Selasa, 02 November 2021

15

Menemukan Rumah karya Adelia Kusuma Wardhani

Perkenalkan, saya Eli, ini adalah isi jurnal saya tentang perjalanan saya dapat bertumbuh dan berkembang dengan banyak perubahan dari sebelum dan selama pandemi terjadi. Tidak hanya manusia, tumbuhan pun butuh proses, ada yang dimulai dari biji, adapula yang dimulai dari spora. Pada akhirnya, semua makhluk hidup bertumbuh. Ku mengingat itu sembari membuka jurnal yang telah kurawat dan kukotori dengan tinta hitam pulpenku dan tangisan yang menguatkan batin yang rapuh.

Kuharap dengan melihat jurnal ini bisa membangkitkan semangatku untuk mau bertumbuh seperti dahulu. Kulihat, di halaman pertama jurnal itu berisi diriku yang mulai putus cinta saat duduk di bangku SMP (Sekolah Menengah Pertama). Iya, ku melihat dunia ku hancur dengan kepergian seseorang yang bahkan tak ingin mendengar alasanku menyakiti hatinya. Saat itu, kupikir tidak apa karena ada seseorang lagi yang sedang menungguku, bernama Bram. Tapi, sebelum kudengannya, ternyata kudengar kabar dari mulut temanku sendiri di sekolah bahwa dia menyukai temanku itu. Alangkah hebatnya terik panas siang itu yang bersekongkol dengan udara untuk memanasi hatiku. Saat itu, aku berduka sepanjang perjalanan dari sekolah ke rumah. Aku pun mencari pelarian, dalam hitungan hari aku sudah memutuskan untuk dengan yang lain. Dia, Bram, telah menungguku untuk menjadi pacarnya sejak aku belum berhubungan dengan pacar pertamaku. Kupikir akan ada udara baru, udara yang berisi segala hal tentang Bram dipikiranku yang akan memenuhi pikiranku saat perjalanan pulang sekolah, menyemangatiku saat lelah, dan menjaga rahasiaku, Tapi, ternyata aku salah. Dia telah mengkhianati janjinya. Dia bongkar rahasiaku hanya untuk mendapatkan teman baru di SMP itu. Sungguh, hancur hatiku sepanjang pulang sekolah. Aku beruntung masih memiliki teman perempuan bernama Syahira yang biasa kupanggil Hira. Dia selalu menemaniku kemanapun aku pergi. Perasaanku pun tenang karena aku merasa diperhatikan olehnya dan aku tidak merasa sendirian. Dia yang menjadi tempatku tertawa tanpa harus bercerita bagaimana perasaanku hari itu. Karena saat bersamanya aku hanya ingin Bahagia tanpa merasakan kesedihan.

Oleh karena Bram yang sifatnya sembrono dan tidak mengutamakan perasaanku, aku pun sering meminta putus dengan Bram. Tak jarang dia merasa sedih. Tapi, dia tidak pernah mengintrospeksi kesalahan fatalnya itu. Tak jarang aku menangis karena banyak pasang mata yang melihatku dengan sinis sebab cerita yang disebarkan oleh Bram kepada mereka. Bahkan, ada yang mulai menaruh perhatian tentang keseharianku di sekolah dan menjadi bahan obrolan saat istirahat, maupun saat jam kosong sebab tidak ada guru yang mengajar di kelas. Aku pun akhirnya meminta putus pada Bram untuk yang keempat dan terakhir sebab sudah tidak sanggup lagi. Aku tidak bisa berhenti menangis selama lima bulan karena itu. Selain itu, aku pun sudah berusaha untuk melupakannya dengan bermain bersama Hira.

Hira ku ajak bermain melanglang buana yang jauh. Ku ajak dia jalan-jalan ke Jakarta, ke Bandung, ke Yogyakarta untuk sekedar melepas rasa lelahku pada dunia ini. Saat itu, memang bertepatan dengan waktu liburan yang berdurasi tiga minggu. Tapi, seminggu setelah kami pulang ke rumah masing-masing saat melanglang buana itu selesai, kumendengar kabar yang bahkan membuat duniaku runtuh. Kudengar dia pindah ke Jakarta untuk sekolah di sana. Awalnya kumengira dia sakit. Kudatangi rumahnya Bersama bendahara kelas dan kubawakan buah-buahan untuknya. Tentunya, tak lupa dengan membawa perasaan seorang teman yang penuh pertanyaan, tetapi diselimuti kelembutan dan kasih saying. Ternyata keadaan berkata lain. Dia benar-benar pergi dari sisiku.

Pupus sudah duniaku. Rumahku sudah tidak ada lagi. Ku sudah tidak punya harapan hidup lagi. Ku berdiam diri di kamar, meringkukkan badan di sudut kamar, mengeluarkan ratusan liter air mata yang mungkin akan membuat perusahaan Aqua mampu mengeluarkan produk baru Bernama “Tetesan Air Mata Kehampaan” dan meraup keuntungan drastis sebab diriku tak pernah berhenti menangis.

Dari sejuta hari penuh kehampaan itu, kumulai membuka media sosialku, Instagram. Kumulai melihat banyak orang yang kehilangan cinta, kasih sayang orangtua, bahkan putus sekolah saat seusiaku saat itu. Iya, aku masih memahami diriku saat itu, melalui kata-kata sedih di sepanjang ku membalik buku jurnal itu. Dari buku jurnalku, aku mengetahui bahwa hatiku masih rapuh saat mendengar orang yang bernasib lebih buruk dariku dan bahkan masih memiliki semangat hidup. Semangat hidup mereka sederhana ternyara, dari ibu mereka sampai saudara mereka yang harus dipenuhi kebutuhan hidupnya karena sudah menjadi tugas para pencari nafkah itu. Lalu, ku melihat lagi konten tentang apa yang menjadi logika paling tinggi dari manusia. Itu bernama ikhlas. Dari konten lain di Instagram, aku belajar bahwa cara menerima kenyataan pahit, seperti saat kita berada di puncak Gunung Everest, gunung tertinggi di dunia, lalu dijatuhkan oleh orang yang paling kita sayang ke dasar samudera terdalam, agar tidak akan sering mengganggu pikiran kita, kita perlu menerima itu dengan lapang dada, lalu mulai ikhlas untuk melepas dan membuang secara perlahan setiap butiran-butiran ingatan itu.

Tidak hanya itu saja, di konten Instagram aku diajarkan untuk mulai menerima kenyataan bahwa aku adalah rumah untuk diriku sendiri, bahwa aku adalah tempat teduh paling indah yang bisa aku rasakan keberadaan orangnya, dan kenyataan bahwa diriku adalah orang yang selalu membersamai diriku dalam susah dan senangnya hidup.

Tanpa sadar, akupun telah membalik halaman terakhir buku jurnal itu. Dengan begitu, berakhirlah ceritaku. Tapi, aku sadar, perjalanan hidupku tidak berhenti disitu. Masih ada angin baru yang akan menghiasi hari-hariku dan masih ada bintang-bintang berisi harapan yang ingin kugapai dengan keanggunanku yang menghiasi jalan perjuangannya dengan penuh keyakinan dan semangat sembari mencintai diriku sendiri.


Cerita Pendek karya Adelia Kusuma Wardhani
Instagram: @adelia.ksm

15 komentar:

  1. Bangkit emang gak semudah itu. Tapi, terima kasih penulis kamu sudah menyadarkan aku dari tulisanmu :')


    Btw aku otw buka depot air minum Tetesan Air Mata Kehampaan deh haha ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. waah, makasih yaa, kadang emang slice of life melow campur ketawa ya, nantikan karya selanjutnya yaa, hihihi

      Hapus
  2. Balasan
    1. waah, makasih ijatt, nantikan karya selanjutnya yaa, hihihi

      Hapus
  3. Keren banget adel, bagus karyanya!

    BalasHapus
  4. Sedih sedih ngakak yang bacanya, but keren banget del asliii, serasa masuk ke dalam ceritanyaa, good job adel, terus berkarya yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. ehehe, biar yang bacanya ga ngantuk. makasih ya, saya pun ketawa bacanya

      Hapus
  5. Asli keren banget dan sangat menyentuh hati juga,tetap berkarya dan sukses selalu kedepannya ya adel

    BalasHapus