru itu ngambil mainannya si anak satunya, rebutan, berantem deh. Pas aku tanyain eh si anak baru malah kabur sambil ngelempar mainannya aja gitu.”

“Kenapa gitu ya?”

“Gatau juga deh, ma.”

***

Keesokan harinya, Minggu pagi

Arini yang sedang berjalan mengelilingi lingkungannya melihat anak yang kemarin baru pindah itu katanya di dekat lapangan sedang duduk di penpopo yang ada dekat situ. Arini akhirnya memutuskan untuk menghampirinya.

“Hai, kamu.”

Anak itu ingin kabur lagi, tapi segera ditahan oleh Arini. “Ehh, jangan kabur. Gapapa sini aja ngobrol sama kakak. Kakak gaada temen nih.”

Akhirnya anak itu menurut, mereka pun duduk berdampingan di pendopo tersebut.

“Nama kamu siapa? Nama kakak Arini.”

Anak itu hanya diam saja

“Kok diam aja si, kan kakak mau kenalan.”

“Yah sedih deh kakak dikacangin.” Ucap Arini dengan raut wajah dibuat sedih

“Gio.” Jawabnya sangat pelan

“Ha? Siapa? Kakak gabisa denger.”

“Gio.” Dengan suara yang lebih pelan

“Ohh Gio. Gio baru pindah disini ya?”

Gio pun menganggunk

“Gio ke pendopo ini sama siapa?”

“Sendiri.”

“Loh mama papanya mana?”

“Kerja.”

“Terus Gio di rumah sendiri?”

“Sama mba.”

“Nah, mbanya kemana?”

“Ke pasar, Gio kabur.”

Arini terkejut mendengarnya namun berusaha tenang

“Kakak boleh Tanya?”

Gio hanya menjawab dengan anggukan

“Anak yang kemarin itu… dia nakalin kamu?”

Gio langsung menoleh kepadanya, mungkin terkejut dengan pertanyaannya

“Cerita aja sama kakak, kakak ga akan marahin kamu kok.”

Gio menjawab dengan gelengan

“Tapi kamu betul ambil mainannya?”

“Iya.”

“Kenapa?”

Gio diam sejenak

“Gio iri.”

Arini menunggu Gio melanjutkan ucapannya

“Gio juga mau mainan kaya gitu, Gio selalu cuma dikasih uang uang dan uang, Gio gabutuh uang, Gio mau mainannya dan juga mau main sama mama papa, dia bisa beli mainan dan main sama mama papanya. Gio gabisa.” Gio bercerita sambil menangis

Arini yang melihatnya iba dan langsung memeluknya, Arini terkejut anak seusia Gio sudah mengalami dan merasakan hal seperti itu, Gio kesepian dan kurang kasih sayang. Mentalnya sudah diuji sejak Gio berusia 5 tahun, karena hal itu bahkan ia sampai mengambil barang yang bukan haknya.

“Gio, kakak ngerti pasti berat. Tapi, mengambil barang orang lain itu ga baik, kalo Gio kesepian main sama kakak ya, kakak siap kok menemani Gio selalu, tapi izin dulu sama mba ya jangan kabur. Udah Gio jangan sedih lagi.”

Akhirnya mereka melanjutkan obrolannya dengan gelak tawa dan kebahagian yang terlihat, dan tentu saja menjadi teman baik.

Nama: Dinda Putri Rahmawati

Instagram: dinpuut

0

Teka - teki Di Antara Kita by Ilham Maulana

 Teka – teki Di Antara Kita

“Whooaaam, ngantuknya hari ini, kemarin abis nugas ampe jam pagi. Dan sekarang keadaan masih jam 10 malah di sekolahan lagi. Kapan sih cepet pulang!” geram Ijul saat jam istirahat.

***

Malam yang sunyi ditemani sang rembulan bintang yang setia membersamai. Ijul dan Tole duduk bersandar di teras rumah sambil mengobrol beberapa topik yang bisa terbilang tidak masuk akal.

“Bang, kamu punya pikiran gak kalo kamu jadi super hero kayak misal di mobile legends jadi Thamuz yang bisa ngebakar dirinya dan bisa ngebuat dirinya bukan mati tapi malah nambah kuat, atau seperti....” ucap Ijul yang terpotong abangnya.

“Ett, apa sih kamu, gini nih keabisan obat ngehalu mulu kerjaannya,” potong Tole.

“Apa sih bang, orang nanya serius juga,” cetus Ijul.

Begitulah perilaku Tole ke Ijul, mereka sering sekali bercanda, dan yang paling sering dilakukan oleh Tole yaitu menggelitiki adiknya. Namun, entah terlalu berlebihan atau memang kondisi adiknya yang sedang lemah saat itu Tole menggelitiki Ijul hingga ia tak sadarkan diri.

“Jul !!, Ijul !!, bangun jul !! kamu kenapa, jangan bercanda lah !!” cemas Tole.

Seketika seisi rumah pun terkejut karena keadaan Ijul. Situasi pun memanas karena Ibu langsung menampar Tole akibat kelakuannya yang tidak dapat ditolerir karena mengancam nyawa dari adiknya sendiri. 

***

“Nak, ada apa denganmu ?, kok bisa kamu berada di sini ?” tanya seorang Bapak

“Saya tidak tau pak, saya rasa tadi masih bercanda dengan abang saya, kenapa saya tiba-tiba di sini ya ?” jawab Ijul sambil kebingungan.

“Oh, baiklah sini saya coba bantu kamu kembali , lasian tuh keluarga kamu menunggu” ucap seorang Bapak misterius tersebut.

“Ahahahahahahahah, gelii tidak !!, gelii hentikan !, hentikan !” teriak Ijul sembari bangun dari pingsannya selama seharian penuh.

“Ijul !!” teriak sang Ibu sambil menangis bahagia

“Jul, maafin abang ya udah berlebihan ke kamu. Abang janji gak pernah lakuin hal itu kembali ke kamu, maafin abang ya Jul,” ucap Bang Tole dengan penyesalan yang amat mendalam.

“Ibu, Abang, Ijul gak papa kok,” ucap Ijul sambil memeluk haru.

Malam telah berganti menjadi pagi, dan hari ini merupakan hari minggu. Kejadian kemarin merupakan hal yang sangat tidak terlupakan terutama untuk Tole. Seperti biasa di hari minggu Ijul dan Tole melakukan rutinitas yakni berlomba-lomba membereskan seisi rumah mulai dari membersihkan kamar mandi, kamar tidur, ruang tamu, dapur, dan juga lingkungan rumah seperti taman dan juga teras rumah.

Tidak disangka, Tole sangat terkejut karena biasanya Ijul hampir tidak pernah bisa mengalahkan kemampuan membersihkan rumah, namun pada kali ini hanya hitungan detik Ijul bisa membersihkan tugasnya dengan baik dan sangat rapih.

“Eh jul, kok bisa sih ngalahin abang sampe abang kualahan gini,” cetus si Tole

“Hehe….,” jawab Ijul dengan sedikit tersenyum

***

“Ibu, aku berangkat ya,” ucap Ijul kepada Ibu.

“Oke, nak. Hati-hati ya, semangat !” jawab Ibu dengan penuh harapan.

Setelah berpamitan dengan Ibunya, Ijul pun melanjutkan perjalanan, dan diperjalanan melihat ada orang yang bertabrakan antara motor dan mobil. Dengan sesegera mungkin Ijul menggelitiki tubuhnya dan terjadilah pemutaran waktu mundur yang mengakibatkan mobil dan motor tersebut tidak terjadi tabrakan.

“Aaaaaaaaaaa,” teriak orang yang di mobil.

“Loh ?!, tadi bukannya kita sudah kecelekaan, eh kok bisa ?, apa mimpi ya ini, Astaghfirullah”.

***

Ijul kembali melanjutkan sekolahnya, dan semua orang menatap wajahnya dengan amat serius. 

Entah apa yang dilihat teman-temannya yang jelas ada nyinyiran orang terdengar, bahwa Ijul berbeda dengan yang sebelumnya.

“Weh Ijul, beda banget lu Jul, abis ngapain selama liburan ?” ucap salah satu teman Ijul

“Wahhhh, mantep dah si Jul,” sahut temannya lagi.

“Apasih, orang gua biasa aja, apa yang beda” jawab Ijul dengan santai.

Tiba-tiba….

“Dug…..” Ijul terjatuh karena ada geng siswa jail yang sering membulinya.

“Haha, jangan belagu lu makannya” cetus sang geng siswa tersebut.

Sambil menggelitiki badannya, Ijul bangkit, dan tiba-tiba…

“ZzzzzzZZzzzzzZzzzzzz”

Geng siswa tersebut hangus bagaikan tersengat listrik yang entah darimana datangnya. 

Entah darimana kekuatan itu darimana datangnya, yang jelas setelah Ijul pingsan semua itu pun dimulai. Dan sampai sekarang Ijul selalu melakukan hal tersebut apabila ada hal yang dirasa mengganggu dan butuh pertolongan.

Bersambung…

1. mobile legends : game moba online yang sedang hits yang memiliki beberapa tipe karakter di dalamnya


Ilham Maulana 

Kimia 2020

14

Lentera by Azizah Nuraina Fatwaturrohmah

Lentera

Pagi tersambut hujan, membuat matahari tak mendapat kesempatan untuk menampakkan diri memberi sinar jingganya. Namun, bagi Syifa ini tak menyurutkan semangatnya untuk kembali berpetualang di dunia pedalaman. Syifa selain menjadi mahasiswa PGSD semester 5, ia juga seorang pengajar para anak-anak di daerah pedalaman. Tapi tidak selamanya menetap di satu tempat mengajar. Ia random mencari tempat sesuai kebutuhan anak-anak itu sendiri agar tidak tercipta rasa bosan. Syifa tidak sendiri, ia ditemani oleh dua orang temannya yang bernama Niko dan Kevin. Mereka bertiga sudah dekat semenjak awal-awal menjadi seorang calon mahasiswa baru. Dan hingga sekarang, mereka saling menjaga tali silaturahmi antara satu sama lain.

Syifa, Niko dan Kevin pagi itu berencana untuk mengadakan kegiatan mengajar di daerah hutan pinus yang lumayan jauh dari kampusnya. Karena tempatnya yang rindang dan sejuk, pastilah suasana ini akan membuat para anak didiknya menikmati dan mudah dalam menyerap pembelajaran. Mereka menyewa sebuah bus ⁄ untuk membawa anak-anak. Juga tak lupa mereka membawa makanan ringan yang tentu saja untuk dimakan bersama saat jam istirahat.

“Vin, anak-anak udah pada siap semua?” tanya Niko.

“Udah dong.”

Kevin mengatur anak-anak untuk berbaris dan memimpin mereka untuk berdoa sebelum melakukan perjalanan. “Oke semuanya sebelum kita berangkat, alangkah baiknya kita berdoa dulu agar selalu diberi keselamatan dan kelancaran. Berdoa dipersilakan.”

Semuanya tampak menunduk berdoa memohon kepada-Nya agar diberi keselamatan dan kelancaran dalam melakukan kegiatan. Baik dari mulai mereka berangkat hingga berakhirnya kegiatan.

“Oke selesai semuanya. Sekarang tinggal berangkat ya,” ujar Kevin.

Satu per satu mereka masuk ke dalam bus dengan tertib. Saat semua sudah dipastikan berada dalam bus, mereka segera berangkat menuju hutan pinus. Mereka bernyanyi-nyanyi gembira dalam perjalanan dengan iringan tepukan tangan, agar mereka tidak merasa bosan.

“Nah, kita udah sampai yah adik-adik,” ucap Syifa.

Anak-anak pun bersorak gembira. Mereka segera turun dari bus dan berjalan masuk menuju hutan pinus didampingi oleh Kevin, Niko dan Syifa.

Di dalam hutan, mereka merasa tenang dan sejuk dalam suasana hijaunya pepohonan. Ditambah lagi ada beberapa wahana seperti flying fox, jembatan kayu, jarring laba-laba dan rumah pohon. Rasa tidak sabar memenuhi benak para anak kecil. Namun di samping rasa tidak sabar, mereka juga memiliki rasa takut karena ketinggiannya.

“Adik-adik, disana ada beberapa permainan ya. Nah, sebelum kalian mencoba. Kakak mau mengajak kalian untuk kembali belajar dulu tentang materi yang akan kakak kasih. Setuju enggak nih?” tanya Niko.

“Setuju kak,” jawab anak-anak serentak.

Niko dan Syifa memberikan pengajaran kepada anak didiknya. Sedangkan Kevin mengambil dokumentasi yang dilakukan saat itu. Kegiatan mengajar terlihat sangat mudah dilakukan oleh Niko dan Syifa, juga mungkin terlihat mudah untuk dipahami oleh para anak didiknya. Tidak sia-sia mereka memilih tempat untuk menyebarkan ilmu.

Hawa sejuk masih menyelimuti area perhutanan. Dan semuanya tampak tenang menjalani kegiatannya. Niko dan Syifa masih mengawasi anak-anak yang tengah menulis.

“Nik, habis ini langsung aja atau gimana?” bisik Syifa.

“Iya boleh. Soalnya kita enggak akan lama juga kan?”

“Iya kasihan kalau kelamaan. Kalau gitu, biar aku konfirmasi ke Kevin dulu buat check wahananya,” ujar Syifa.

“Oke,” ucap Niko.

Syifa menghampiri Kevin yang tengah duduk di ayunan. “Kevin, tolong check wahananya dong aman atau enggak. Bisa kan?”

“Bisa kok,” jawab Kevin.

“Nah, itu baru Kevin ganteng. Haha.”

Kevin paham maksud yang dikatakan Syifa dan menunjukkan wajah konyol kepadanya. Mereka pun tertawa bersamaan.



Kegiatan belajar-mengajar hari itu diselesaikan, dan mereka melanjutkan kegiatan untuk bersenang-senang. Pertama, anak-anak di arahkan menuju wahana jembatan kayu. Hampir seluruh anak didik Syifa dan kawannya ini takut untuk mencoba wahana ini. Karena mereka takut akan ketinggiannya.

“Adik-adik, kita akan mencoba wahana ini yah. Nah, siapa yang berani mencoba duluan?” tanya Syifa.

Semua anak didiknya diam saja dan terlihat sangat takut untuk mencobanya. Namun, Niko mencoba untuk membujuk mereka dengan memberitahukan hadiah apa yang akan didapat oleh para anak didiknya jika mereka berani mencoba beberapa wahana di hutan pinus itu.

“Kakak punya cokelat banyak. Nah, siapa yang berani mencoba terlebih dahulu nanti akan kakak kasih cokelatnya,” bujuk Niko.

Anak-anak terlihat sangat bingung. Di sisi lain, mereka menginginkan cokelat itu. Tetapi mereka juga memikirkan akan ketakutan mereka.

“Kalian enggak mau nih?” tanya Niko sembari tersenyum dan menunjukkan cokelat yang digenggam tangannya.

Dengan keadaan yang dikatakan sedikit memaksa mereka, salah satu dari anak didik Syifa pun memberanikan diri untuk mencoba jembatan kayu. Namanya adalah Agus. Seorang anak yang seharusnya jika ia berada di sekolah dasar duduk di kelas 6. Namun keadaan ekonomi orang tuanya membuatnya tak bisa sekolah, sehingga ia mengikuti program sekolah terbuka yang diadakan oleh Syifa dan dua orang kawannya.

Agus melangkah penuh kehati-hatian di atas kayu-kayu yang melayang terhubung dengan banyak tali. Di ujung jembatan tampak Niko dan Kevin tengah menunggu Agus untuk menyeberangi jembatan itu. Dalam genggaman tangan Niko terdapat sebatang cokelat untuk Agus yang nantinya berhasil melewati tantangan ini.

Maksud mereka mengajak anak didik mereka mencoba wahana-wahana di hutan pinus itu untuk membangun mentalitas berani dari para anak tersebut. Supaya apa? Supaya mereka tidak takut jika suatu saat nanti mereka berhadapan dengan masalah yang dapat menyulitkan mereka. Dan juga mereka dapat mengambil keputusan yang terbaik kelak ketika sudah dewasa.

“Ayo Agus, kamu pasti bisa!” Syifa berusaha memberikan semangat pada Agus.

Ayo Agus…

Jangan takut, Gus…

Ucapan semangat pun saling bersahutan dari teman yang satu ke teman yang lain. Hingga Agus merasa tidak takut lagi, ia pun berhasil melewati tantangan menyeberangi jembatan kayu itu. Dan akhirnya, Agus benar-benar mendapatkan cokelat itu.

Setelah Agus menjadi yang pertama menyeberangi jembatan kayu, kemudian teman-temannya pun menyusul jejaknya Agus. Dan semua mulai tidak merasakan takut. Meski baru satu wahana yang mereka lalui. 

“Semuanya, kita kumpul dulu disini,” teriak Syifa yang sedang berada di rumah pohon sembari melambaikan tangan.

Anak-anak itu pun berlarian. Niko dan Kevin yang mengerjarnya pun hingga kewalahan, karena mereka berlari dengan agak cepat.

Niko dan Kevin menjaga anak-anak yang menaiki tangga untuk menuju rumah pohon. Syifa sudah menyiapkan beberapa cemilan untuk dinikmati bersama-sama. Dan anak-anak pun satu per satu sudah mulai berdatangan dalam rumah pohon itu. Syifa yang tengah terduduk menanti kedatangan mereka pun tersenyum manis ketika mereka semua sudah berkumpul.

“Kakak udah nyiapin cemilan buat kalian semua. Dimakan yah, semoga kalian suka.” Syifa menyunggingkan senyumnya.

“Nah, sambil kita ngemil, kakak mau ngasih pertanyaan buat kalian,” ucap Kevin.

“Apa tuh kak?” tanya Bella, gadis berusia 12 tahun yang duduk di samping Syifa.

“Kira-kira ada yang tahu enggak nih tujuan kakak-kakak tadi ngajakin kalian buat mencoba jembatan kayu?” tanya Kevin.

“Supaya kita enggak takut ketinggian kak,” jawab Agus.

“Yap, betul. Itu salah satu tujuan kakak ngajakin kalian buat nyobain tadi. Tapi ada tujuan utamanya. Apa sih kak Niko?” Kevin melempar pertanyaan pada Niko yang tengah melihat-lihat gambar yang di ambil Kevin di kameranya.

“Oke. Jadi, tujuan kita sebenarnya itu untuk membangun mental keberanian kalian. Gimana supaya kalian menjadi berani dalam menghadapi beberapa masalah ke depannya. Gimana supaya kalian menjadi kuat menghadapi masalah itu. Dan bagaimana supaya kalian bisa mengambil solusi terbaiknya,” jelas Niko.

“Nah betul tuh kak Niko. Apalagi kita ini termasuk orang yang kurang, pasti di setiap saatnya ada masalahnya. Entah itu terkait biaya hidup, tempat tinggal, bahkan sebagai pengajar pun kakak juga terkadang bingung harus cari tempat dimana yang cocok untuk kalian. Supaya kalian enggak gampang bosan, supaya kalian kelihatan senang gitu. Jadi, pada intinya hari ini mengajarkan kita agar kita menjadi orang yang berani, tangguh, kuat dalam menjalani hidup. Kita enggak boleh menyerah, meski di belakang kita ada masa lalu yang mencoba menarik kita, di bawah kita ada jurang berisi duri tajam yang siap melukai kita disaat kita terjatuh, dan di depan kita ada masalah yang akan selalu datang. Ingat, kita punya Tuhan yang akan selalu membantu kita. Dalam setiap ibadah kita, ketika berdoa pasti didengar oleh-Nya,” sambung Syifa.

Mendengar penjelasan Niko dan Syifa, anak-anak itu pun merasa terharu dan amat sangat berterimakasih kepada Kevin, Niko dan Syifa. Dengan susah payah selama 2 bulan mereka mengadakan program sekolah terbuka ini. Ketiga orang ini amatlah berharap, setelah mereka melatih keberanian pada anak didiknya, anak-anak ini akan terbentuk dan tumbuh menjadi seseorang yang tangguh dan berani dalam hidupnya masing-masing. Dan juga, selama mereka mengajar dapat memberikan masa depan yang cerah bagi anak-anak tersebut yang dapat membanggakan keluarganya.

Hari ini berakhir dengan pelukan hangat di dalam rumah pohon. Semuanya segera pulang setelah kegiatan di kawasan hutan pinus itu selesai. Dan hari ini menjadi hari yang amat berharga bagi Kevin, Niko, Syifa maupun anak-anak itu. Terutama bagi ketiga sahabat yang seperti lentera, yang memiliki harapan yang terang untuk membangun masa depan bagi anak-anak pedalaman.

-Azizah Nuraina Fatwaturrohmah

@azizah_nuraina02

9

Belajar dari Kisah yang Telah Ada by Yunan Sari Lingga Buana

 Belajar dari Kisah yang Telah Ada


Suara kicauan burung dari rekaman suara membuat minggu pagi bagi kedua insan

berbeda jenis tersebut menjadi damai. Kemudian salah satu dari mereka membawa sarapan ke

meja di ruang keluarga. Saat mereka akan menyantap hidangan tersebut, tiba-tiba terdengar

suara teriakan seorang gadis dari atas sana.

“Ayah, Ibu!” teriakan seorang gadis yang sedang berlari menghampiri kedua insan tersebut.

“Ayah, Ibu, lihat Manvi. Dia sudah berjanji padaku untuk mengembalikan buku kisah

Ramayana hari ini, tetapi dia tidak mengembalikannya. Lihat saja nanti, kamu akan dapat karma

karena tidak memenuhi janjimu itu.” adu gadis itu kesal dengan menunjuk sumber

kekesalannya. Tidak lama kemudian muncul gadis lainnya dan berucap,

“Berhentilah memanggilku Manvi, Kak Mila. Panggil aku Avi.” dengan penuh penekanan saat

menyebutkan namanya. “Untuk buku itu, sudah ku katakan padamu jika aku belum selesai

membacanya. Tunggu sampai aku selesai.” lanjutnya dengan nada yang tak kalah kesal.

Kedua insan tersebut yang tak lain adalah orang tua kedua gadis tersebut hanya dapat

tertawa melihat pertengkaran keduanya. Bagi mereka pertengkaran kecil ini sudah menjadi

makanan sehari-hari mereka, bahkan yang awalnya damai dan sunyi langsung berubah berisik

karena mereka. Gadis-gadis itu bernama Urmila Yasirah, sang kakak, dan Manvi Yasirah, sang

adik. Mila baru saja menginjak kelas 1 SMP dan Avi kelas 6 SD sehingga sangat wajar jika

mereka sering sekali bertengkar.

“Lihat Ibu anakmu itu, pagi-pagi sudah bertengkar saja.” ucap ayah sambil tertawa melihat

pertengkaran kedua putrinya.

“Anakmu juga itu Ayah.” tanggapan ibu dengan tertawa pula.

“Kalian ini memang senang sekali bertengkar setiap pagi, dan sekarang tentang buku

Ramayana. Ayo kalian duduk dahulu dan ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi.”

ucap ibu dengan geli.

Kemudian kedua gadis tersebut duduk dihadapan kedua orang tuanya dengan tatapan sebal satu

sama lain. Lalu mereka mulai menjelaskan apa yang terjadi.

“Ayah, Ibu, dua minggu yang lalu Avi meminjam buku Ramayana milikku, dan hari ini tepat

untuk mengembalikannya. Tetapi saat aku memintanya, dia tidak ingin memberikannya

padaku.” jelas Mila. Kemudian ayah meminta penjelasan dari Avi.


“Ayah, Ibu, aku sudah mengatakan alasannya pada kak Mila jika aku belum selesai

membacanya.” jelas Avi.

“Tetapi kamu sudah janji padaku akan mengembalikannya dua minggu setelahnya, dan jika

kamu belum selesai, kamu bisa melanjutkannya nanti. Lagipula aku pun belum selesai

membacanya saat kamu meminjam.” balas Mila dengan kesal.

“Itu salah kakak sendiri, mengapa meminjamkanku jika kakak belum selesai. Selain itu, kakak

kan tahu jika aku tidak suka membacanya setengah-setengah.” balas Avi tak kalah kesal.

“Jika aku tidak menuruti keinginanmu itu, aku yakin kamu akan terus merengek untuk

dipinjamkan. Jadi, Ayah, Ibu, apa aku salah jika menagih janjinya itu? Tidakkah seharusnya

Avi menepatinya kan?” balas Mila jengkel.

Setelahnya ayah membenarkan duduknya seraya berkata, “Baik, ayah mengerti

permasalahannya sekarang. Avi, sekarang ayah minta agar Avi segera mengembalikan bukunya

pada kakakmu!” perintah ayah kemudian. Mila tersenyum senang mendengarnya.

“Tetapi Ayah, aku ...” bantah Avi, namun tidak selesai karena ibu menatapnya tajam.

Kemudian ibu menghela napasnya sebelum berkata,

“Urmila, kamu tidak salah untuk menagih janji itu. Tetapi mintalah dengan baik-baik dan

berikan penjelasan kepada adikmu agar mengerti. Dan Manvi, tidak seharusnya kamu mengelak

untuk menepati janjimu itu, sayang.” ucap ibu dengam tersenyum kepada kedua putrinya.

Kedua gadis itu pun tertunduk diam dan hening sejenak hingga,

“Kalian mengatakan bahwa kalian sudah membaca cerita Ramayana bukan? Walau tidak

selesai.” perkataan ibu selanjutnya membuat Mila dan Avi menegakkan kepalanya.

“Iya Ibu.” ucap keduanya bersamaan dengan antusias.

“Kalau begitu kalian masih ingat tentang ayah Śrī Rāmā, Raja Daśaratha, yang terikat janji

kepada salah satu istrinya, Ratu Kaikeyī, tiga buah permohonan karena dahulu sang Ratu telah

menyelamatkan Raja pada suatu pertempuran?” tanya ibu.

“Iya Ibu, aku ingat. Aku telah menyelesaikan bab itu.” ujar Avi senang.

“Aku juga Ibu, dan aku masih ingat apa yang diminta oleh Ratu Kaikeyī saat itu. Aku bahkan

masih kesal dengan orang yang menghasut sang Ratu.” jawab Mila dengan nada kesal karena

mengingat bagian cerita itu.


Ayah yang mendengarnya pun bergabung dengan mencoba menguji ingatan kedua putrinya

tentang kisah itu.

“Memangnya Ratu Kaikeyī dihasut oleh siapa?” tanya ayah sembari tersenyum.

“Mantara!” jawab Mila dan Avi antusias.

“Mantara sangat jahat sekali Ayah. Padahal dia hanya pelayan, tetapi berani sekali untuk

menghasut seorang Ratu dari Ayodhya.” lanjut Avi.

“Itu benar Avi, mantara memang jahat. Maka dari itu jangan sampai Mila dan Avi bertindak

seperti yang dilakukan oleh Mantara. Menghasut itu perbuatan buruk dan dosa. Kalian

mengerti?” jelas ibu.

“Mengerti Ibu.” jawab keduanya bersamaan dengan senang.

Dari hal ini kita dapat melihat bagaimana kedua gadis yang tadinya bertengkar, tiba-tiba

menjadi akur dan antusias hanya karena sebuah cerita. Bagi kedua orang tua mereka, hal ini

sudah biasa terjadi. Anak-anak mereka sangat suka membaca dan mendengar suatu kisah zaman

dahulu.

“Tadi Mila mengatakan jika Mila tahu apa yang diminta Ratu Kaikeyī kepada Raja Daśaratha.

Apa itu?” tanya ibu kepada Mila.

Mila menjawab, “Ratu Kaikeyī meminta agar putranya, Bharata, diangkat menjadi Raja dan

mengasingkan Śrī Rāmā ke hutan selama 14 tahun.” ibu tersenyum mendengarnya, dan

bertanya kembali, “Lalu apa jawaban Raja Daśaratha, Avi?”

“Raja Daśaratha menolak permintaan tersebut. Namun karena terikat oleh janjinya tersebut,”

tiba-tiba Avi terdiam, dan yang lainnya masih menunggu kelanjutan cerita darinya, “karena

terikat oleh janjinya, dengan berat hati dan bujukan dari putranya, Śrī Rāmā, Raja Daśaratha

memenuhi permohonan itu.” lanjut Avi dan menundukkan kepalanya.

Ayah dan ibu tersenyum penuh arti mendengar bagian cerita itu dari Avi, begitupun dengan

Mila.

“Ada apa Avi?” tanya ayah dengan tersenyum.

“Ayah, Ibu, Kak Mila, maafkan aku. Seharusnya aku menepati janjiku dan tidak mengelaknya

seperti Raja Daśaratha. Tolong maafkan aku.” ucapnya dengan sedih dan akan menangis.

“Jangan menangis sayang. Sekarang Avi tau jika perbuatan Avi itu salah. Seperti Raja

Daśaratha, meskipun dia sangat menyayangi Śrī Rāmā namun karena janjinya maka dia harus


melepaskan puteranya ke hutan.” ucap ayah dengan lembut, “jadi segeralah kembalikan

bukunya pada kakakmu dan penuhi janjimu itu.”

Kemudian Avi bergegas ke kamarnya dan menyerahkan buku tersebut kepada kakaknya

sambil berkata, “Jika kakak sudah selesai membacanya, pinjamkan kepadaku lagi ya. Tetapi

kakak jangan membocorkan ceritanya padaku, aku baru selesai membaca sampai bagian Dewi

Sītā menginginkan seekor kijang.” dengan nada yang lucu sambil duduk kembali.

“Iya, nanti kalau sudah selesai aku berikan padamu.” balas Mila dengan tersenyum.

“Nah kalian harus selalu ingat, jika kalian telah berjanji akan sesuatu maka segeralah penuhi

janji itu dan jangan pernah mengelaknya. Mengerti?” nasihat ayah.

“Mengerti Ayah.” ucap mereka serempak.

“Dan ingat juga, jika kalian tidak memenuhi janji kalian maka di masa depan kalian akan

mengalami hal yang serupa dengan itu. Seperti itulah hukum karma, tindakan yang pernah kita

lakukan di masa lalu akan kita dapatkan hasilnya di masa depan.” nasihat ibu.

“Maka jadikan karma sebagai suatu pedoman dalam bertingkah laku sehari-hari, karena

pengaruhnya itu sangat besar bagi kehidupan kita.” tambah ayah.

“Baik Ayah, Ibu.” ucap keduanya besama-sama dengan tersnyum.

“Seperti kematian Raja Daśaratha itu kan Bu?” tambah Mila.

“Iya benar sekali. Wah putri sulung ibu ini sangat pandai ya.” ucap sang ibu bangga.

“Ibu aku juga.” ujar Avi dengan merajuk.

“Iya sayang, Avi juga pandai.” ucap ayah sambil mengusap rambut anak bungsunya.

Tiba-tiba Mila bertanya, “Kalau begitu apa alasan Śrī Rāmā mau menerima keputusan Raja

Daśaratha untuk pergi mengasingkan diri ke hutan? Bahkan dia membujuk ayahnya itu untuk

menepati janjinya.”

“Putriku, disekolah pastinya kalian diajarkan untuk berbakti kepada agama dan juga orang tua.

Keputusan Śrī Rāmā ini tidak hanya untuk memenuhi janji ayahnya, namun juga sebagai bentuk

bakti kepada orang tuanya. Śrī Rāmā dengan tulus dan ikhlas menjalankan keputusan tersebut.”

jelas ayah dengan tersenyum.

“Lalu Ayah, bagaimana dengan ....”


Pembicaraan itu tidak berhenti begitu saja, namun terus berlanjut dengan pertanyaan-

pertanyaan yang terlontar dari Urmila dan Manvi. Sebenarnya minggu pagi ini tidak jauh


berbeda dengan hari minggu sebelumnya. Mereka akan bertanya dan mengatakan pemahaman

mereka terkait beberapa bagian dari buku yang telah mereka baca. Berbedanya hanya pada

cerita yang diangkat dan diawali pertengkaran, namun setelahnya mereka akan berbaikkan dan

bertanya ataupun bercerita seperti saat ini. Tidakkah keluarga mereka begitu hangat dan damai.


Nama : Yunan Sari Lingga Buana

Id Instagram : yunss_89

0

Nasihat by Tika Kurnia Amaliyah

 Nasihat


“Nadeem!” suara Bu Alia memanggil. Aku maju ke depan kelas, mengambil kertas hasil

ulangan harian matematika. Kulipat kertas itu dan segera kembali ke tempat duduk. Gagal

lagi, gumamku. Ku lihat raut wajah gembira teman-teman di sekitarku. 100, 90, 85, 80. Dapat

ku lihat nilai-nilai itu dari secarik kertas yang mereka pamerkan ke sesamanya. Huft, tak

apalah, hasil ini berbanding lurus dengan usahaku. Ya, malam sebelum ulangan ini

dilaksanakan, aku hanya asyik menonton money heist, seri favoritku.

“Assalamualaikum bu, Nadeem pulang!” seruku sambil mengetuk pintu rumah. Seorang

wanita berumur 40 tahun membukakan pintu itu setelah beberapa kali aku ketuk. “Kok

tumben cepat pulangnya?” tanya wanita yang adalah ibuku itu. “Ada rapat guru, bu.” jawabku

sambil mencium tangannya. Segera ku naik ke lantai dua tempat kamarku berada. Hari ini

cukup melelahkan, pikirku. Aku hempaskan badanku ke benda empuk yang dibalut seprai

bergambar logo juventus itu. Sambil melepas rasa lelah dengan merebahkan tubuh, aku

menatap langit-langit kamarku yang berwarna putih polos. Ku ambil lipatan kertas yang ada

di tas dan ku buka tanpa mengubah posisi telentangku. Nilai 60 lagi, gumamku. Aku tidak

terlalu sedih dengan hasil itu, sebenarnya. Tetapi, melihat teman-teman lain dengan

bangganya memamerkan nilai tinggi di kelas sangat membuatku muak, ditambah lagi pujian

yang sangat dilebih-lebihkan dari Bu Alia kepada mereka. “Andai saja Bu Alia tahu

bagaimana cara mereka mendapatkan nilai-nilai haram itu,” gumamku, “Pasti Ia tak akan sudi

mengatakan hal-hal manis tersebut kepada mereka.” Ya, Sagar, Yogesh, Navid, dan Nihal

sudah langganan meyontek di setiap ulangan. Kuis, ulangan harian, ujian tengah semester,

bahkan dalam ujian akhir semester pun mereka tak takut menjalankan aksinya. Sebenarnya,

teman-teman sekelas sudah mengetahui hal ini, hanya saja tidak ada yang berani speak up dan

memilih untuk diam saja, mengingat orang tua mereka memegang posisi penting di sekolah

kami. Ini tahun kedua kami menjadi teman sekelas, dan siang itu aku merasa sudah sangat

muak dengan kelakuan mereka.

Ku langkahkan kaki menuju kamar mandi, dan segera mengambil wudu sesaat setelah azan

berkumandang. Ku gelar sajadah di samping kasurku dan ku laksanakan salat asar. Setelah

selesai, ku panjatkan doa dengan khusyuk, “Ya Allah, mungkin hamba memang bukan siswa

yang rajin, apalagi pintar. Akan tetapi, hamba tidak pernah berbuat curang dalam pelaksanaan

ujian. Hamba selalu jujur, Ya Allah. Hamba selalu mengerjakannya dengan usaha sendiri.

Akan tetapi, seperti yang telah Engkau ketahui, ya Allah, ada beberapa teman hamba yang

berlaku curang, dan hal itu telah berlangsung lama. Hamba mohon kepada-Mu, ya Allah, mudahkan hamba dalam mengerjakan ujian sehingga mendapatkan hasil yang memuaskan, ya

Allah. Hamba sudah muak melihat lirikan ejek dari mereka. Hamba sudah muak mendengar

ceramah Bu Alia yang terkesan merendahkan. Untuk pertama kalinya, hamba ingin sekali

merasakan rasanya mendapat nilai bagus. Hamba janji akan mulai rajin belajar, Ya Allah.

Hamba mohon kepada-Mu. Hanya Engkau-lah tempat hamba meminta segala sesuatu.

Perlihatkanlah keadilan-Mu, Ya Allah. Hamba tahu, tidak ada sebaik-baik keadilan,

melainkan keadilan-Mu. Hamba mohon, ya Allah. Hamba sangat merasa ini tidak adil bahwa

mereka, yang sama malasnya dengan hamba, mendapat nilai yang fantastis dengan cara yang

tidak benar. Hamba mohon, ya Allah, bantu hamba untuk menegakkan keadilan di kelas, ya

Allah, hamba mohon. Kabulkan doaku ini, ya Allah, Aamiin.” Ku usap kedua tangan ke wajah

dan langsung sujud dengan cukup lama. Sepertinya itu merupakan doa terpanjang yang

pernah ku panjantkan. Begitulah, sangat besar hasratku untuk menghentikan kecurangan

mereka.

Untuk pertama kalinya, ku duduk di meja belajar, ku buka buku pelajaran yang paling tidak

ku suka, yaitu matematika. Demi bisa membuktikan kepada semua orang bahwa aku bisa, aku

harus belajar dengan giat. Aku sangat-sangat fokus mempelajarinya hingga tertidur lelap pada

tengah malam.

“Nadeem!” teriakan ibuku yang ketiga kali sukses membangunkanku. Saat itu adalah kali

pertamaku bangun dengan perasaan riang. Sangat sulit dijelaskan bagaimana belajar

matematika sebelum tidur dapat membuatku senang saat bangun tidur. Aku pun segera

bangun dan bersiap berangkat ke sekolah.

Jam di gerbang menunjukkan pukul 06.15 saat ku melangkah masuk ke sekolah tercinta. Ku

berjalan dengan percaya diri disertai senyum yang merekah di wajahku. Aku duduk di tempat

duduk seperti biasa dan menunggu bel masuk berbunyi.

Jam pelajaran pertama hari itu adalah matematika. Bu Alia berjalan masuk kelas tepat setelah

bel dibunyikan. “Hari ini kita kuis, ya. Semua barang yang ada di meja kecuali alat tulis,

dimasukkan semua ke dalam tas.” Bu Alia memberi perintah. Entah ada angin apa yang

merasukiku saat itu, aku berdiri dan berkata, “Bu, agar tidak terjadi kecurangan, lebih baik

tasnya ditaruh di depan kelas saja. Dan untuk telepon genggam, saya sarankan untuk

dikumpulkan di meja Ibu saja agar tidak ada siswa yang sengaja menaruhnya di kantung

celana atau rok, bukannya di tas.” Bu Alia menggangguk sebagai tanda setuju. Siswa kelas

pun melakukan perintah Bu Alia yang didasarkan pada saranku tersebut. Dapat ku lihat jelas wajah Sagar, Yogesh, Navid, dan Nihal yang menatapku kesak. Ku balas mereka dengan

senyum.


Bu Alia membacakan soal-soal kuis. Senyuman puas terpancar di wajahku mendengar soal-

soal yang dibacakan tersebut sangat familiar karena telah ku pelajari sehari sebelumnya.


Sebaliknya, dapat ku lihat dengan jelas gerak-gerik 4 serangkai si raja curang tersebut.

Sepertinya kali ini mereka tidak dapat berbuat apa-apa kecuali mengerjakan kuis tersebut

seorang diri.

Dua hari setelahnya, aku melihat notifikasi whatsapp masuk yang berasal dari grup kelas. Ku

buka pesan tersebut dan betapa kagetnya aku membaca pesan yang dikirimkan Bu Alia di

grup tersebut. Bu Alia merupakan guru matematika sekaligus wali kelas kami sehingga kami

mempunyai grup yang juga beranggotakan beliau di dalamnya. Tanpa sadar, air mataku

menetes. Pesan yang dikirimkan Bu Alia ke grup kelas tersebut membuatku terharu. Pada

intinya, beliau menyampaikan dua poin. Yang pertama, beliau mengekspresikan

kekecewaannya kepada siswa yang selama ini dia puji-puji yang pada kenyataannya berbuat

curang. Sebelum mengirimkan pesan tersebut di grup, beliau ternyata telah menanyakan

tentang hal itu kepada pihak yang bersangkutan, yaitu 4 serangkai, untuk memastikan

dugaanya. Setelah berkali-kali ditekan, akhirnya mereka mengakui perbuatannya. Mereka

selalu menggunakan telepon genggam mereka untuk mencari jawaban dari soal ujian. Hal itu

sangat membuat Bu Alia terpukul.

Poin kedua yang disampaikan beliau adalah bahwa beliau mengapresiasi kejujuran siswanya.

Tangis bahagia semakin pecah ketika aku melihat nama Nadeem Maksoot Nagarji, yaitu nama

panjangku, disebut dalam pesan itu. Beliau berterima kasih atas saranku yang membuka

pikirannya. Selain itu, beliau juga menyebut bahwa aku lah yang mendapat nilai tertinggi di

kuis tersebut. Ya, siswa yang biasanya memperoleh 60, 50, 55, kini mendapat nilai 100. Siswa

yang dulu beliau remehkan, ternyata memiliki potensi yang saat itu belum terasah. Beliau tak

lupa meminta maaf atas kata dan perbuatan beliau yang mungkin menyakiti hati siswanya.

Sebagai akibat dari perbuatan curang 4 serangkai, mereka diberi hukuman skors selama satu

minggu. Tak kusangka hal tersebut mendapat respon positif dari teman-teman lain yang juga

muak dengaan tindakan curang 4 serangkai tetapi tidak berani untuk melawan.

Segera setelah ku selesai membaca, ku tunjukkan pesan tersebut kepada ibuku. Ia memelukku

erat seraya berkata, “Ibu bangga sama kamu, Nadeem. Kamu persis sekali seperti ayahmu.

Teruskan menjadi orang jujur ya, nak. Jangan pernah takut akan sesuatu selama kamu benar.

Selalu perjuangkan kebenaran, sesulit apapun itu. Jangan lupa untuk berdoa kepada Allah. Ibu mendengar saat kamu berdoa dua hari lalu. Ibu terharu, Ibu sangat bangga sama kamu. Dunia

ini keras, nak. Ingat pesan ibu, tetap perkuat mental dan spiritualmu. Hal itulah yang dapat

membuat kamu survive di dunia ini.”

Lima belas tahun kemudian, nasihat ibuku tersebut terbukti. Ia benar, dua hal itulah yang

mengantarku menuju kesuksesan hingga saat ini aku berhasil memimpin perusahaan ekspor

terbesar di Indonesia.

SELESAI.


Tika Kurnia Amaliyah

59

Langit yang Tak Sama by Mutiah

 Langit yang Tak Sama


Aku berjalan memecah kesunyian malam dengan deru nafas dan helaan penat, kucoba

menelusuri jalan. Hatiku terasa sesak sedang fikirku, berkelana bagai tau bagaimana

menambah beban. Kini aku sampai dipersimpangan jalan yang tak jauh lagi akan

menghantarkanku ke sebuah tempat yang dinamakan rumah. Lucu bukan, disaat orang-orang

sangat ingin berpulang, aku justru sebaliknya. Disaat rumah bermakna hangat bagiku rumah

hanyalah sebuah tempat yang menyesakkan dengan penuh kenangan dan kepura-puraan. Ingin

rasanya berpulang ke tempat dimaana kau berada, kau yang pergi dan meninggalkanku.

“Assalamualaikum,” ucapku menunggu jawaban di depan pagar.

“Walaikumsalam, gimana tadi kuliahnya?” balas wanita paruh baya sibuk membukakan pagar

untukku.

“Seperti biasa, ibu kenapa belum tidur?” tanyaku padanya yang aku tahu ia sama lelahnya

denngan ku.

“Sebentar lagi tidur, kamu sudah makam belum? Kalau belum, makan dulu tadi ibu masak

buat kamu, jangan lupa bersih- bersih terus istirahat ya cantik,” ucapnya sembari mengelus

pelan pipiku.

“Iya, ibu juga tidur ya, istirahat,” balasku mengakhiri percakapan.


Ku hempaskan tubuhku ke ranjang, kutatap lekat langit- langit. Kembali terlintas raut

wajahnya, seorang wanita yang tak lagi muda, entah mengapa hatiku terasa sesak


menyaksikan serta mendengar segala kebohongan yang ada. Aku tahu bahwa semua tak baik-

baik saja, aku tahu ia pun lelah namun mencoba bertahan. Sudah tiga bulan sejak aku bekerja


paruh waktu di sebuah restorant, dan sudah 5 bulan sejak tragedi naas itu, tragedi dimana

mengubah kehidupanku dan juga ibuku.


“Rara kesayangan ayah tumben mandi,” ucap ayah usil menggodaku.

“Ihh ayah apasi, malu tau!” balasku jengkel.

“Ada apa si yah, suka iseng deh anaknya digangguin mulu,” ucap ibu menggelengkan kepala

akan tingkah ayahku.


“Bu, aku digangguin papah mulu nih,” ucapku lari kepelukan ibu meminta pembelaan.

“udah biarin aja ayahnya, kamu ikut ibu aja yuk sarapan,” ajak ibuku meninggalkan ayah.

“Jahat nih, masa ayah ga diajak?” ucap ayahku sembari mengejar kami.

Kring.... kring.... Kring... Kring...

Dering jam berhasil membangunkan sekaligus membawa diriku tersadar bahwa semua itu

hanyalah mimpi. Perlahan sesaat tersadar kurengkuh tubuhku, kucoba menahan tangisku

namun tanpa sadar setetes air mata terjatuh kepipiku. Sebuah mimpi yang amat kudamba

keberadaannya. Ya, ayahku yang telah lama kurindu, yang kini kehadirannya sangat aku dan

ibuku harapkan. Seorang laki-laki yang mampu mengubah hidup kami akan ketidak

hadirannya. Kucoba menahan diri, kuambil handuk mencoba melepas diri dengan guyuran air

dingin dipagi hari.


“Selamat pagi, ibu masak apa?” sapa ku melihat ibu sibuk di dapur.

“Tumben kamu bangun pagi banget, ini ibu lagi masak buat sarapan sebentar lagi masak

kok,” balasnya yang masih sibuk mengaduk masakan.

“Bu, nanti aku pulang malam lagi ya,” ucapku seraya mencicipi masakannya.

“Semenjak kepergian ayah kenapa kamu jadi suka pulang malam nak?” tanya ibu keheranan.

“Tugas kuliah aku numpuk bu, jadi mau gamau deh aku gini,” jawabku singkat berharap ibu

tak curiga,

“Yaudah, tapi jangan pulang malam banget ya,” ucap ibuku.

“Siap mamah cantik,” balasku memperlihatkan seyum indahku.

Sebenarnya aku tidak mau terus menerus berbohong tentang pekerjaan paruh waktuku kepada

ibu, namun bagaimana lagi hanya ini yang dapat kulakukan agar tidak menambah bebannya.

Apalagi selepas kepergian ayahku, ibuku sering jatuh sakit. Oleh karena itu aku harus bekerja

paling tidak untuk mencukupi kebutuhan ibu dan pengobatannya. Sebenarnya ibu pernah

curiga akan uang yang selalu kuberikan, hingga aku terpaksa berbohong bahwa itu merupakan

uang beasiswa yang kudapat. Aku terpaksa berbohong agar mamah mau menerima dan tidak

merasa sedih mengetahui bahwa kini aku harus bekerja untuk agar dapat mencukupi

kebutuhan kami.


“Sya, selesai ini kamu ada acara ga? Kerjain tugas bareng yuk,” ajak Rizka pada Syasya tepat

didepanku.

“ Rara, kamu ikut juga yuk,” ajaknya tepat sebelum aku pergi.

“Maaf Rizka, tapi aku ga ikut dulu ya,” balasku tak enak hati pada mereka.

“Oh iya gapapa kok,” jawab Rizka.

Ini, sudah bukan pertama kali aku menolak ajakan teman-temanku. Sebenarnya aku yang dulu

seorang wanita yang ceria dan suka berteman dengan siapa saja, terlebih lagi aku yang dulu

suka sekali mengikuti organisasi di kuliah. Namun semenjak kepergian ayahku, entah

mengapa aku lebih suka untuk menyendiri, belum lagi aku harus bekerja sehingga membuat

diriku semakin jauh dengan teman-teman. Pada akhirnya, aku memutuskan untuk keluar dari

semua organisasi yang telah aku ikuti. Aku rasa mereka juga mengerti akan perubahan diri

dan sikapku setelah kepergian ayah, sebenarnya banyak dari mereka mecoba mendekati dan

berusaha memahamiku. Namun lagi- lagi aku mencoba menutup diri.


Kini aku sedang berjalan di sebuah persimpangan menuju tempatku bekerja. Tak lama saat

aku mengedarkan pandangan, mataku bertemu dengan seorang gadis berambut ikal panjang,

samar aku pun menyadari siapa dia, dengan cepat aku membalik berharap dia tak

menyadariku. Belum sempat aku berlari terdengar suara dengan riang memanggil namaku,

“Eh, Rara?! Rara!” sapanya dengan ceria.

Tak lama kemudian terdengar derap kaki menghampiri diriku. Aku berusaha meyakinkan

diriku bahwa tak apa untuk sekadar bertemu sapa, lagi pula aku dapat beralasan untuk

menyudahi nantinya. “Oh haii” ucapku canggung bersamaan dengan lambaianku padanya.

“Ganyangka banget bisa ketemu sama kamu, oh ya anak- anak kan lagi negrjain tugas

bersama, kamu ga ikut?” tanya Indri padaku.

“Oh itu aku ngga ikut, kebetulan aku memang ada urusan,” jawabku.

“Oh gitu, yaudah kalau gitu aku pergi dulu ya. Kamu juga kayaknya lagi buru- buru,” ucap

Indri padaku.

“Iya duluan ya, hati- hati Indri,” ucapku yang dibalas anggukan olehnya.


Aku bersyukur dalam hati dapat mengakhiri percakapan dengan cepat, aku tidak mau teman-

temanku mengetahui tentang pekerjaanku. Bukan karena malu tapi aku hanya takut nantinya


berita tersebut akan tersebar hingga ke telinga ibu. Aku merasa cukup aku yang menopang

beban ini dan ibuku tidak boleh lagi terluka.


Aku kembali berjalan menyusuri jalan yang setiap malam kulewati. Hari ini rumah makan

tempaku bekerja sangat ramai sampai tidak ada waktu untuk sekadar beristirahat. Namun

dibalik lelah ku, aku merasa senang paling tidak jika rumah makan ramai, nantinya aku akan

mendapat bonus. Kugenggam erat plastik ditanganku, sebuah plastik berisikan makanan dari

rumah makan. Tadi sebelum pulang kami diberikan bungkusan makanan untuk dibawa pulang

karena kami sudah bekerja keras. Aku berusaha berjalan secepat mungkin karena aku tahu ibu

pasti menungguku. Sesampainya di persimpangan jalan rumah, kulihat rumah dengan lampu

menyala, sesegera mungkin aku pulang tak enak hati mebiarkan ibu menungguku.


“Assalamualaikum,” ucapku, namun tak seperti biasa salam ku tak kunjung mendapat balasan.

Kubuka pagar dan kuketuk pintu, betapa terkejutnya aku mendapati pintuku tak lagi terkunci.

“Assalamualikum bu, ibu?” kucoba menahan gejolak dihatiku dan segala fikiran buruk yang

merasuk kedalam diriku. Kucoba menelusuri rumah namun tak kunjung aku menemukan ibu.

Kucoba menelfon ibu namun tak ada jawaban, hatiku sesak membayangkan apa yang terjadi.

Kuletakkan tas dan juga makanan yang kubawa di meja, akupun berlari mencoba bertanya

kepada para tetangga namun tidak ada satupun yang tau keberadaannya. Kaki ku lemas

memikirkan keberadaan ibuku. Kembali kutatap lekat foto keluarga kami yang terpajang di

ruang tamu. Air mata mengucur dari pipiku, entah mengapa aku merasa buntu. Aku tidak

dapat menemukan ibuku dan aku tidak tau bagaimana keadaannya. Hatiku sesak

membayangkan aku akan kehilangan dirinya seperti aku kehilangan ayahku dulu.

Drrt.. drrt...

Dengan cepat kuambil handphone ku berharap sebuah panggilan dari ibu, namun dahiku

mengernyit heran saat kulihat nama yang tertera adalah Indri temanku.

“Halo, Assalamualaikum,” ucapku pada Indri.


“Walaikumsalam. Ra, aku mau kasih tau kalo ibu kamu lagi sama aku. Sekarang aku sama

yang lain juga mau kesana. Jadi kamu jangan khawatir ya.” ucapnya disebrang telepon.

“Alhamdulillah, iya Ndri dari tadi aku bingung ibu ada dimana. Makasih ya aku tunggu di

rumah.” ucapku mengakhiri telepon.

Tak lama ku menunggu, sebuah ketukan pintu mengejutkanku. Segera aku berlari dengan

harap ibuku tak terluka. betapa terkejutnya aku, dihadapanku bukan hanya ibu dan Indri tetapi

semua teman kuliah dan teman-teman yang selama ini bersamaku berbagi pengalaman dan

kisah ada dihadapanku.

“Ra?” ucap Dimas menyadarkanku.

“Kalian, kenapa kalian semua kesini? Ibu aku dimana?” ucapku penuh tanya.

“Ibu kamu ada kok di mobil, sekarang kita masuk dulu ya. Ada yang mau kita omongin dan

jelasin.” ucap salah satu teman ku Indri dengan wajah merasa tak enak.


Kini kami semua sudah berkumpul diruang tamu, Ibu yang sedari tadi kucari kini berada

disampingku. Aku berusaha menenagkan pikiran entah mengapa aku merasa janggal dan

bingung akan keberadaan teman- temanku. Hingga akhirnya salah satu dari mereka membuka

suara berusaha menjelaskan apa yang terjadi.


“Aku tau Ra kamu sekarang pasti bingung banget, jadi sebenarnya selama ini aku dan teman-

teman berusaha cari cara buat nolong kamu. Kita tau kamu terpukul atas kepergian ayah kamu


dan kita berusaha ngerti akan sikap kamu selama ini. Tapi Ra, kamu ga sendiri, kita semua

ada buat kamu. Selama ini aku dan yang lain tau kamu bekerja sambilan dan berusaha

menanggung beban semua ini sendiri,” ujar Indri.

“Jujur Ra, kita ga bisa diem aja dan berpura-pura ngga tau. Sampai akhirnya kita memutuskan

untuk diem-diem menghubungi ibu kamu dan menceritakan semua. Ra kamu harus tau kita

semua ada buat kamu jadi aku mohon jangan ngerasa sendiri, kita akan bantu kamu dan

masalah ayah kamu, kamu harus ikhlas Ra. Aku tau memang berat tapi ini semua yang

terbaik.” ucap Indri menahan tangisnya.

Pertahanan ku hancur, kini aku terisak dalam. Tak mampu kumenahan beban yang ada, entah

mengapa ucapan Indri dan keberadaan yang lain mengahangatkan hatiku. Membuat ku

tersadar bahwa aku tak sendiri, bahwa aku tak perlu berusaha kuat menahan segalanya.


“Maaf, maaf aku egois, maaf aku berusaha menjauh dan merasa kuat buat semuanya,” uacpku

terisak dalam.

Kurasakan sentuhan hangat menyentuh punggungku, tak lama kurasakan rengkuhan ibuku,

teramat dalam hingga membuatku luluh. Tangisku tak lagi sesak, kini segala bebanku

mengalir bersama tangisku. Membuat ku sadar akan siksa yang selama ini menjeratku.


Hari berlalu tak terasa, sudah tujuh hari semenjak kejadian malam itu. Kini aku menjalani

hariku yang dulu. Diriku yang ceria dan penuh akan tawa ria. Kini akupun mulai kembali

berorganisasi seperti dulu meskipun aku masih harus tetap membagi waktu dengan

pekerjaanku. Berkat kejadian kemarin aku mengerti, ada kalanya langit biru menakuti,

kicauan pagi hari tak lagi dinanti. Cerahnya langit dan sinar mentari hanya menyesakkan diri

ketika seorang yang teramat berarti pergi, Ketika itu terjadi kunci terbaik hanya diri sendiri.

“Ra, yuk pulang. Udah mau malem.” Indri mengingatkanku.

“Iya,” jawabku. “Aku pulang dulu ya, yah,” ucapku pada ayah yang beristirahat tenang

dibawah timbunan dan rerumputan tanah.

Ayah, aku sudah mengikhlaskan mu. Kau tau, aku beruntung bersama mereka yang selalu

disampingku. Beristirahatlah yang tenang disana. Aku percaya yang maha kuasa mencintaimu

melebihi diriku.

--------------------------------------------------SELESAI--------------------------------------------------


Nama : Mutiah

ID Instagram : @mutiahsiregar

0

Arif Tidak Selalu Bijaksana by Mulyana

 ARIF TIDAK SELALU BIJAKSANA


Malam itu bulan nampak malu tuk menyinari bumi yang diselumuti awan gelap nan

kelabu. Desir angin yang dingin seakan menusuk kulit dengan tajamnya. Kilatan petir dan suara

guruh menambah kesunyian malam. Mungkin tak lama lagi hujan kan turun.

Aku berdiri di jalan setapak yang gelap nan sunyi. Hanya ditemani senter kecil yang

kuambil laci kamar ibuku. Aku sengaja pergi dari rumah karena aku begitu kesal atas apa yang

ayahku lakukan. Tiga puluh menit yang lalu, aku tengah menekan-nekan layar kecil berbetuk

persegi panjang di kamarku. Entah mengapa tiba-tiba ayah mengambil handphone dari tanganku.

Yang kuingat kala itu jam menunjukan pukul 6 sore.

“Cepat mandi, ayo kita sholat berjamaah!!!” teriak ayah.

Aku berusaha untuk mengambil handphone-ku kembali. “Bentar dulu yah, game-nya

belum abis.” Aku memohon.

“Liat kakakmu, Kahfi sudah berdiri lama di sana menunggumu.” Mata ayah sudah

memerah dan tangannya sudah mengepal.

“Iya aku tahu, tapi bentar lagi.” Aku masih berusaha.

“Nggak boleh, pokoknya ayo kita sholat.” Ayah kali ini sudah benar-benar marah.

“Nggak mau siniin Hp nya.” Aku mulai kesal juga. Owh ya FYI hubungan aku dan ayahku

sedikit renggang. Kami sering kali bertengkar karena masalah sepele. Hal ini berbeda dengan

kakakku. Dia berbeda lima tahun dariku, mungkin karena itulah dia selalu menuruti perkataan

ayah dan akhirnya mereka akrab.

“SHOLAT, PAKKKKK.” Suara yang terdengar keras itu berasal dari tangan ayah yang

mengenai wajahku. Jujur sangat sakit namun tetap aku membangkangnya. Ini tamparan yang

sering aku terima. Kemudian aku keluar dari kamar meninggalkan ayah yang entah apa yang

dipikirkannya.

Di depan pintu aku lihat kakak dengan balutan koko putih dan berpeci hitam yang aku

kira berdiri selama aku main game tadi. Mungkin tiga puluh menit atau bahkan lebih. Wajahnya

yang polos dan terlihat sangat baik seakan-akan mengatakan jangan pergi. Namun aku balas

dengan tatapan yang berartikan maaf kak, aku harus keluar sebentar.

Oh ya, namaku Arif. Muhammad Arif. Mungkin kala itu orang tuaku ingin aku menjadi

orang yang bijaksana (Arif dalam Bahasa Arab berarti bijaksana). Namun saat ini aku rasa aku

bukan orang seperti itu. Dari aku kecil sampai sekarang aku rasa ayah lebih menyayangi kakak

dari padaku. Makanya aku selalu membangkang perkataannya. Dan menurutku itu adalah bentuk

dari rasa protesku. Kali ini aku berencana untuk menginap di rumah temanku.


Sudah tiga hari aku menginap, begitu sangat membosankan. Dan sialnya HP-ku masih di

tangan ayah saat aku pergi dari rumah. Sudah puluhan kali kakak menelepon dan mengirim pesan

singkat lewat temanku, namun tak pernah aku angkat maupun balas. Saat itu aku masih kesal,

namun entah mengapa aku ingin pulang, mungkin aku rindu rumah.

Ketika aku hendak pulang, temanku yang rumahnya aku inapi mengajak aku ke tempat

tongkrongan. Dan aku pun ikut, sebelum pulang aku harus fresh dulu pikir ku. Namun entah

mengapa pikiranku masih rindu rumah, haruskan aku pulang saat ini? ah kalau di rumah paling

aku ditampar lagi sama ayah. Aku ingat ketika aku berumur 8 tahun, aku dihukum oleh ayah

untuk mengapal 2 juz Al-Qur’an karena aku mengambil uang mushola yang kugunakan untuk


main warnet. Ketika aku berumur 12 tahun aku dihukum tidur di mushola selama 3 hari berturut-

turut. Kala itu aku ketahuan mengintip santriawati di kamar mandi. Dan yang terakhir ketika


umur 15 tahun aku ditampar untuk pertama kalinya karena menyebarkan poto Kak Kahfi yang

sedang mandi tanpa pakaian apapun ke sosial media Twitter yang menyebabkannya viral.

Ah pokoknya aku harus pulang pikirku, ketika aku hendak pergi, teman tongkronganku

menepuk pundak untuk tetap duduk. Kala itu mereka mengajakku untuk minum (minuman

keras). Jujur senakal-nakalnya aku, aku tidak pernah terpikirkan untuk meminum barang haram

tersebut. Botol demi botol itu mulai dibuka, dan dituangkanlah air yang berada di dalamnya ke

gelas-gelas kecil. Semua temanku sudah memegang satu-satu, hanya aku saja yang belum. Aku

menggelengkan kepala menandakan tidak mau. Namun mereka malah tertawa meremehkan.

Sungguh aku merasa tersinggung. Akhirnya tanpa sadar tanganku sudah memegang gelas kecil

itu dan segera kuteguk cairan yang ada di dalamnya.

Sungguh minuman yang sangat menyegarkan. Dan mungkin mulai sekarang ini adalah

minuman favoritku. Tanpa sadar dibantu dengan bisikan setan gelas demi gelas aku minum. Ah

pikiranku seakan melayang, mataku memerah dan rasanya manis. Mungkin rasa itulah yang

sekarang tergambar di pikiranku yang membuatku mabuk tak sadarkan diri.

Jam alarm berwarna hitam yang melingkar di pergelangan tanganku berbunyi

menandakan sudah pukul 6 pagi. Aku buka mata sedikit demi sedikit. Kepalaku sakit, sangat

sakit. Aku tengok sekelilingku, aku sendiri, tidur di depan ruko yang saat ini belum buka. Sial

aku ingat kejadian semalam. Ternyata aku mabuk.

Akhirnya aku berjalan dengan kepala yang masih sakit. Setelah 30 menit aku sampai di

gerbang pesantren milik ayahku. Namun kenapa orang-orang di jalan menatapku aneh. Bahkan

sampai sekarang, banyak santri yang menatapku. Aku teruskan berjalan sampai ke rumah. Aku

lihat rumah begitu sepi, kemana ayah yang selalu duduk di depan menunggu jadwal mengajar,


kemana ibu yang selalu menyapu dan menungguku di depan rumah, dan kak Kahfi yang selalu

menyambutku dengan hangat ketika aku pulang dari kaburku. Kemana mereka semua?

Jujur hatiku saat ini sangat khawatir dengan mereka semua. Kuberani kan tanganku tuk

membuka pintu. Krekk, suara pintu menyambutku. Aneh, kenapa ada paman duduk di ruang

tamu? Bukankah dia ada luar negeri? Kak Kahfi juga kenapa matanya memerah? Tidak mungkin

bukan kalau dia habis minum sepertiku?

“Akhirnya kau pulang juga?” Paman angkat suara. Dia berdiri dan berjalan ke arahku.

Tatapannya sama kejamnya dengan ayah. Mematikan.

“Kenapa?” aku bertanya kebingungan.

“Kamu tahu Rif....” suara paman terhenti oleh kak Kahfi. Tapi kenapa dia marah?

“Kamu makan dulu Rif, kakak udah nyiapin sarapan di dapur.” ujar kakak tak pernah

berubah. Selalu khawatir denganku.

“Cukup Kahfi, Arif kamu dari mana saja akhir-akhir ini?” tangannya mengepal persis

dengan ayah.

“Aku pergi bentar.”

“Udah paman, Rif ayo kita sarapan.” Kakak menarik tanganku namun dihentikan oleh

paman.

“Kahfi berhenti, anak tak tau diri harus tahu.”

“Tahu apa kak?” tangan kakak semakin erat memegangiku.

“Gara-gara anak sialan seperti lu Rif, kakak gua meninggal. Ayah lu.”

Perkataan paman seperti petir di tengah hari. Aku berdiri kaku. Seperti ada batu besar

yang menimpa dadaku. Sangat sesak. Aku lihat air mata kak Kahfi sudah tak terbendung yang

menandakan ia sangat sedih. Tunggu kenapa aku sangat sedih juga, bukankah aku sangat

membenci ayah.

Air mataku bagai hujan turun. Bibirku diam seribu bahasa. Kenapa mendegar kata paman

begitu menyakitkan? Apakah aku sudah tidak membenci ayah? Atau bahkan emang tidak pernah

membencinya?

“Di...mana ayah kak?” suaraku yang bergetar.

Kak Kahfi tak bergeming. Ia hanya menarik tanganku keluar. Meninggalkan paman

dengan amarahnya. Tak tahu pasti ia tetap membawaku ke suatu tempat. Jalan setapak tempo

hari kini ku lewati lagi. Namun kali ini aku di temani kakak. Cukup jauh kami berjalan dan

semakin tidak enak perasaanku.


Kami berhenti di sebuah gundukan tanah merah yang baru saja ditaburi oleh potongan

bunga. Terlihat gundukan lainnya yang telah usang di tumbuhi rerumputan liar. Di sekeliling

kami tengah berdiri pohon-pohon tua yang mungkin ada sebelum aku lahir.

Aku lihat air mata kakak yang turun bagaikan hujan. “Aku sudah menepati janjiku yah.

Aku sudah membawa anak yang telah ayah tunggu, untuk menemui ayah. Namun aku sangat

menyesal tidak membawanya sebelum ayah pergi. Ayah baik-baik disana ya.”

Apa yang aku denger itu. Ini adalah ayah, tidak, tidak mungkin. Baru kemarin ayah

bertengkar denganku. Aku masih dapat merasakan tamparannya gara-gara kenakalanku. Apa

yang sudah aku perbuat untuknya.

Tubuhku lemas bak tak bertulang. Kupeluk makam yang penuh tanah ini. Air mata yang

entah kapan mulai deras. Aku sangat menyesal yah. Aku sangat menyesal.

“Kamu tahu Rif, ayah terjatuh selepas kamu pergi. Kami membawanya ke rumah sakit.

Sekitar satu hari kami di sana, dan saat itu pula ayah selalu memanggil namamu. Sejak saat itu


aku mencarimu kemana-kemana. Telpon tak pernah diangkat, chat gak pernah dibales. Sampai-

sampai aku nyarimu ke kota sebelah karena aku tahu punya teman di sana. Oh ya aku sangat


terkejut saat dokter mengatakan ayah terkena kanker darah sejak 5 tahun lalu. Selama ini beliau

menyembunyikannya dari kita. Makanya akhir-akhir ini beliau keras kepada kita untuk serius

dalam hidup. Sholat yang rajin, ngaji yang bener, pokoknya beliau mendidik kita supaya kita bisa

menjadi orang yang sholeh baik mental maupun spiritual. Ayah sering sekali marah sama kamu,

tapi itu belum ada apa-apanya. Dulu kakak pernah di pukul, di suruh bersihin WC setiap pagi,

bahkan yang paling kakak inget dulu ayah pernah botakin kakak di asrama. Kamu terlalu kecil

untuk ingat hal itu. tapi kamu tahu, ayah itu sangat sayang sama kita. Ketika kamu di suruh hapal

2 Juz itu karena beliau ingin kamu jadi imam dan melapalkan surat-surat tersebut. Ketika kamu

tidur di masjid beliau tidur di luarnya agar kamu tak apa-apa. Dan untuk tamparan itu beliau

gunakan karena kita sudah kelewat batas Rif.”

Apa yang aku lakukan selama ini untuk ayah, betapa durhakanya aku, Ya Allah. Sering

banget aku banting pintu depan ayah, pecahin gelas dengan sengaja atau membentak ayah jika

keinginanku tidak dikabulkan. Ampuni aku Ya Allah.

“Ayah menitipkan ini buat kamu?” aku berbalik ke kak Kahfi yang sudah menyodorkan

selempar kertas yang masih baru.

Untuk anak bungsuku,

Yang tersayang


Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarukatuh


Anakku yang ayah sangat cintai, 18 tahun yang lalu suara tangisanmu pecah seiring

dengan tangis haru biru ayah, ibu dan kakakmu. Kamu dilahirkan dengan kodisi sehat wal afiat

tanpa cacat setitik pun. Ayah melihat perjuangan ibumu yang penuh menahan beban yang

semoga kelak ia akan berbuah nyata. Dan Alhamdulillah kami mempunyai anggota keluarga

yang kecil nan imut yang ayah berinama Muhammad Arif. Harapan ayah semoga kamu selalu

bijak dalam mengambil keputusan apapun. Seiring dengan waktu anak kecil tersebut tumbuh

dengan baik dan selalu gembira. Anak yang membuat ayah selalu bersemangat dalam bekerja.

Ayah tahu cara ajar keras, kaku dan harus tersusun. Karena ayah ingin kamu lebih baik

daripada ayah. Ayah mengajarmu dengan keras karena ayah tahu kamu sering bermasalah di

sekolah entah karena rokok, iseng ke perempuan bahkan tauran. Ayah tidak mau kamu seperti

itu nak. Karena ayah sayang kamu makanya kamu ayah didik dengan benar. Namun kamu selalu

beranggapan ayah pilih kasih. Tidak nak. Ayah sayang kalian semua. Tak pernah membedakan

kalian.

Di hari ayah nampar kamu, ayah sangat merasa bersalah. Walaupun ayah menampar

kamu sangat lemah lembut, ayah tahu kamu pasti sakit hati. Ayah gak pernah sedikitpun terpikir

untuk menyakitimu. Alasan ayah adalah karena ayah liat setiap jam sholat kamu selalu asik

dengan Hp mu itu. Sering ayah katakan padamu untuk sholat nak, tapi kamu selalu lebih galak

dari ayah. Tapi ayah sama sekali tidak menaruh dendam kepadamu. Ayah sangat

menyanyangimu.

Di hari ayah di rumah sakit saat napas ayah sudah di ujung, ayah tulis untaian kata yang

ayah ingin sampaikan kepadamu. Kakakmu sudah berusaha meneleponmu ratusan kali, bahkan

dia rela jalan kaki ke rumah teman-temanmu, namun ia tak bertemu denganmu. Ayah mengerti

kamu masih marah.

Harapan ayah adalah kamu harus menjadi orang yang yang lebih baik lagi, rajin sholat

dan selalu menjaga kakak dan ibumu. Kamu harus tahu kakakmu punya penyakit seperti ayah.

Wassalamualaikum Warohmatullohi Wabarukatuh

Tertanda,


Ayah


NAMA : MULYANA

IG : ikahfi_17

0

Kenangan untuk Anak-Anak by Muhammad Zhafran Bahij

Kenangan untuk Anak-Anak


Anak-anak merupakan seseorang yang akan menjadi remaja. Remaja adalah seseorang

yang akan menjadi pemuda. Lalu, pemuda adalah seseorang yang akan membawa perubahan

pada bangsa ini baik secara positif maupun negatif. Dengan begitu, dapat disimpulkan bahwa

anak-anak akan membawa perubahan pada bangsa ini. Setidaknya itulah menurut pemikiranku.

Di awal hari yang agak mendung ini, aku sedang bersantai sambil scrolling1


instagram2

untuk mencari kegiatan yang menarik. Tiba-tiba, aku melihat postingan yang menarik sehingga

tanpa ragu aku langsung melakukan bookmark3


postingan tersebut. Kegiatan yang akan

kulakukan kali ini adalah kegiatan yang berhubungan dengan anak-anak. Kegiatan tersebut

diadakan dalam rangka Hari Anak Nasional yang diadakan pada tanggal 20 Juni 2020. Namun,

adanya pandemi membuat kegiatan ini dilaksanakan via zoom4


. Dalam postingan tersebut

dijelaskan bahwa mereka sedang mencari relawan yang berdomisili di sekitar Jakarta. Tanpa

berpikir panjang, aku membuka kalendar di aplikasi ponsel pintar lalu menandainya agar tidak

lupa.

Aku selalu membuat perencanaan dalam kehidupanku sejak masih kanak-kanak. Orang

tuaku mengajarkanku betapa pentingnya rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka

panjang. Waktu aku masih berusia lima tahun, aku merasa itu hanyalah hal yang tidak penting.

Namun, setelah beberapa tahun menjalaninya, akhirnya aku mengerti apa pentingnya suatu

perencanaan. Apapun yang kulakukan saat ini adalah hasil dari perencanaanku di masa lalu dan

hal yang ingin diwujudkan di masa depan.

Selain itu, aku dididik dengan menerapkan prinsip reward5


dan punishment6

dalam

setiap hal sampai saat ini. Hadiah yang diberikan saat masih kecil biasanya adalah mainan,

sedangkan semasa SMP sampai sekarang hadiahnya adalah uang tergantung dari tingkat kesulitan

hal tersebut. Hukuman yang diberikan biasanya hukuman yang ringan tetapi konsisten.

Contohnya saat aku melakukan ulangan semasa SMA, setiap kali remedial hukuman yang

diberikan adalah menyetrika pakaian satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan dua orang adik

laki-laki selama empat hari. Namun, jika ketahuan melakukannya dengan cara pergi ke laundry,

1 Kegiatan menggerakkan layar dari atas ke bawah ataupun sebaliknya.

2 Salah satu media sosial

3 Menandai

4 Salah satu media konferensi daring

5 Hadiah

6 Hukuman


uang jajanku akan dipotong menjadi seribu rupiah selama empat hari. Sedangkan, jika tidak

remedial, uang jajanku akan dinaikkan dua kali lipat selama beberapa hari tergantung dari jumlah

ulangan yang tidak remedial. Jika aku tidak remedial sebanyak sepuluh kali, uang jajanku akan

menjadi dua kali lipat selama sepuluh hari.

Salah satu prinsip hidupku yang kutanamkan mungkin tidak sekuat tokoh utama pada

komik dan film. Prinsip hidupku adalah “jadilah manusia yang berguna, tetapi jangan lupa

sayangi dirimu sendiri”. Penjelasan dari prinsip tersebut adalah aku sangat dianjurkan menjadi

manusia yang membawa kebermanfaatan selama tidak membuat diri sendiri menderita.

Pendaftaran dan seleksinya diadakan bersamaan sampai sebulan sebelum Hari Anak

Nasional. Proses pendaftarannya cukup mudah dan tidak perlu mengeluarkan biaya, tetapi

seleksinya pasti tidak semudah itu. Tinggal tiga hari lagi sebelum waktu pendaftaran selesai.

Dalam waktu yang singkat itu, aku harus bisa mempersiapkan diri.

Tiga hari telah berlalu, dihadapanku terdapat seseorang yang berada di balik layar laptop.

Pertanyaan yang dilontarkan hampir mirip dengan yang ditanyakan oleh orang-orang pada

umumnya seperti seorang pewawancara yang bertanya kepada calon panitia. Aku bisa menjawab

semua pertanyaan dengan lancar tanpa gagap sedikitpun.

Setelah lulus seleksi, aku dimasukkan ke grup panitia yang ternyata berjumlah sepuluh

orang saja. Namun, setelah kubaca baik-baik judul grupnya, aku dimasukkan ke grup sebelas

yang berarti bisa dibayangkan jumlah grupnya cukup banyak. Jabatanku adalah menjadi bagian

publikasi dan dokumentasi karena itulah bagian favoritku ketika menjadi panitia di suatu acara.

Intinya tugasku adalah yang membuat kerangka logo menjadi logo, lalu membuat postingan di

media sosial mengenai acara ini dan terakhir mendokumentasikan saat rapat dan juga acara.

Seperti biasa, isi dari chat grup saat hari pertama adalah kata-kata perkenalan diri dan

saling menyapa antara satu anggota dengan anggota yang lain. Aktivitas ini membuat ponse

pintarku bergetar cukup lama karena banyaknya notifikasi. Mau tidak mau, Ritual ini harus

kuikuti agar bisa menjadi bagian dari mereka. Alasanku mengikutinya adalah hanya keinginan

sederhana, yaitu menunjukkan identitas diri. Menurutku, seseorang tidak akan dikenal sebelum

dia mengenalkan dirinya sendiri. Informasi diri dan gaya komunikasi yang dikeluarkan dapat

memperlihatkan sedikit sifat dan perilaku seseorang. Oleh karena itu, aku pernah diingatkan oleh

ayahku mengenai hal ini.


Ayahku mengajariku cara chatting7


di suatu media sosial. Pada awalnya aku berpikir cara

tersebut tidak sesuai dengan diri sendiri karena sesuai dengan kata-kata tokoh utama di film, yaitu

“jadilah diri sendiri”. Ayahku membalaskan kata-kataku dengan cepat “Kalau begitu, apakah

tokoh antagonis harus menjadi diri sendiri? Apakah dia tidak perlu diceramahi oleh tokoh

utama?” Setiap film yang aku tonton, tidak ada tokoh antagonis yang mengatakan “jadilah diri

sendiri”. Mengapa demikian? Bukankah tokoh-tokoh antagonis juga memiliki hak untuk

mengatakan hal tersebut?

Ayah melihatku dengan tersenyum sambil menatap dirku yang dipenuhi dengan

kebingungan. Ayahku lalu berkata “Seseorang pernah berkata bahwa jadilah versi terbaik dari

diri sendiri.” Kata-kata yang ayah sampaikan kepadaku mirip seperti kata-kata yang pernah

kubaca di buku peninggalan ayah yang tersimpan di perpustakaan pribadi miliknya.

Setiap film yang pernah aku tonton, beberapa diantaranya membuatku tersadar bahwa

lawanku adalah diriku sendiri. Apakah aku bisa mengalahkan diriku yang sekarang ini? Ataukah

aku justru dikalahkan oleh diriku di masa lalu? Semua jawaban tersebut hanya bisa dipahami oleh

diriku sendiri.

Akibat melamun, aku tiba-tiba tertidur sekitar dua puluh menit. Waktuku terbuang sia-sia

untuk melamunkan hal di masa lalu atau mungkin ini adalah kesempatan yang baik bagiku untuk

mengingat kata-kata keren itu.

Dua minggu sebelum Hari Anak Nasional, aku diajak mabar8


oleh adikku yang bernama

Zwei Isnain. Berhubung semua tugas telah aku rencanakan, inilah waktu yang tepat untuk mabar

dengannya. Tiga tahun yang lalu, Adikku dan aku sering diajak bermain game9


terutama game

moba10 dan battle royal11 bersama dengan ayah. Aku tidak pernah tahu mengapa ayahku sangat

jago bermain game , padahal usianya sudah mencapai kepala lima. Orang yang bisa mengalahkan

ayahku hanyalah adikku seorang saja. Adikku sangat ahli dalam memainkan game tersebut,

bahkan pernah mengikuti kejuaraan nasional, tetapi belum pernah memenangkannya. Biasanya

ditengah game , kadang suka kepikiran, “bukankah memainkan game hanyalah membuang-buang

waktu saja?”

7 bicara

8 Main bareng/ main bersama

9 Bisa diartikan sebagai permainan, tetapi mengalami penyempitan makna sehingga hanya permaian elektronik yang

dianggap game

10 Multiplayer Online Battle Arena  ̧ salah satu contoh game-nya adalah mobile legend bang bang

11 Sebuah gameplay di mana banyak pemain dikumpulkan dalam satu tempat. Pemain terakhir yang masih hidup

adalah yang menang. Contohnya PUBG


Setelah kami bertiga bermain game, aku mulai diajak berbicara dengan ayah di kamar

pribadinya. “Peformamu dalam game ternyata tidak sebagus dalam akademikmu.” Kata Ayahku

dengan agak santai. “Maaf, yah! Karena ini game, kupikir tidak begitu penting.” Jawabku sambil

agak tertawa. Mendengar jawabanku, ayahku tertawa. Aku yang tidak tahu harus bereaksi apa

hanya bisa tertawa kecil saja.

Ayahku kemudian berkata “Menurutmu game itu tidaklah penting. Tapi menurut ayah,

game itu sangat penting.” Jika kupikirkan baik-baik, pekerjaan ayahku tidak ada hubungannya

sama sekali dengan game sehingga tidak mungkin game sangat diperlukan. “Tapi, bukankah

ayah bekerja tidak sebagai gamer?” Tanyaku yang heran.

Ayahku berkata lagi kepadaku “Tidak juga. Berkat game, ayah memiliki pemasukan

tambahan serta relasi yang luas untuk bisa saling tolong-menolong. Selain itu, di game moba

mengajarkan kita agar memahami role12


–nya masing-masing. Peran seorang captain13 jadi apa?

Peran seorang pemain tengah menjadi apa? Peran support14 seperti apa? Semuanya harus ada

komunikasi dan strategi yang baik agar kita bisa memenangkan pertandingan. Lagipula,

bukankah menjadi bermanfaat itu bisa meningkatkan nilai seorang manusia selama tidak

membebani diri sendiri?”

Kata-kata ayahku memang selalu hebat. Aku tidak pernah menyangka bahwa seorang

orang tua mendukung anaknya bermain game dan juga aku tidak pernah menyangka dari sudut

pandang ayahku bahwa game itu bermanfaat.

“Tapi, jangan lupakan kewajibanmu, mas Hiji.” Kata ayahku.

Seminggu sebelum Hari Anak Nasional, aku pernah menyarankan kepada teman-teman di

grup agar semakin sering untuk berdoa. Hampir semuanya merespon dengan tanggapan baik,

walaupun beberapa diantaranya tidak ada yang merespon. Alasanku memberikan saran tersebut

adalah karena teringat pesan ayah yang pernah disampaikan kepadaku sewaktu menjelang UN

SMP.

“Ayah, kenapa kalau mendekati UN, malah ada agenda doa bersama dan diharuskan rajin

beribadah?” Tanyaku yang agak penasaran. “Pertanyaanmu agak aneh.” Jawab ayahku dengan

senyuman. “Bukankah kalau melakukan ibadah maka waktu belajarnya akan berkurang?”

12 Peran

13 Kapten

14 Bantuan


Kataku. “Tuhan akan membantu hambanya yang membutuhkan serta Tuhan tidak akan merubah

nasib suatu kaum jika kaum tersebut tidak mau berusaha.” Kata ayahku.

Walaupun ayahku bukan seorang guru ngaji, tetapi memiliki landasan agama yang kuat

dalam keluarga ini. Ayahku bisa selalu mengatur antara hobi, pekerjaan, waktu keluarga, serta

ibadahnya dengan tepat.

Sesuatu yang ada di dunia ini sudah direncakan oleh Yang Maha Kuasa. Rencana yang

kita lakukan hanyalah angan untuk bergerak, tetapi keputusan terakhir di tangan-Nya. Sebagai

seseorang yang diciptakan-Nya, tugasku hanyalah mendekatkan diri kepada-Nya agar anganku

ini terwujud.

Sehari sebelum Hari Anak Nasional, aku menghubungi ayahku dengan cara yang terlihat

aneh yaitu main game. Aku mengajaknya duel lima lawan lima, tetapi kami bermusuhan di salah

satu game moba. Sebelum memulai permainan, aku dan ayahku saling memanggil lewat aplikasi

discord15 agar bisa berkomunikasi.

Aku kemudian berbicara beberapa patah kata “Ayah, bagaimana jika semua hal yang kau

ajarkan padaku akan kuberikan kepada orang-orang karena aku merasa apa yang ayah ajarkan

sangat bermanfaat bagi kehidupan semuanya terutama anak-anak.” Ayahku kemudian berkata

“Sepertinya kau harus melakukannya jika kau ingin menjadi manusia yang bermanfaat . Namun,

apakah nuranimu sudah siap dengan apa yang kau ingin lakukan?”

“Memang itulah yang diinginkan oleh hatiku!” Kataku dengan penuh semangat.

Hari Anak Nasional telah tiba, aku dan teman-temanku melaksanakan kegiatan tersebut

dengan santai. Sebelum kegiatan ini berjalan, ketuaku menyampaikan suatu hal dan dia

mengatakan bahwa kegiatan ini tidak perlu dijalani dengan serius, tetapi dijalankan dengan santai

dan semangat. Oleh karena itu, kami melakukan kegiatan ini dengan santai.


Setelah selesai kegiatan, aku dan teman-temanku saling mencurahkan perasaan masing-

masing. Kami semua tidak menyangka bahwa kegiatan ini tetap seru dilakukan walaupun hanya


bisa lewat daring. Sebelum sesi foto bersama, aku menyampaikan suatu kata-kata walaupun

bukan aku ketuanya. “Anak-anak merupakan seseorang yang akan menjadi remaja. Remaja

adalah seseorang yang akan menjadi pemuda. Lalu, pemuda adalah seseorang yang akan

membawa perubahan pada bangsa ini baik secara positif maupun negatif. Dengan begitu, dapat

15 Salah satu aplikasi untuk komunikasi


disimpulkan bahwa anak-anak akan membawa perubahan pada bangsa ini. Oleh karena itu, peran

kita hari ini adalah mengarahkan anak-anak agar menjadi pemuda yang dapat merubah bangsanya

menjadi lebih baik.”


Nama Pengarang : Muhammad Zhafran Bahij

IG : @rainfog.mzb