Selasa, 02 November 2021

28

JEJAK SANG PEMBURU ILMU karya Indah Heriyanti Kartika Sari

Zaman berganti zaman

Waktu berganti waktu

Kini semua serba maju

Sistem belajar mengajar pun mulai membaru

Dari pedepokan, mengikuti surau dan sekolah yang kini bisa kita rasakan

Semua sama, mereka hanya ingin rakyat biasa bisa menjadi cendekiawan

Para kaum muda menjadi kunci masa depan

Tak pernah segan beradaptasi dengan kebaruan


Saatnya diriku bersiap diri melangkah maju

Menapakkan kaki memburu ilmu

Menuju jalan lurus penuh liku

Nyiuran angin menerpaku

Ukiran manis cahaya tak terukur

Ditemani lantunan syair merdu di langit biru

Hingga tak terasa kian sudah dipenghujung


Kuatkan tekad, kuatkan niat

Hanya satu impian, hanya satu tujuan

Ku yakin bisa, ku yakin kuat

Dengan ransel yang penuh beban di ragaku


Kadang seperti air tenang

Ku rasa mudah untuk mengarunginya

Namun ombak seketika menerjang

Ku coba segala cara agar terus diatas kapal

Bagai ibu yang kehilangan anaknya

Diri ini tak kuasa kehilangan mimpinya


Hancur gelap seperti tak ada harapan

Namun ada satu penerangan

Senyum mereka yang ingin ku berjaya

Ku coba berdiri walau kaki penuh duri

Ku coba berjalan walau tubuh terus tertusuk belati

Sesekali menunduk warna merah terus mendominasi

Ku tak tau rasa apa ini

Seperti ingin menyerah

Serasa tak kuat untuk ku lewati lagi


Ku tak boleh menyerah

Asah terus kemampuan

Asah terus kesabaran

Seimbangkan usaha dan doa

Tawakal terus kepada sang ilahi

Demi masa depan cerah menanti


Puisi karya Indah Heriyanti Kartika Sari
Instagram: @kartikaindah261


17

Arti Pendidikan karya Zalfa Aulia Zahrani

Dengan pendidikan,

Kita paham kehidupan

Dengan pendidikan,

Kita paham kebenaran


Membuat kita mengerti,

Harus jadi apa di dunia ini

Sehingga kita mengetahui,

Ingin jadi apa suatu saat nanti


Pendidikan mengajarkan,

Mana yang salah dan juga benar

Pendidikan memberitahu,

Harus bagaimana dalam berperilaku


Tanpa pendidikan,

Bagaimana hidup kita?

Tanpa pendidikan,

Bagaimana perilaku manusia?


Puisi karya Zalfa Aulia Zahrani

Instagram: @zalfaazn

0

Lentera yang padam karya Hananda Fitri Nur Fadzillah

Mari kita sebut saja dia lentera

Tak bersuara, tak begerak

Namun aksinya nyata pada dunia, menggemparkan semesta

Pandangan cakrawala dan barisan generasi yang akan datang

Menyongsong janji janji yang dibawa mati

Dia, sebagai saksi bisu lentera kecil dari sudut tergelap

Di dalam lorong lorong yang bergema

Menantang semesta

Katanya, merunduklah lentera kecilmu pulang.


Mentari membungkuk,

Menyambut hormat pada gemerlap sinar kecil dibalik kaca

Lentera temaram yang mulai meredup

Cahaya kecil yang memberi setitik harap

Diam nya membentuk bangsa

Usiknya Menjadi kunci peradaban


wahai lentera usang,

Sinarmu menjadi pusat kehidupan

Hargamu yang tak dapat dituker dengan dolar

Hilangmu menggaduhkan, mengibas jauh kedamaian

Kini kembali lah, harap semesta.


Terlambat,

Dunia kembali menampakan kebodohan diri

Lentera usang tak kuat lagi menahan gemercik binar untuk setiap sudut ruang yang gelap

Untuk setiap lorong lorong yang kehingalan arah saat terhempit kenyataan

Dan mereka semua berlalu dengan bengah

Menampakan kebodohan dengan bangga

Semesta gagal, ada yang hilang dan lenyap

Lentera yang tak bergeming, sunyi.

Gelap,

Ia yang redup dunia yang gagap

Padam,

Selamat tinggal kehidupan, selamat datang kebodohan.


Puisi karya Hananda Fitri Nur Fadzillah

Instagram : @hanandafadz

26

Karsa Bestari karya Nanda Permata Putri

 Sandyakala di petang yang indah

Menatri batin yang gundah

Saujana diri ini pergi

Renjana asa tetap terpatri


Asa bestari demi cita yang tinggi

Semua hanya delusi yang kemudian memporak porandakan hati

Dentingan dersik berbisik, seolah mengolah derana

Deru hati dan fikir yang tak logic, tetap tak mencapai tujuannya


Ini adalah senandika keputusasaan

Dari impian kala itu yang bereunoia

Pergi jauh mengejar pendidikan tinggi

Didapati semua hal di renggut paksa oleh pandemi


Harusnya saat ini, diatas kapal terbang ku ukir rasa bangga

Diterima di pendidikan tujuan

Menyalami keluarga yang memberi dukungan

Harusnya jadi kenangan, yang kemudian membekas diingatan


Lagi-lagi semua delusi, pandemi jadi elegi

Litani yang dilangitkan, seharusnya untukku ditengah perjalanan

Tahun ini untuk bangkitkan diri sendiri juga enggan

Mimpi buruk terlanjur mengenai relung hati


Litani saat ini hanya bisa diperuntukan

Pada raga yang terbujur kaku

Yang selalu menyemangatiku

Yang jadi alasanku untuk bestari (berpendidikan tinggi)


kemudian makhluk kecil yang tak kasat mata itu mengambil jiwa ayahku

semua hal jadi hancur, berkeping, bahkan untuk dibenahi perlu waktu sendiri.

Entah seberapa lamanya, tetap tak terlihat tujuannya


Menggali ilmu tinggi dengan lulus dari negeri paman sam

Melanjutkan cita-cita ayahanda, yang kandas karena biaya

Berpendidikan tinggi, mengabdi pada negeri

Itulah lengkara yang memang nekara kemustahilan


Melanjutkan pendidikan kemudian sudah tak kuharapkan

Dalam sanubari diri ingin berjuang, namun motivasi seakan tenggelam

Menjura pada sang Illahi, agar dikuatkan

Dibawah swastamita yang pendar ini, ku harus bangkitkan diri kan?

Saujana swasmita yang melaraskan sanubari, ku harus bangkit untuk pendidikan negeri.


Puisi karya Nanda Permata Putri

Instagram: @putriii.nandaaa

29

Tanpamu, Denganmu karya Putri Rachman Fastya

Gegap gempita ketidaktahuan

Tersesat, tak menemukan pencahayaan

Tak mengerti arti banyaknya goresan

Seakan tuli mendengar semua penjelasan

Melangkahpun penuh keraguan

Beginilah arti hidup tanpa pendidikan


Berusaha terus berusaha

Mencari cahaya-cahaya ilmu

Menggores garis menjadi huruf

Membaca untuk mengerti

Dibimbing oleh sang pendidik

Menjadi aku manusia berpendidikan


Denganmu aku tak lagi ragu

Melangkah sejauh samudra, aku tak takut

Menyelam berbagai ilmu, aku sanggup

Karena denganmu aku bisa berdiri di dunia ini

Denganmu, pendidikan


Puisi karya Putri Rachman Fastya

Instagram: @putrifastya

67

LUKISAN GUBUK PENDIDIK karya Gina Nurhasanah

Ini lukisan kisah kami pribumi gubuk

Gubuk sepanjang pesisir laut yang jernih

Jernih menampak nan sejuk penduduk

Penduduk tulen yang mendidik dengan kasih


Hangat rasanya memandang kenangan

Kala itu, sebelum wabah bertamu

Senyum-senyum ceria menimba ilmu

Dalam gubuk menempuh pendidikan


Pasir pantai membuat kami rindu akan kaki-kaki mungil yang berlarian

Dengan mengalungkan kedua sepatu yang saling terikat pada pundaknya

Menciptakan semangat yang membara

Untuk berjumpa sua dalam gubuk pendidikan


Kami berbeda dengan pribumi gedung

Pintu segala pranala kami tak hubung

Namun bukanlah sebagai penghalang

Bukanlah pula alasan untuk tumbang


Kesukaran tentunya terasa dalam gubuk

Kekhawatiran akan gelap lunturnya lukisan pendidikan

Namun segala arah pena kami coba untuk tetap bertahan

Karena lukisan gubuk inilah tersirat terang harapan pendidik


Dengan segenap ikhtiar kami tunaikan

Juga upaya doa kami panjatkan


Kisah ini akan selalu terukir tanpa batas

Menggores pena ilmu dalam kondisi apa pun

Sehingga senyum-senyum ceria akan kembali terlukis

Pribumi gubuk yang berperan


Puisi karya Gina Nurhasanah

Instagram: @ginanhs

68

Salah Tanpa Tuan karya Muhammad Izat

 Kepada siapa salah harus diserahkan?

Penerus negeri seakan kehilangan harapan

Merangkak dalam kebingungan

Tertidur dalam ketakutan

Terbangun dalam kehancuran


Bagaimana nasib anak tanpa uang?

Diksi pembelajaran seakan mimpi tidur siang

Jangankan membayangkan masa depan

Pencernaannya saja tak bisa hasilkan kotoran


Bagaimana cara belajar tanpa uang?

Semakin eksklusif segala hal tentang pendidikan

Tanpa uang bagaikan tanpa tangan untuk belajar

Tanpa gawai seakan tanpa mata bagi pelajar


Apakah pandemi bisa disalahi?

Karena virus yang menari ke seluruh penjuru negeri

Menjangkit rakyat yang katanya tak bisa jaga diri


Apakah karena permainan petinggi negeri?

Bermain dengan ketakutan seluruh insan

Menikmati hak jutaan manusia kelaparan


Apakah segala salah milik pendidikan?

Karena pabrikasi manusia bejat tanpa perasaan


Ya tidak tahu, mengapa tanya saya?


Puisi karya Muhammad Izat

Instagram: @Izat_2

25

Sekolah Tua karya Ika Apriani Situmorang

Ilalang menguning kering

Karena sang Surya sedang berani-beraninya menampakkan diri

Rerumputan tumbuh subur mengelilingi tanah lapang

Sedang si Bocah itu sibuk bersikejar dengan yang lain


Bocah lugu yang terlahir oleh rasa syukur

Senyum terukir indah di wajahnya

Semangatnya tak pernah pupus

Meski tubuhmu telah kehilangan warnanya


Duhai bangunan tua

Bisakah engkau bersaksi ?

Bukankah bangunanmu yang telah mengusang itu

Menjadi buktinya


Sudah berapa lama engkau membisu?

Teduhmu lupa disyukuri

Kini Bocah sudah beranjak dewasa

Sedang engkau masih setia dengan yang lain


Hai sekolah tua

Hadirmu sebagai peneduh

Melindungi kami dari beraninya sang Mentari

Dan amukan sang Badai


Jika engkau sanggup bercakap

Akan banyak kisah yang engkau ungkapkan

Ingatan tentang hidup yang dicintai

Dengan engkau sebagai saksinya


Puisi karya Ika Apriani Situmorang

Instagram: @Ikaaprni

4

Kelinci Kaum Berdasi karya Siti Nurhazizah

 Aku seorang guru

Mengajar ilmu setiap minggu

Mendidik anak asuh

Tuk mencerdaskan bangsaku

Perjuanganku tak hanya sampai di situ

Di rumah aku menjadi babu

Mengurus anak, mencuci baju

Memasak dan menyapu

Kerja penuh waktu


Mendidik dengan sesuatu yang sudah ditetapkan

Tak bebas karena kejangan aturan-aturan

Tak hanya itu, aku dituntut mengerjakan hal yang seharusnya tak kukerjakan

Yang lebih wajib kulakukan daripada kewajibanku

Setiap pagi, ku sembunyikan semua masalah di rumahku

Memasang wajah palsu, seolah baik saja duniaku

Berlari mengejar waktu untuk absen tepat waktu

Aku seorang guru tak kenal rasa pilu


Dan…

Kau setan-setan berdasi yang seenaknya membuat kategori

Sakit ini kurasakan sendiri, keluhku tak kau tanggapi

Kau anggap kami bisu dan kau tuli

Kau seenaknya menuntut ini itu

Mengubah segalanya semaumu

Seakan kami kelinci percobaanmu

Kau buat kami jadi kambing hitam, seolah kami yang bersalah, yang paling keliru


“Tugas kamu mencerahkan pemuda bangsa ini.”

“Bukan menjadi begundal kaum berdasi.”

Hey!... Ratakan saja pendidikan di Indonesia ini

Baru kau jadikan kami kelinci berdasi


Puisi karya Siti Nurhazizah

Instagram: @sitinurhazizah56

10

Didik, Mendidik, dan Didikannya karya Tatag Aisyah Fil Miyzaani

Didik seorang pendidik, meski hanya dalam mimpi.

Didik seorang pemimpi, yang begitu ingin mendidik didikannya.

Terus Ia cari didikan untuk hari-hari,

Yang dengan menggebu-gebu bertanya, akankah Ia berjaya?


Celaka memang.

Zaman di mana layar putih lebih menarik,

Dan tulisan kecil lebih terasa indah.

Tak ada lagi pembaca di bawah terik,

Atau anak pincang yang tertawa rendah.

Celaka sudah, sungguh celaka.


Tapi Didik enggan menyerah.

Apalah daya yang terasa rendah,

Atau upaya yang menjulang resah,

Didik tak kenal lelah.

Mimpinya itu mendidik ramah,

Atau berkelana mencari pelamar murah,

Yang penting niat belajar tinggi, Didik berkilah.


Memang bagus si Didik.

Betapa dia merasa ingin,

Maka harus jelas terbidik,

Meski rasa susah dan pahit berkata lain.


Tapi tidak apa, karena Ia bersedia.

Ingin mendidik bangsa,

Mendidik penerusnya,

Dan kebanggaan menjadi upahnya.


Karena Didik seorang pendidik.


Puisi karya Tatag Aisyah Fil Miyzaani

Instagram: @tatag.fm

Minggu, 15 November 2020

31

Sang Pembangun by Ridwan Fauzi

Berada di negeri kepulauan,
negeri indah penuh kekayaan.
Memiliki jutaan bibit unggul,
yang diharap siap memukul.

Bibit-bibit tak suka paksaan,
mereka hidup dengan hiburan,
meski haus akan pendidikan.
Berilah permainan terselip pelajaran.

Bermain dapat membangun moral,
dengan dampingan yang loyal.
Bermain dapat membangun spiritual,
dengan dampingan sang intelektual.

Tak peduli meski berduri.
Dipetik, berkali-kali.
Hanya demi satu tujuan pasti.
Membangun bibit yang hampir mati.

Puisi by Ridwan Fauzi
Instagram :@uwayridwan_
1

Nestapa Belajar dan Iman by Muhammad Raffi Athallah Miraza

Setetes rindu menetes ke bilik hati, kekelaman tiada kirana terbejana
Netraku tiada daya dan upaya, seakan dilalap oleh virus resah 
Uraian mata terus menusuk qalbu, palung hatiku tak letih berderu 
Akan dosa lekat laksana debu, riak air pun mengiringi seakan berlalu

Bekal apa yang bisa mempertahankan setiap langkahku 
Resah, lesu dan sesal menjadi tombak yang menghunus qalbu 
Dosa yang lahir setiap waktu, iman runtuh karena tabir khilafku 
Sementara di dalam isra hijrahku begitu banyak alpa dan batu-batu

Namun, dalam gulita daksa aku berjuang diri
Mengobati hati dengan taubatan nasuha dan shalat penuh sungguh
Mencoba bangkit meski berlimang dosa 
Tak peduli pada kata berhenti, aku harus kembali kepada Sang Ilahi

Ya Rabb, kapan cahaya magfirah itu menyapa dan kembali? 
Dayunganku singgah sebentar pada bahtera, agar langkahku dituntun oleh cahaya 
Wahai dermaga nan tiada bersua, izinkan daku membalut goresan mentah 
Bertasbih menghasilkan Nur yang menembus angkasa

Subhanallah....
Ya Rabb kau musnahkan benalu di kalbuku
Kau nyalakan pondasi istiqomah untuk hama rasa 
Kau percikkan nutrisi untuk kedua netraku


Padahal daku penuh bercak noda dalam sabda
Namun, engkau selalu hadir dalam setiap kisruhku 
Ya Rabb di atas sajadah biru ku meminta 
Kau rangkul diriku untuk menjadi lelaki sholeh

Daku menjunjung segala titah dan perintah-Mu 
Menutut ilmu dunia mengharap rida-Mu
Bahwa seluruh hidup dan matiku terpulang 
pada rida-Mu 
Aku harap Engkau mengampuni ku

Puisi by Muhammad Raffi Athallah Miraza
Instagram: @raff_ath
0

Kecil Tapi Bermakna by Luthfita Chairani Fatihah

Putra-putri pelosok daerah 
Semangat juangmu amat bergairah 
Tuk menempuh ilmu di sekolah 
Pun bersenda gurau dengan kawannya entah

Canda tawamu tampak sumringah 
Riang gembira nya dihampiri orang asing datang 
Mereka bak penolong dan teman senda gurau
Belajar menjadi suka cita, meski banyak halang rintang

Kalian senang mendengar cerita 
Seakan berkhayal dengan apa yang didengar
Senang diri ini melihatmu bahagia 
Meski tak tau ada apa dibalik ceria yng merona

Keinginan mereka sederhana,
Bisa terus menuntut ilmu hingga memberikannya
Terucap prakata dari mulut anak yang masih lugu
Ingin menjadi guru, ustadz, ustadzah
Betapa kagum nya diri ini mendengar apa yang dicita-citakan

Mulia sekali hatimu, nak 
Tak perlu menjadi orang besar tapi bermanfaat 
Diriku hanya bisa mendoakan 
Semoga keterbatasan tak menjadi halangan kalian tuk mengejar impian

Puisi by Luthfita Chairani Fatihah
Instagram: luthfitacf


1

Penggerak Kebenaran by Indra Suparlan

Menyair sebuah irama
Mengabadikan lentera jiwa
Bergerak sesuai komando 
Membuat orang terbawa dan terinspirasi
Sangat Pandai dalam berbicara 
Memahami setiap makna 
Demi menyuarakan kebenaran 
Tanpa kekerasan


Dibalik untaian kain berkancing
Tergambarkan identitas kebanggaan
Kalian sampaikan kegelisahannya 
Kalian bangkitkan mereka 
Kalian tumbuhkan benih semangat
Dalam jiwanya 
Kalian tebarkan senyum kepada mereka
Tanda kalian mampu membawa perubahan
Dengan moralitas yang tinggi 
Kalian junjung keadilan 
Diatas bumi ibu pertiwi

Puisi by Indra Suparlan
Instagram @Indra_Suparlan
24

Bangun Untuk Berdiri by Immanuella Senja Dwi Febriani

 “Hai, sedang apa? 
Di mana salammu? 
Mengapa salamku tak kau jawab? 
Apakah kau dalam abandonemen? 
Atau kau tak paham ethos? 
Cukup tanah tumpah darah saja yang terbelangkalai 
Jangan kau,” kata mereka tentangku

Aku memang masih pandir 
Kosong adab, rendah akidah 
Tapi, masih sanggup berdiri 
Kedua netraku masih mampu melihat 
Lidahku tidak kelu bicara 
Tangan dan kakiku masih bebas bergerak

Aku bangunkan sukma-sukma pemudaku 
Aku bakar gairah mereka dengan etiket 
Agar panas dan terbakar rasa ingin tahunya
Mencekoki mereka dengan lektur agama
Agar makin haus atmanya

Terjadi perang argumen yang hebat
Hatiku berkata,
“Kau mampu dan pasti menang.”
Dan ragaku berkata,
"Kau tidak mampu dan pasti kalah.”

Ya, aku terombang-ambing seperti diterpa ombak
Menginjak jalan setapak nan penuh kerikil tajam 
Walau terseok-seok sekalipun,
Tak terbesit di pikiranku untuk mundur
Aku tahu dan pasti 
Matahari akan tersenyum 
Bulan akan menderang 
Kukila akan bernyanyi 
Mereka menyambutku dengan indah 
Bahwa aku berhasil.


Puisi by Immanuella Senja Dwi Febriani
Instagram : @immanuellasenja