Minggu, 15 November 2020

0

Formula Kemenangan by M Yusuf Ferdiansyah

 FORMULA KEMENANGAN


    Tak seperti biasanya pagi ini Dian bangun lebih pagi dibanding biasanya. Jika biasanya ia

seringkali dibangunkan oleh orang tuanya untuk sholat subuh, namun kali ini Dian bangun bahkan

sebelum adzan subuh berkumandang. “Alhamdulillah hari ini aku bisa bangun sebelum subuh, 10

menit lagi adzan jadi alangkah baiknya aku harus bersiap-siap ke masjid” ungkap Dian. Tak lama

berselang, adzan subuh berkumandang, Dian dan juga ayahnya pamit pada ibunya untuk

melaksanakan ibadah sholat subuh di masjid.


    Di masjid sudah banyak teman Dian yang datang untuk melaksanakan sholat subuh. Alasan

Dian dan teman-temannya pada hari ini sholat subuh di masjid karena perintah dari pelatih futsal

mereka yaitu Pak Yusuf. Pak Yusuf memerintahkan mereka untuk sholat berjamaah di masjid, karena

jika tidak sholat maka tidak boleh ikut turnamen futsal pada hari ini. Jadi alasan mereka saat itu sholat

subuh berjamaah adalah agar mereka bisa ikut turnamen futsal yang akan diadakan hari sabtu ini dan

esok hari.


    Jam 6 tepat, matahari perlahan menampakkan wajahnya. Dian telah menyelesaikan sarapan

pagi dan sudah siap untuk perjalanan pada hari ini. Dengan wajah berseri-seri dan menampakkan

senyum bahagia, Dian meminta restu dan pamit ke orang tuanya “Ayah, Ibu, Dian izin pamit yaa

untuk ke sekolah. Mohon doanya untuk Dian di turnamen futsal kali ini.” Segera setelahnya Dian

berangkat dengan mengayuh sepedanya ke SDN 06 yang jaraknya sekitar 10 menit dari rumah Dian.


    Sesampainya disekolah Dian melihat Iqbal dan Samsul yang sudah datang terlebih dahulu.

Iqbal dan Samsul merupakan sahabat Dian sejak kelas 2 SD namun di kelas 5 ini, kelas mereka

berbeda, Dian di kelas 5A sementara Iqbal dan Samsul di kelas 5B. “Diannn sini cepat, kamu sudah

membawa apa yang pelatih bawa kan?” Ucap Iqbal langsung bertanya dengan suara yang keras

seperti biasanya. “Ya, kupikir aku telah membawa semuanya, jersey futsal, sepatu dan kaos kaki, lalu

sarung juga sudah kubawa. Kira-kira apa ya gunanya futsal bawa sarung?” Ucap Dian. “Kami juga

tidak tahu, tapi nanti kita coba tanya ke pak Yusuf” balas Iqbal dan Samsul bersamaan.


    Waktu menunjukkan pukul 06.30 semua pemain dalam turnamen futsal kali ini sudah

berkumpul, mereka antara lain adalah Iqbal sebagai penjaga gawang, lalu ada Iyan, Mahfud, Deka

dan Dian sebagai pemain bertahan, serta ada Adi, Samsul, Bahri, dan Yuda sebagai pemain

menyerang. Total pemain yang dibawa saat turnamen kali ini berjumlah 9 orang karena Arul dan

Imam sedang sakit beberapa hari belakangan ini. Terakhir ada pak Yusuf selaku pelatih dan guru

olahraga SDN 06.


    “Baiklah karena kita semua telah berkumpul, dan waktu sudah menunjukkan pukul 06.30

maka mari kita berangkat” Ucap pak Yusuf. “Ayoo kita berangkat!!!” Balas semua murid dan segera

mereka berlari menuju gerbang. Disaat sedang berlari tiba-tiba pak Yusuf memberhentikan mereka

“Eiittss siapa yang suruh kalian berangkat kesana? Kita terlebih dahulu berangkat ke musholla”. “Kan

kita mau bertanding pak, bukan mau sholat, memangnya ada sholat jam 06.30?” Balas Yuda dengan

nada kesal. “Ya sudah, kalian kan sudah bawa sarung, ayo kita ke musholla, nanti bapak kasih tahu

di musholla” Jawab pak Yusuf dengan nada lembut.


    Sesampainya di musholla pak Yusuf menjelaskan terkait alasan para murid harus membawa

sarung, padahal mereka akan bertanding futsal “Nah bapak akan kasih tau kenapa kalian harus

membawa sarung atau celana panjang. Alasannya adalah agar kita sholat dhuha dulu, dan juga untuk

berdoa bersama demi kelancaran acara kita hari ini. Apakah kalian sudah paham?” tanya pak Yusuf.

“Sudah paham pak” jawab murid-murid dengan kompak. Kemudian mereka mengambil air wudhu

dan segera melaksanakan sholat dhuha serta doa bersama guna kelancaran acara mereka hari ini.


    Kurang lebih 30 menit mereka beribadah dan berdoa bersama, sekarang mereka sudah siap

untuk menuju tempat turnamen diadakan. “Baiklah waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 mari kita

berangkat menuju tempat turnamen futsal kita yaitu di SDN 05.” Ucap pak Yusuf dengan penuh

semangat. Kemudian mereka semua berjalan kaki ke SDN 05 karena jaraknya cukup dekat, sekitar

200 meter. Sembari berjalan mereka bernyanyi bersama dengan semangat dan tentunya dengan

perasaan yang bahagia.


    Sesampainya di SDN 05 pengundian sedang berlangsung dan ada 8 sekolah yang akan

berpartisipasi dalam ajang turnamen futsal tahun ini. Nama-nama 8 sekolah tersebut adalah SDN 01

yang di favoritkan juara pada kali ini. Kemudian SDN 03 dan SDN 04 tim yang selalu merepotkan

lawan-lawannya. SDN 05 sang tuan rumah turnamen kali ini. Lalu SDN 06, SDN 07, dan SDN 09

yang belum memiliki riwayat juara. Terakhir tim yang terlihat biasa saja yaitu SDN 11. Kedelapan

sekolah telah berkumpul dan siap untuk melaksanakan pertandingan demi pertandingan.


    Pertandingan pertama di lapangan A yaitu SDN 07 melawan SDN 11. Walaupun pertandingan

berjalan dengan tempo lambat namun SDN 11 perlu dipuji karena pantang menyerah melawan SDN

07 dan skor akhir menunjukkan 1 : 2 dengan kemenangan untuk SDN 11. Lalu di waktu yang

bersamaan, di lapangan B berlangsung pertandingan antara SDN 05 melawan SDN 04 yang

berlangsung sangat seru sampai pendukung masing-masing sekolah berteriak dengan penuh

semangat. Kemudian pertandingan selesai dengan skor 4 : 3 dengan kemenangan untuk SDN 05.


    Pertandingan selanjutnya di lapangan A antara SDN 01 melawan SDN 09 dan di lapangan B

SDN 06 melawan SDN 03. Pak Yusuf memberikan instuksi kepada murid-murid untuk berkumpul

“Anak-anak ini pertandingan pertama kita, semangat kalian, bertandinglah dengan sportif dan raihlah

kemenangan untuk kita semua.” Kemudian sebelum peluit dibunyikan, Dian sebagai kapten

memberikan semangat untuk teman-temannya “Teman-teman kita sudah berlatih semaksimal

mungkin, maka mari berikan hasil yang maksimal dari latihan kita untuk pertandingan ini. SDN 06

semangat!!!” peluit pertandingan dibunyikan dan pertandingan langsung berjalan.


    Babak pertama berlangsung sengit di lapangan B berulang kali Dian memberikan arahan

untuk teman-temannya. Dian sebagai kapten benar-benar bertanggung jawab dalam menjalankan

tugasnya. Berulang kali Dian menenangkan teman-temannya dan akhirnya di menit-menit akhir

babak pertama Yuda berhasil memberikan gol pembuka untuk SDN 06. Peluit babak pertama

dibunyikan dan tanda pertandingan babak pertama berakhir. Dian langsung memberikan instruksi

kepada teman-temannya untuk berkumpul “Ayoo semua berkumpul, masih ada pertandingan kedua,

jangan cepat puas dengan hasil tadi.”


    Jeda Istirahat berakhir, dan peluit tanda dimulainya babak kedua telah dibunyikan.

Pertandingan berjalan dengan cukup bagus dan beberapa kali SDN 06 menciptakan peluang. Saling

balas serangan demi serangan terjadi dipertandingan ini. 5 menit terakhir pemain dari SDN 03 mulai

terlihat kelelahan dan hasilnya 3 gol tambahan tercipta di momen tersebut, peluit akhir pertandingan

dibunyikan. Hasil akhir pertandingan di lapangan A SDN 01 menang dengan skor meyakinkan 7 : 0

atas SDN 09. Di lapangan B SDN 06 Menang dengan skor 4 : 0 atas lawannya. Pertandingan

memasuki babak semifinal dengan pertandingan SDN 11 vs SDN 01 dan SDN 05 vs SDN 06.


    Namun di babak semifinal ini terjadi hal yang mengejutkan dengan menghasilkan sebuah hasil

yang tidak terduga sama sekali, baik dari murid-murid ataupun para penonton. Hasil tersebut adalah

kekalahan SDN 01 saat melawan SDN 11 dengan skor 3 : 1. Tiga gol tersebut dicetak oleh sang

kapten SDN 11 sekaligus tetangga Dian yaitu Feri dan mengantarkan timnya menuju babak final.

Sementara pertandingan SDN 05 melawan SDN 06 berakhir dengan skor 0 : 2 untuk kemenangan

SDN 06. Setelah pertandingan babak semifinal, dilakukan jeda istirahat selama 2 jam untuk

memulihkan tenaga masing-masing tim..


    “Anak-anak mari kita sama-sama istirahat untuk memulihkan stamina kita dan juga disini ada

Bu Tia yang sudah membawakan roti juga air untuk kita semua.” Ucap pak Yusuf diikuti dengan

anak-anak yang langsung mengambil dan melahap roti uga air yang sudah disiapkan untuk mereka.

“Pak Yusuf saya izin ke kamar mandi sebentar ya pak” Izin Dian kepada pak Yusuf setelah menghabiskan makanannya. Di perjalanan menuju kamar mandi Dian bertemu dengan Feri yang

sedang tilawah saat jeda tersebut. Dian kemudian menghampiri Feri dan mengajukan sebuah

pertanyaan “Fer, kenapa kamu tilawah, bukannya lebih baik untuk istirahat dan membahas strategi

untuk di final?” Kemudian Feri menghentikan tilawah sejenak dan menjawab pertanyaan Dian “Betul

yang kamu bilang Di, tapi saat ini aku sedang membujuk Allah untuk memberikan kemudahan di

pertandingan nanti” Dian yang tak begitu mengerti jawaban Feri langsung pamit dan meninggalkan

Feri yang melanjutkan tilawah.


    Pertandingan babak final segera dimulai, masing-masing tim melakukan jabat tangan dan

kemudian mendengarkan lagu Indonesia Raya bersama-sama. Setelah berakhir, mereka semua

mengambil posisi untuk melakukan pertandingan final yang ditunggu-tunggu antara tim kuda hitam

SDN 11 melawan penantang api, julukan untuk SDN 06 yang selalu bersemangat di setiap

pertandingan. Peluit dimulainya babak pertama dibunyikan, riuh suara penonton saling bersahutan

mendukung tim yang sedang bertanding pada saat itu.


    Pertandingan berjalan cukup sengit dan tampak tak ada yang mau mengalah satu sama lain.

Namun akhirnya kebuntuan terpecahkan dengan gol yang diciptakan oleh Feri membuat kedudukan

menjadi 1 : 0 untuk SDN 11. Di babak kedua SDN 11 menambah pundi-pundi gol-nya ke gawang

SDN 06 dan akhirnya peluit final dibunyikan. Skor berakhir dengan kedudukan 3 : 0 untuk SDN 11.

Dian dan teman-temannya bersedih dan harus puas dengan menjadi juara 2.


    Melihat murid-muridnya sedang bersedih, pak Yusuf memberikan semangat untuk mereka

karena telah mencapai juara 2 dan berjanji mengajak mereka untuk makan bakso di dekat SDN 06

yang terkenal enak. Dian beserta teman-temannya kembali bahagia dengan kabar tersebut, kemudian

tim mengadakan evaluasi setelah kekalahan itu. “Anak-anak apakah kalian tahu mengapa kita kalah

padahal kita telah sering latihan?” tanya pak Yusuf. Mendengar pertanyaan tersebut, semua murid

kompak menggelengkan kepala.


    Kemudian pak guru menjelaskan alasan mengapa mereka kalah “Setelah bapak selidiki

mengapa kita bisa kalah, hal ini ternyata disebabkan kurangnya kita berinteraksi dengan Allah. Pak

Ilham dari SDN 11 menceritakan bahwa selain timnya sering latihan, mereka juga rutin untuk tilawah

dan sholat dhuha setiap harinya hingga mental juara dan rendah hati dalam diri mereka terbentuk.

Baik itu saja evaluasinya. Mari kita menuju tukang bakso!!!” Semua murid yang mendengarkan

alasan tersebut paham dan kemudian mereka semua menuju tukang bakso.


    Hari-hari selanjutnya setelah pertandingan tersebut sangat berbeda sekali. Sekarang setiap

pagi sebelum bel masuk, mereka semua melakukan tilawah di kelas masing-masing. Di waktu istirahat pukul 09.30 mereka menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat dhuha di musholla.

Kemudian sepulang dari sekolah, mereka mempersiapkan diri untuk latihan futsal. Alasan dibalik

perubahan tersebut karena mereka ingin menjadi yang terbaik dan menjadi juara di turnamen atau

kejuaraan berikutnya.


M Yusuf Ferdiansyah – myferdiansyah28

19

Guruku, Kakek Bajak Laut! by Brigita Olivia Gamellia

Guruku, Kakek Bajak Laut!

‘Tic..toc..tic..’ Dini hari ketika orang banyak masih terlelap Haris duduk di antara Ayah dan Bunda yang berdiskusi dengan beberapa anggota kepolisian di kantor polisi

“Anak Bapak terlibat dalam balapan liar antar geng motor yang berujung ricuh hingga meresahkan masyarakat sekitar.” Mendengar itu, Ayah Haris menatap ke arahnya tajam menahan amarah sebab wibawa keluarga kembali di jatuhkan putra tunggalnya itu. Usai perkara penjemputan, Haris masuk ke dalam mobil memasang telinga bebal

“Tidak bosan keluar masuk kantor polisi? Masih mau ikutan geng motor tidak jelas itu? Ayah malu, Saya tidak pernah mengajari kamu anarkis, seperti tidak terdidik begitu!” ucap Ayah dengan nada terus merangkak naik, Bunda juga memberikan raut kekecewaan. Celotehan tanpa henti sampai mereka sudah di dalam rumah mulai membuat Haris geram

“Udalah!” Haris mengerutkan dahinya dan mengepal kedua tangannya penuh kekesalan,

“wajar kali remaja 17 tahun main geng, kan harus bersosialisasi. Lagi pula saya juga tidak minta dijemput kok, muak juga liat pahlawan kesiangan berlagak muncul dan peduli di akhir perkara! Kemarin ke mana saja?” Balasan Haris berhasil membuat Ayah semakin naik pitam,

“Ohh, Begitu cara bicara ke orang tua? Tidak tahu diuntung! Mulai sekarang jangan keluar rumah dan tidak boleh kumpul bareng geng tidak jelas itu lagi! Mendingan diam di rumah, setidaknya merusak nama keluarga dan bikin saya jengkel!” Haris yang mendengar vonis dari ayahnya tidak memberi tanggapan selain melangkah angkuh ke arah kamar tidurnya.

Hari demi hari berganti dan Haris masih mendekam di rumahnya seperti tahanan, ‘ting..ting...’ bunyi notifikasi diiringi tumpukkan chat 1anggota geng di grup. Pesan beberapa anggota yang mempertanyakan keberadaan Haris, ditelusurinya semua percakapan sebagian besar bernada meledek, Haris memasang senyum membalas chat pengecut yang berani jika keroyokan saja. Tiba-tiba terdengar suara cukup keras dari arah kaca jendela Haris. Pasti bola anak tetangga. Batinnya. Haris mengambil bola itu dan mengantarnya ke rumah tetangga sebelah niatnya tentu untuk memprotes tendangan bola keras yang bisa saja memecahkan kaca jendela kamar dan membuat dirinya harus berurusan lagi dengan orang tuanya. Tak sampai 1 menit Haris sudah berdiri tepat di depan gerbang rumah tetangga, tampak beberapa orang tetangga sedang berkumpul termasuk 3 orang anak laki-laki usia sekolah dasar yang berlari menghampirinya dengan raut wajah senang.

“Terima kasih kakak!” Keinginan Haris untuk membentak bocah-bocah itu sirna melihat kepolosan dan kegembiraan di wajah mereka hanya karena bolanya kembali. 

“Iya, lain kali kalau main hati-hati,” balas Haris datar menyerahkan bola ditangannya ke anak itu. Tak berselang lama seorang wanita menghampiri mereka

“ Ehh... Haris, kamu kenapa di sini? Duh, jangan main sama anak tante ya, bukan apa takutnya dia mencontoh yang tidak baik, kasihan masih kecil,” ceplos wanita tersebut. Haris bingung harus menjawab apa perasaan kesal pun mulai melingkupi tubuhnya ditambah tatapan orang-orang di sana yang menatapnya sinis penuh penghakiman. Ya, Haris sadar kalau cap anak nakal dan berandalan pasti sudah melekat padanya. Mau diubah toh nyatanya mustahil, masyarakat sekarang bisanya hanya ikut menghakimi, tanpa solusi apalagi bantuan sama seperti Ayah dan Bunda. 

“Iya, maaf tante Haris juga lagi tidak boleh main hehehe, saya permisi dulu.” Haris buru-buru kembali ke rumahnya memasang hati keras kembali mengecek gawangnya yang ternyata telah dipenuhi notifikasi dari Nico sahabat dan anggota geng motor yang sama. Mata Haris terbelanga membaca tulisan panjang di sana dan membalas chat Nico cepat untuk mengajaknya ke temuan meskipun bertaruh vonis hukuman tambahan bisa didapatkan.

“Nic, lo ada masalah apa sih? Udah bagus kemarin di geng menghilang, sekarang lo mau gabung lagi”. Dibangku cafΓ© itu, Haris membuka percakapan sesantai mungkin setelah melihat raut wajah Nico yang sembab

“Orang tua gua mau cerai, ada surat pengadilannya,” jawab Nico sambil termenung bingung. Mendengar itu Haris diam kehabisan kata, sungguh tak terbayang dalam benaknya jika harus bertahan seorang diri di muka pintu kehancuran keluarga. Teringat akan kisahnya sendiri yang masih terjebak dalam keluarga yang toxic, mereka yang mengaku orang tua tapi boro-boro bertegur sapa dan bercanda bersama, sekedar berpandangan mata dengan mata saja perhitungannya banyak lebih baik ikut geng yang jelas-jelas siap menemani kapan pun walau nanti malah berbuat aksi nakal bersama atau sebenarnya ini bentuk pelarian emosi?. Tapi Haris sadar kalau Nico itu berbeda, dia berubah bahkan berniat meninggalkan geng pelan-pelan demi menyenangkan orang tuanya namun malah dikecewakan.

“Gua gak jadi keluar dari geng, ayo senang-senang lagi aja kayak dulu... gua capek Ris,” ucapan Nico membuat Haris terbangun dari renungannya segera memberi respons anggukan diiringi senyuman tipis sesaat sebelum akhirnya Haris kembali meminum soda kesukaannya. Haris lega karena bisa kumpul lagi sama Nico di geng tapi entah mengapa timbul keraguan di hatinya.

Malam Sabtu kali ini touring 2 berjalan sama dengan malam sebelumnya namun dengan personil yang komplit. Gerombolan remaja geng motor itu kembali memecahkeheningan malam dengan suara tawa yang bersahutan dengan bunyi motor modifikasi menyusuri sela-sela ibu kota. 

“Bro! Tuh liat, ada kakek bajak laut!” teriak Dimas salah satu anggota geng yang sedang memimpin jalan patroli malam mereka disambut sorakkan setuju oleh anak lain. Mereka memacu cepat motor mendekati kakek bertongkat dengan karung cukup besar di pundaknya kemudian 3 motor di depan dengan kompak membunyikan klakson motor hingga membuat Kakek yang setengah matanya buta ditutupi kain dan kakinya yang memakai kaki palsu itu pun jatuh karena kaget. Mirisnya jatuhnya sang kakek malah menjadi energi mereka untuk tertawa kencang dan menyorakinya bergantian sambil tancap gas. Haris dan Nico yang berjalan mengekor sempat melambatkan laju motor kendaraan agak bisa memastikan kondisi si kakek, walau segan untuk berhenti karena rasa canggung dan malu bila menolong korban mereka. Kondisi kakek yang terlihat baik membut mereka segera tancap gas meninggalkan kakek bajak laut. 

Seminggu kemudian di tengah jalanan yang sepi, Haris menjumpai figur tubuh dan gerak-gerik yang cukup akrab baginya. Kakek bajak laut. Batinnya. Rasa gengsi Haris memintanya untuk melaju cepat dan mengacuhkan kakek tapi kali ini hatinya yang berkuasa, Haris melambat menepi sedikit di depan kakek itu. Haris diam menunggu kakek melewatinya dan benar saja kakek hanya mendahului Haris sambil terdengar bisikan kecil yang santun 

“Permisi Nak.” Bisikan itu membuat hati Haris semakin tergugah untuk menegur kakek.

“Ma-malam kek, ka-kakek mau ke mana malam-malam gini?” tanya Haris terbata-bata

“Saya mau pulang Nak, mari”. Kakek mengangguk pelan 

“Kakek! Ma-mau saya antar? jangan khawatir saya gak punya niat jahat cuman karungnya kelihatan berat, sudah larut juga jadi saya antar saja ya, Kek” Tawaran Haris disambut si Kakek dengan senyuman alhasil diboncenglah kakek bajak laut. 

15 menit berkendara motor mengikuti arah yang ditunjuk kakek. Kumuh dan jorok kata yang pas untuk menggambarkan pemukiman dipadati rumah-rumah semi permanen semerawut sebagai lokasi pemberhentian mereka. Haris membantu kakek turun dan mengangkat karung yang ternyata cukup berat baginya. Heran bagaimana pria paruh baya bisa berjalan jauh sambil membawa karung ini. Langkah mereka terhenti di bawah kolong jembatan besar. Beberapa orang berbaring berkelompok dengan alas seadanya hingga kolong jembatan pun beralih fungsi bagai atap dan rumah bersama. Haris meringankan langkahnya takut membangun mereka yang terlelap, mengikuti kakek yang menghantarkannya disudut jembatan dengan tikar-tikar yang terisi beberapa anak lusuh yang tidur nyenyaknya.

“Taruh di sini saja. Terima kasih, Nak kamu baik sekali. Segaralah pulang dan hati-hati di jalan,” ucap kakek lembut sambil menjabat tangan Haris dan menepuk-nepuk ringan pundak remaja itu dengan hangat. Sungguh pujian dan kehangatan yang diberikan kakek membuat Haris terlena. Ia sadar kata dan kehangatan itu yang selama ini dirindukannya.

“Terima kasih Kakek... Sebelumnya saya mau tanya itu karung isinya apa?” Haris mencari basa-basi lain untuk bisa lebih lama di sana. Kakek pun mengajak Haris membongkar karung yang ternyata berisi buku-buku bacaan yang terlihat bekas tapi masih dapat kondisi yang baik. Buku, Pantas berat. Batin Haris

“Ini untuk apa kek? Mau dikilokan?” 

“Buku kalau sudah tak terpakai cuman jadi bahan kiloan saja? Sayang ilmunya. Buku-buku ini untuk besok anak-anak baca, agar Senin ada bahan bacaan baru,” jawab kakek sedikit tertawa melihat pola pikir anak muda sekarang gampang membuang barang bahkan ilmu jadi seperti sampah. Masih penasaran Haris pun ikut duduk di samping kakek melontarkan berbegai pertanyaan hingga diketahuinya tempat yang dia duduki ini adalah sekolah untuk anak jalanan. Kakek bercerita mayoritas anak-anak di pemukiman ini putus sekolah ketika SD, sebagian besar tentu karena keterbatasan ekonomi. Beberapa anak juga malah dikeluarkan karena terlibat kasus pelanggaran berat seperti mencuri dan merokok. 

“Saya juga dikeluarkan dari sekolah, karena terlibat tauran dan masuk geng,” balas Haris teringat pahitnya dikeluarkan dari sekolah sebagai risiko yang harus ditanggung atas pilihannya. Tapi anak-anak kecil ini, mereka layak mencicipi bangku pendidikan

“Itulah Nak, dunia pendidikan kita masih perlu kacamata untuk melihat mana anak-anak yang seharusnya dicerdaskan dan diberdayakan. Coba lihat sekarang kebanyakan sekolah formal hanya cuci tangan dengan anak yang nakal dan bodoh”. Haris menganggukkan kepala

“Saya ingin anak-anak ini kembali punya kesempatan, setidaknya mereka bisa melihat cahaya harapan di masa depan. Makanya saya tidak ingin mereka bodoh agar tidak dimanfaatkan uang, terjerat kenikmatan sesaat atau ditipu orang-orang pintar itu,” lanjut kakek. Haris tertegun, sungguh pemikiran dan tindakkan sebesar ini datang dari orang bermodalkan fisik yang lemah dan terlihat menyeramkan. 

“Kek, Apa hari Senin nanti saya boleh ikut belajar di sini? Tanya Haris ragu

“Tentu saja, datanglah kapan pun kamu mau,” jawab kakek dengan senang. 

Tak terasa bulan telah berganti sejak pertama kali Haris bertemu dengan kakek, hingga sekarang Haris rutin mengunjungi sekolah itu. Bermain dan mengajari anak-anak membantu kakek dengan mengandalkan sedikit ilmu yang dia punya ketika masih sekolah telah menjadi rutinitas barunya. Anak-anak yang lucu dan punya semangat belajar dan rasa ingin tahu yang tinggi sanggup menggugah hati Haris. Pengalaman bercengkerama tanpa ada tatapan menghakimi semakin membuat Haris ketagihan untuk terus berkunjung. Rasanya seperti menolong orang sekaligus menyembuhkan diri sendiri. Haris memandangi kakek yang bercanda tawa dengan anak-anak dan sekilas ingatan nasib beberapa teman-teman di geng putus sekolah serta Nico yang masih stres karena perceraian orang tuanya membuat Haris memberanikan diri untuk meminta izin kakek mengajak Nico sahabatnya ikut berkunjung ke sekolah ini siapa tahu, nongkrong bersama anak-anak di sini Nico mendapat penghiburan.

Setelah membujuk Nico yang akhirnya pasrah dan bersedia ikut Haris Senin berikutnya mereka datang bersama-sama ke tempat nongkrong baru Haris. 

“Ris, ini tempatnya? “ tanya Nico menyenggol lengan Haris sambil memutar bola mata menelusuri tempat asing baginya. Nico mendapati gerombolan anak lesehan di sana

“Iya ini sekolahnya, lihat saja ada papan tulis, tiker sama buku-buku.” Tunjuk Haris ke arah perlengkapan belajar sederhana di sana Tak lama beberapa anak mengerubungi Haris dan menghujankan sapaan dan pertanyaan terutama terikait kehadiran Nico. Haris pun menyuruh Nico memperkenalkan diri setelah itu mereka menuntun anak-anak itu duduk berkelompok, membaca doa pagi dan belajar. Mulanya Haris khawatir Nico tak nyaman tapi kenyataannya baru dua jam di sana Nico mampu membuat mereka tertawa bersama. Menjelang sore di atas jembatan sudah mulai dipadati lalu-lalang kendaraan yang berebut pulang, begitu pula Haris dan Nico yang berpamitan dengan kakek.

“Saya senang sekali boleh main, mak-maksudnya belajar bersama adik-adik di sini... Kakek, saya minta maaf untuk perbuatan saya kemarin, tolong izinkan Nico main ke sini lagi ya, Kek.” Nico merendahkan nada suaranya membuat Haris mengingat kenakalan atau malah kejahatannya sama kakek. Dia belum sempat dan berani mengakui kalau dia anggota geng yang sering mengerjai dan menghina kakek. Pria prauh baya itu terlihat bingung, keheningan sesaat itu langsung diputus oleh Haris

“Kakek, saya anggota geng motor yang dulu pernah berkata buruk ke kakek tentang cacat dan label bajak laut. Kami juga mengerjai kakek beberapa kali yang terakhir bikin kakek jatuh karena terkejut suara klakson motor. Saya menyesal, maaf untuk kelakuan saya”. Badan Haris yang terbungkuk kurang mengalahkan rasanya kakinya lemas dan ingin bersujud di tanah saja mengingat pikiran dan tindakan yang ia lakukan ke kakek yang ternyata sangat baik dan ramah ini. Nico juga mengikuti jejak Haris meminta maaf.

“Sudah-sudah Nak, tidak usah dipikirkan yang telah berlalu, kamu berdua anak yang baik. Kakek sudah maafkan semuanya tapi jangan di ulangi lagi. Kalian masih muda jalannya masih panjang jadi harus menghabiskan perjalanan dengan berbuat baik, membahagiakan orang lain dan bersyukur biar tidak ada kata penyesalan lagi ya”. Momen dimaafkan membuat Haris lega walau masih ada sedikit yang menganjal di hatinya. 

Beberapa bulan berlalu dan kini Haris tercatat sudah setengah bagian anggota berkomitmen untuk memajukan sekolah kolong jembatan dan daerah pemukiman kumuh di sekitarnya menjadi tempat yang lebih layak dan pastinya dipenuhi harapan. Untuk dana ditanggung rembukkan dengan mengamen, bekerja atau mencari sukarelawan tapi impitan biaya dan mimpi Haris berserta teman-temannya membangun ruangan kelas malah membuat Haris gelap mata dan mengambil uang orang tuanya. Orang tua Haris dapat digolongkan kaya raya hingga Haris berpikir mereka tidak menyadarinya tetapi yang terjadi justru sebaliknya.

“Ris, gawat sini!” panggil Nico dari balik pintu calon ruang kelas baru anak-anak yang sedang di percantik dengan cat penuh warna-warni ceria. Haris keluar mendapati Ayah dan Bundanya berdiri bersama dengan kakek sembari berbincang-bincang Haris tahu ini waktunya. Ia harus kuat menerima hukuman dari ayah terlihat sudah mengetahui perbuatannya. 

“Ayah-Bunda... Ha-Haris bisa menjelaskan, ini tidak ada hubungannya dengan kakek atau teman-teman yang lain. Semua murni perbuatan Haris untuk kabur dari rumah, gabung geng lagi dan mencuri uang kalian ditambah daftar panjang kekecewaan lain yang harus kalian terima Haris sungguh menyesal, Haris bodoh karena terus lari dari masalah dan menyalahkan kalian. Haris sampai lupa selama ini siapa yang menjaga dan merawat Haris. Ayah dan Bunda boleh marah dan menghukum Haris lagi tapi Haris mohon, tolong biarkan Haris tetap berkunjung dan menjaga sekolah ini,” ucap Haris dengan kepala tertunduk menguatkan suaranya walau sekujur tubuhnya telah bergetar. Baru kali ini Haris mampu berkaca dengan baik hingga mengakui perbuatannya dan mengutarakan isi hatinya dengan tulus tanpa paksaan dan rasa gengsi sedikit pun.

“Haris sayang, tidak apa Bunda senang Haris bisa terbuka sekarang, Bunda sudah merima maaf kamu dari dulu” Rasa dingin di sekujur tubuh Haris lenyap seiring wangi aroma Bunda yang memeluknya dan suara lembut telinganya. 

“Ayah juga minta maaf Nak, untuk perkataan dan gengsi Ayah ke kamu,” tambah Ayah mengelus punggung Haris dan tersenyum

“Ayah penasaran, Haris melakukan semua ini? Ayah mendengar ceritamu dari kakek, kerja bagus!” Ayah menunjuk ruang kelas beserta anak-anak dan teman-temannya. Haris tersenyum bangga diiringi tepukkan tangan orang-orang terdekatnya.

“Terima kasih, berkat kalian Haris sembuh, sekolah ini benar-benar jembatan yang menghantarkan mereka melihat sisi lain kehidupan” Rasa lelah, marah, kecewa, dan benci yang menghantui Haris kini telah lenyap. Memang perlu waktu tapi, kita tidak mungkin mampu bercengkerama dengan tantangan baru jika belum berteman dengan yang lama, karena hidup itu adalah tantangan yang berubah jadi masalah jika kita memilih untuk lari dan sembunyi.

Brigita Olivia Gamellia_@brigitagamellia


0

Tragedi Maut, Penghianatan dan Cinta by Budiarta Eka Wijaya

Tragedi Maut, Penghianatan dan Cinta

Hujan keras yang menguyur sore itu membuat kami terjebak di dalam kantin univesitas yang bernuansa semi kafe. Aku duduk disamping teman baruku yang memakai cardigan hitam terpaut kaos bermerek dengan sepatu yeezy yang sangat catchy yang kerap dikenal dengan nama Arnold. Dia adalah Seorang mahasiswa Jurusan Kimia yang berusia 20 tahun, dia keren, pintar, jago olahraga dan seni sekaligus merupakan mahasiswa teladan . Dia sangat popular di kalangan mahasiswi Dia adalah anak seorang pengusaha sukses. Dia taat beribadah dan mempunyai tata krama yang baik kepada setiap orang. 

Melihat Arnold membuat hatiku sedih dan merasa insecure2 dengan keadaanku yang hanya memakai kemeja pendek dengan celana jeans. Aku yang dikenal dengan nama Edward lahir di keluarga yang sederhana. Ayahku seorang pegawai swasta. Walaupun sedeharna keluarga kami hangat dan harmonis. Aku memang tak memiliki penampilan yang memukau tetapi aku adalah seorang yang bersemangat dan tulus.

Tepat di depan Arnold seorang gadis yang sangat manis dengan gincu merah, muka yang tirus, kulit yang putih bersih bersinar, mempunyai bau yang wangi bernama Agatha sedang asik bersenda gurau dengan Arnold. Agatha merupakan wanita pertama yang memikat hatiku. Kedekatannya dengan Arnold membuat hatiku serasa tercabik-cabik rasanya seperti menabur garam di luka sayatan. Aku pun mencari-cari alasan untuk pergi dari kafe itu. “Gaiss sorry banget aku harus pergi, ada urusan mendadak” jelasku. “nggak papa bro hati-hati ya bro”. Jelas Arnold. “hati-hati ya Ed” sambung Agatha. Dengan tegar aku pun meninggalkan kafe itu tanpa menoleh sedikit pun.

Tak terasa 2 bulan berlalu semenjak kejadian itu. Aku sudah tidak terlalu menghiraukan perasaan itu. Aku hanya fokus belajar untuk memberikan yang terbaik pada perlombaan bergengsi yang diadakan di kota Palu. Aku pun kaget Ketika melihat daftar anggota tim. Ternyata Agatha berada di tim yang sama. Entah apa yang kurasakan saat itu. Perasaan senang dicampur dengan kegelisahan, Sebab Agatha telah menjadi Kekasih sahabatku. Aku pun berusaha tak terlibat dalam percakapan dan menghindar sebisa mungkin.

Keesokan harinya pada tanggal 28 September 2018 tepatnya pukul 17.00 aku pun menuaikan ibadah kewajiban umat muslim, setelah itu aku memutuskan untuk bersantai sejenak di lobi hotel. Saat sedang asyik membaca Agatha datang menghampiriku dan berkata “Hai Ed sedang baca apa?”. Aku pun kaget jantungku tiba-tiba berdebar dan spontan aku berkata” eeh anu kok cuma novel doang”.

Suasana pun menjadi canggung. Untuk mencairkan suasana aku pun spontan berkata “Bagaimana hubunganmu dengan Arthur?” .“Hubungan apa kami Cuma temanan” balas Agatha. “Bukanya kalian itu pacaran ya?” jelas aku. “Kagak kok itu cuma gosip doang”. Kami larut dalam perbincangan ringan sampai terjadi guncangan yang amat keras. Telah terjadi gempa bumi yang amat hebat. 

Kami pun bergegas keluar tetapi tiba-tiba sebuah reruntuhan bangunan menghatam kepala Agatha ia pun pingsan. Dengan segenap tenaga aku pun membawa agatha tapi sialnya reruntuhan menghatam kakiku dan aku pun terjebak. Saat aku sudah pasrah aku kaget tiba-tiba Arthur muncul. Dia ternyata mengutit Agatha sampai ke palu. “Arthur tolong aku angkat reruntuhan ini kumohon” jelasku. Dengan muka angkuh Arhur membalas “Sampai Jumpa Edward, semoga masuk surga ya” . Dia pun berlari meninggalkanku aku hanya bisa berteriak “ARTHUR KUMOHON ARTHUR”. Tiba-tiba reruntuhan mulai berjatuhan menutup sinar matahari sore itu secara perlahan seperti harapanku untuk hidup yang mulai sirna. 

Aku tersadar dalam keheningan, aku merasakan seperti diambang kematian. Sekujur tubuhku serasa mati rasa. Entah Sudah berapa banyak darah yang terkuras. Perasaan Lapar dan haus meliputiku”Seseorang tolong aku”. Aku berteriak minta tolong setiap saat tapi tidak ada seorang yang mendengar. Entah sudah beberapa hari berlalu. Saat aku sudah pasrah dan ikhlas dengan kondisiku. Aku pun memutuskan untuk menuliskan isi hatiku dengan secarik kertas dan sebuah pena yang selalu kusimpan disaku celanaku, walaupun tak seorang pun bakal tahu. Aku bercerita dengan sangat dalam dan haru. Aku bahkan menangis saat menuliskannya. Aku belajar banyak dalam pertemanan moralitas itu penting dan dapat dinilai dari spiritualitas seseorang. Dalam saat terakhirku aku tiba-tiba mengingat tentagnya. Cinta yang kupendam selama ini belum pernah tersampaikan secara utuh. Aku tak rela meninggalkan dunia dengan perasaan yang terpendam ini. Siapapun yang menemukan cerpen ini tolong sampaikan perasaan ini padanya.

Nama : Budiarta Eka Wijaya

ID Instagram : Budiwijaya05

0

Cloudy by Alvida Nor Puspita

Cloudy

Aku bernama popo yang dilahirkan dari keluarga sederhana dan mencoba untuk terus memendam sakit hati ku terhadap keluargaku. Aku duduk di bangku sekolah SMP, tepatnya di kelas 8 SMP. Setiap hari, aku menjalankan hari-hari biasaku dengan manusia pada umumnya, tetapi sungguh aku merasa lelah mendengar orang tuaku yang terus berantem setiap hari karena mereka sibuk masing-masing dengan pekerjaan mereka masing-masing, dan akulah yang menjadi pelampiasan mereka dengan setiap hari memarahiku tanpa sebab. Iyaa terkadang aku merasa aku bukan anak yang diimpikan mereka. Saat ibu aku hamil, mereka menginginkan anak laki-laki. Akan tetapi, tuhan berkata lain, mereka melahirkan seorang anak perempuan, dan iya itu aku, dan anak satu-satunya yang mereka punya. 

Setiap hari pada saat di sekolah, aku mencoba untuk bersikap biasa saja, mencoba untuk gapapa, dan tetap tersenyum terhadap semuanya, baik itu teman-teman sekolahku, guru dan warga sekolah. Tetapi, sejujurnya aku capek, aku lelah, gatau harus apa, sering sedih tanpa sebab. Dan terkadang setelah selesai beribadah, aku sering meneteskan air mata ku entah karena aku capek dengan keadaan yang aku alami dirumah setiap hari atau gimana akupun tidak tau. Aku hanya berdoa agar memiliki ketenangan di dalam rumah dan aku hanya berharap kedua orang tua ku tidak memarahiku tanpa sebab dan mereka berdua tidak berantem lagi.

Tetapi, aku bersyukur karena aku masih bisam mempertahankan prestasi akademik ku, walaupun perasaan yang aku alami tidak sebaik dengan keliatannya. Suatu hari, aku merasa aku bener-bener capek tanpa sebab padahal tidak ngapa-mgapain, dan yap seperti biasa orang tuaku memarahiku disaat mereka melihat aku sedang capek dengan alasan aku bermalas-malasan, tidak mau belajar, dan hanya bisa tidur doang kerjaan nya. Yap, kedua orang tua ku benar-benar tidak mengerti perasaanku. Hingga pada akhirnya aku curhat kepada sahabat aku.

Aku bukannyaa gak bersyukur dengan apa yang aku punya, tetapi aku sudah capek dengan semua yang aku alamin akibat tidak ada ketenangan sama sekali dirumah. Semakin sekeras apapun aku berusaha untuk baik-baik saja, rasanya sangat sulit untuk bisa bersyukur dengan keadaan ku yang semakin hari tidak ada ketenangan. Aku sangat kesepian, sedih, tidak berharga di mata kedua orang tua ku, dan aku diam-diam hanya bisa menangis dan menangis. Aku masih memiliki teman yang banyak, kehdupan yang sederhana, tetapi yang aku rasakan hanya kehampaan yang menurut aku abadi. Sahabat aku menyuruhku untuk pergi ke psikiater. Setelah sahabatku memberiku saran, keesokannya pun aku pergi ke psikiater selama beberapa bulan. Tetapi tidak memberi efek apapun dan tidak ada hasilnya. Hingga pada akhirnya aku sempat berpikir untuk aku harus mati saja supaya hidupku tenang. Aku memutuskan untuk merencanakan sebulan sebelum aku bunuh diri.

Tetapi menariknya, di hari ke 15 sebelum aku memutuskan untuk bunuh diri, tiba-tiba aku bertemu dengan ustad di jalan saat aku pulang sekolah (dia yang mengajarkan aku ngaji di waktu umur 5 tahun). Dia sudah lama sekali tidak mengajarkan aku ngaji karena selama beberapa tahun harus ke luar kota karena ada urusan yang harus dia jalankan. Aku bercerita kepada guru ku mengenai apa yang aku alami dirumah dan lain-lain. Ustadku hanya berkata, mengadulah kepada tuhan, berdoalah, beribadahlah kepada tuhan, in shaa allah akan diberi jalan keluar yang diberikan secara perlahan. Dekatkan tuhan mu, perbanyak amalan sunnah. 

Oke setelah itu aku berterimakasih kepada guru ngaji ku. Saat aku sampai dirumah aku coba terapkan apa yang guru ngaji ku itu memberikan sebuah saran. Dan setelah beberapa bulan kemudian, beneran tuhan memberikan ku sebuah jalan keluarnya. Dan secara perlahan-lahan hati kedua orang tua ku dilembutkan oleh tuhan.

Pada akhirnya aku tidak jadi untuk bunuh diri. Dan aku belajar banyak hal mengenai apa yang aku alamin selama bertahun-tahun.

Nama : Alvida Nor Puspita

ID Instagram : vidapst

0

Rumah Ibu by Anggi Saputri

Rumah Ibu

“Aku sudah bilang berapa kali kalau Andin butuh cincin itu!!” Ucap seorang wanita berusia 30-an yang tengah berada di sebuah ruang tamu. Pria di depannya hanya memandang wanita itu seakan tidak percaya atas perkataan wanita di depannya itu. “Lidia kamu pikir saya akan membenarkan tindakan kamu dan menganggap semua ini rasional? Yang benar saja kamu.” Jawab pria dengan setelan jas itu seiring dengan mengusap kasar wajahnya. Sedetik kemudian mereka saling menghela napas berat dan menoleh bersamaan ke arah sebuah kamar.

“Ayo main sama aku, kamu lagi ngapain sih? Kamu lagi telponan? Telponan sama siapa sih? Yaudah 

tapi nanti kita main ya. Hahahahaha, aku senang sekali.”

7 tahun kemudian.

“Happy birthday to you, happy birthday to you. Happy birthday anakku Andin, happy birthday to you. Selamat ulang tahun anakku, happy sweet seventeen my dear.” Ucap Lidia seiring mencium kening anak gadisnya itu. Andin hanya tersenyum tipis dengan wajah lelahnya, lingkaran hitam di bawah matanya juga tidak dapat ditutupi, dari bibir pecah-pecahnya berucap “ Thanks, mom” Lidia kembali mencium kening anak semata wayangnya itu dan mengusap tangan anak gadisnya yang tersemat cincin hitam legam di salah satu jari manisnya itu. “Mama tahu kamu kuat dan bisa mengahadapi ini semua, stay with me for a long time okay?” Lidia memandang anaknya dengan senyuman tanpa luntur, senyuman pengharapan itu yang membuat Andin mengangkat sudut bibirnya. Tersenyum. “Y-yes, mom” Jawab Andin disertai senyumannya itu.

Setelah merayakan ulang tahun sederhananya itu, Lidia kemudian merapihkan barang-barangnya dan tidak sengaja melihat sebuah surat tergeletak di meja ruang tamunya. Dia lupa jika kemarin satpam apartemen memberikannya surat, dari rumah sakit katanya. Dengan tidak acuhnya Lidia membuang surat itu ke tempat sampah. Entah berapa kali surat dari rumah sakit mantan suaminya itu dikirimkan dan berakhir ke tempat sampah bahkan tanpa sidikitpun dibuka. Lidia tidak ingin tahu apa isinya, ia sudah muak jika mendengan kalimat “Rumah Sakit” dalam pikirannya hanya ada orang-orang yang dibencinya. Lidia kembali melakukan aktivitasnya pagi ini, tidak lama kemudian suster untuk Andin sudah tiba yang berarti juga sudah waktunya Lidia berangkat kerja.

“Mama tinggal dulu ya Ndin, mama kerja dulu” Ucap Lidia sembari mengusap kepala anaknya dengan lembut. Kemudian Lidia pergi, pergi ke tempat kerja yang sangat ia benci, rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, Lidia menggerak-gerakan kakinya tanpa henti dan selalu menggigit jari-jari tangannya, ketika sampai di parkiran Lidia mengamati beberapa orang yang berlalu lalang. Menunggu jam menunjukkan pukul 07.50 pagi, dengan mengetuk-ngetukan jarinya diatas setir mobil. Tidak lama kemudian ia berhenti, pukul 07.45 sepasang suami istri keluar dari sebuah mobil, terlihat bahagia. Setelah berlalu 5 menit, tepat pukul 07.50 Lidia keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke rumah sakit dengan percaya diri. Kini kegelisahannya seakan sirna.

Di rumah, Andin mulai menjalani kesehariannya yang dimulai dari mendengarkan percakapan berbahasa inggris dengan earphone, berlatih piano, mengikuti kelas online, dan sebagainya. Andin yang sedang memainkan piano dengan handalnya seketika berhenti, “Kamu mau dimainkan lagu apa? Ah lagu itu? Aku juga suka, baiklah.” Ucap Andin sembari melihat jari-jemarinya. Suster yang melihat hal itu mulai beranjak dari tempat duduknya menuju kamar mandi dan menyalakan keran air di bathube. Sang suster masih terus berada di dalam kamar mandi, dengan mengepalkan sebelah tangannya dan tangan yang lain menahan pintu kamar mandi. Dari dalam kamar mandi yang berisik dengan kucuran air keran disusul samar-samar suara lantunan piano.

Lidia sedang berbincang dengan salah satu pasiennya, bertanya dengan penuh kehati-hatian sembari mencatat perkembangan pasien itu. “Terkadang ada suatu hal yang menjadi semacam pemancing, seperti ketika saya terus-terusan melakukan hal-hal yang rutin saya lakukan sejak dahulu. Maksud saya, saya tidak benar-benar menyukai apa yang saya lakukan itu yang sebenarnya sudah saya lakukan dalam waktu yang lama.” Ucap pria berumur 25 tahun itu, tepat hari ini dia berulang tahun. “Maksud kamu, kamu tidak terlalu suka hal-hal yang dilakukan secara rutin. Seperti itu? Dan karena hal itu pula yang membuat kamu bisa kambuh?” Tanya Lidia dengan senyum hangat yang dia keluarkan. 

Lidia beristirahat sejenak dengan menyeduh kopi sembari melirik hasil wawancaranya dengan pasien sebelumnya. Memainkan jarinya sebentar, lalu meraih ponselnya untuk menelpon seseorang. Setelah selesai memainkan piano, Andin segera bangun dari kursinya dan melangkah menuju dapur. Ketika melewati kamar mandi Andin berhenti lalu memiringkan kepalanya, terheran sejenak lalu Andin memerlihatkan senyumnya. Suster yang berada di dalam kamar mandi menyadari jika Andin telah selesai bermain piano, ia dengan tergesa-gesa merogoh kantong celananya tetapi apa yang ia cari ternyata tidak ada di sana. “Aduh! Aku lupa lagi” Sesal sang suster.

Sesampainya di dapur, Andin melihat sebuah handphone yang berdering, ia hanya diam menatapnya. “I hate the name. I hate, hate, hate, hate, hate.” Ucap Andin menandingi nada dering handphone itu sendiri. Setelah handphone itu tidak berbunyi, Andin mulai mencari sesuatu di dapur itu. 

Lidia merasa kesal karena orang yang tengah ia telpon tidak mengangkatnya, tidak lama kemudian dari jendela ruangannya ia melihat pasiennya sedang merayakan ulang tahun bersama ibunya hari ini. Lidia kemudian menghela napas super berat dan tersenyum senang. Baru saja ia ingin kembali ke meja kerjanya, sebuah pemandangan aneh menghujam kornea matanya. Ia melihat pasiennya mulai mengamuk, menangis ketakutan, dan tiba-tiba menodongkan sebuah pisau yang entah bagaimana bisa ia 

dapatkan.

Lidia dengan cepat keluar dari ruangannya dan memanggil satpam untuk bergegas ke taman rumah sakit. Dalam jarak sekitar 2,5 meter Lidia berhenti, terperangah melihat darah yang sudah mengalir di tangan pasiennya dan ibunya yang tengah tergeletak tidak berdaya. Pasien Lidia langsung dijaga oleh satpam, Lidia dan beberapa petugas medis membawa korban ke rung UGD. Sepanjang perjalanan di koridor rumah sakit Lidia berusaha membuat korban tetap tersadar, “Mela, kamu tetap sadar ya Mela, Mela, Mela, stay with me, don’t close you’re eyes, I beg you, Mela please.” Ucap Lidia sembari memegang tangan korban. “Lid, I’am wrong. Deri tidak pernah menyukai perayaan ulang tahun. Haah, haah. Selama ini dia hanya menahannya, dia selalu ingat kenangan buruknya. Haah.” Ucap korban sembari menahan sakit.

Lidia berhenti didepan pintu UGD, ia melihat seorang dokter wanita yang akan memasuki ruangan untuk melakukan tindakan dengan segera. Sejenak dokter wanita itu bersitatap dengan Lidia kemudian segera memasuki ruang UGD. Lidia kembali meraih handphonenya untuk menelpon seseorang. Seketika itu juga dia bergegas ke arah parkiran mobil dengan tergesa-gesa, saat perjalananya menuju parkiran seorang pria berpakaian jas mencoba menghentikan Lidia. “Kamu lihat apa yang terjadi sama Deri dan Mala berusan? Kamu tahu kalau Andin tidak mendapatkan perawatan yang baik akan seperti apa? Hah?” Ucap pria itu dengan memegang tangan Lidia kuat-kuat. “Berhenti ikut campur urusan saya, dan jangan pernah sentuh saya lagi. Apalagi seolah-olah peduli dengan anak saya!!!” Balas Lidia yang menepis tangan pria berpakaian rapi itu.

Lidia kembali berlari menuju mobilnya dan tanpa henti terus menelpon seseorang. Sekarang mobilnya sudah berlalu dari parkiran rumah sakit itu. Mengabaikan pria yang tadi menahannya sedang mengetuk-ngetuk kaca mobilnya. “Anakmu itu juga anakku Lid!!!” Ucap pria itu lagi yang berusaha menghentikan Lidia. Lidia menangis sejadi-jadinyaa, tanpa henti ia berteriak-teriak histeris menangis dengan kencang. Pikirannya tidak karuan membanyangkan apa yang terjadi di rumahnya saat ini. Setelah sampai, Lidia dengan cepat berlari masuk ke dalam rumahnya. Hening. Tidak ada musik klasik yang seharusnya disetel untuk Andin, tidak ada suster, tidak ada Andin, Lidia mulai memanggil-manggil anaknya dengan histeris.

Lima menit berlalu, tidak ada satupun orang yang menjawab Lidia. Entah itu sang suster ataupun anaknya. Sampai pada pengelihatannya tertuju pada sebuah kamar mandi, Lidia membuka kamar mandi itu seketika itu pula ia hanya menatap isi kamar mandi itu dengan tatapan kosong. Lidia mulai terduduk di depan pintu kamar mandi, di sana ia melihat tiga amplop yang berserakan. Lidia membuka sebuah amplop yang berada paling dekat dengan dirinya. Bertuliskan 21 Juli 2015.

# 21 Juli 2015

Hari-hari di SMP sangat membosankan, tapi di rumah lebih membosankan. Belajar bahasa inggris, piano, musik klasik, pertengkaran Ayah dan Ibu. Dan perselingkuhan Ayah, Ibu yang mulai kehilangan kepercayaannya terhadap pekerjaannya sendiri. Ibu yang mulai membenci rumah sakit, jujur aku tidak membenci rumah sakit tapi karena Ibu membencinya aku juga harus membencinya. Aku sering mengalami gangguan tidur, terlalu banyak Bu…. Terlalu banyak yang aku pikirkan Bu. Aku tidak bisa fokus belajar, aku hanya terpikir bagaimana perasaan Ibu, bagaimana keadaan Ayah, apakah aku bukan anak yang baik sampai Ayah pergi dari rumah? Bu kumohon jawab, jangan hanya ada sorot mata pengharapan itu. Aku tidak bisa dan tidak akan menjadi alat balas dendam kepada Ayah. 

Lidia terperangah setelah membaca isi amplop itu. Segera ia membuka satu amplop lagi di dekatnya. Bertuliskan 21 September 2015

# 21 September 2015

Andin tidak tahu apa yang kemarin terjadi, tetapi Ibu sangat marah kepada Andin. Bu, Andin tahu Andin juga sudah membaca surat perceraian yang dikirim Ayah. Andin tidak melakukan kesalahan apapun kepada Ibu. Andin tahu siapa perempuan yang akan menikahi ayah, Andin tahu betuk tante itu. Tapi apa salah Andin sampai-sampai Ibu sangat marah? Bu, Andin lelah. Bu, Andin ingin menyusul Leora. Setiap malam Leora datang Bu, sepi katanya di sana. Andin mau ikut Leora Bu, Andin akan bermain terus dengan Leora. Andin tidak akan membiarkan Leora jatuh ke air seperti waktu itu, Andin janji. Andin sayang sama Ibu.Lidia menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya, menggerang menangis sejadi-jadinya. 

Tersisa satu amplop yang belum terbuka, Lidia dengan wajah tak karuan membuka amplop terakhir. 

Bertuliskan 21 Oktober 2015

#21 Oktober 2015

Bu, hari ini aku benar-benar bertemu dengan Leora, kenapa Ibu tidak percaya dan menganggap ini ulah makhluk halus Bu? Aku juga tidak butuh cincin itu Bu, Andin benar-benar bertemu dengan Leora. Bu, biarlah ayah bahagia dengan kebahagiannya sendiri dan kita bahagia dengan kebahagiaan kita sendiri. Ibu adalah kebahagiaan Andin, dan Andin juga bisa menjadi kebahagiaan Ibu. Andin tahu hari ini Ibu benar-benar berpisah dengan Ayah, Ibu benar-benar akan membenci rumah sakit, Ibu akan terus menganggap Andin tidak bertemu Leora. Andin benar-benar ingin bersama Leora Bu, Andin mau bermain lebih lama dengan Leora. Ibu, tidak ada sedikitpun niat untuk menyakiti hati Ibu tapi Andin ingin pergi dulu dari rumah Ibu. Jika Andin bukan kebahagiaan Ibu, maka biarkanlah Andin pergi Bu menyusul Leora.

Lidia terpaku pada kertas yang sedang ia pegang. Habis. Setiap tetes air mata yang telah keluar kini sudah habis, napas Lidia terasa berat, pandangannya kabur dan seketika pengelihatan Lidia menjadi gelap. Lidia terbangun di atas sofa ruang tamu, seluruh badannya terasa pegal. Lidia yang mulai mendapatkan kesadarannya langsung berlari kea rah kamar mandi. Mata Lidia mngerjap tidak percaya pemandangan yang seharusnya ada di sana kini tidak ada. Tiba-tiba handphone Lidia berbunyi, terpampang jelas tanggal 21 Juli 2015. Lidia menelan salivanya dengan susah payah. “Halo?” Ucap Lidia terengah-engah. “Tidak Mel, aku tidak butuh lagi cincin itu. Dan deri, kamu harus membawa Derik e rumah sakit.” Ucap Lidia dengan tergesa-gesa dan langsung mematikan panggilan telponnya itu.

Lidia segera beranjak ke kamar putrinya, di sana Lidia memandangi wajah anaknya itu melihat di atas meja belajarnya terdapat selembar kertas bertuliskan #21 Oktober 2015 Bu hari ini aku benar-benar bertemu dengan Leora. Hanya sampai kalimat itu, belum dilanjutkan oleh Andin. Andin saat ini yang sedang tertidur tidak akan mendengar suara tangis Lidia, tidak akan melihat air mata Lidia yang membanjiri seluruh wajahnya. Dengan tangan gemetar, Lidia meraih handphonenya, menelpon seseorang. Setengah jam kemudian petugas rumah sakit datang, Lidia masih terus menangis dalam diam. Hanya air matanya yang menjadi saksi bahwa ia sedang menangis. Lidia bangkit untuk membuka pintu rumahnya, seiring dengan itu di sepanjang perjalanan menuju pintu rumahanya. Lidia meletakkan kembali sebuah bingkai foto yang di dalamnya terdapat tiga orang yang tengah merayakan kelulusan dan satu lagi bingkai foto yang berisi dua anak kecil perempuan. kemudian Lidia membuka pintu rumahnya.

***Selesai***

Anggi Saputri

@anggisptr07

Senin, 09 Maret 2020

1

FIKSASI DAN STRUKTUR KEPENGURUSAN PEJUANG GEN X

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Apa kabar pejuang online DESA BINAAN FMIPA UNJ?
semoga selalu sehat ya...πŸ˜‰

Kita jargon dulu yuk....

DESA BINAAN...
AKU, KAMU, KITA, LUAR BIASA!
DESA BINAAN...
AKSI NYATA MEMBANGUN BANGSA!

Tidak terasa satu periode perjuangan kepengurusan pejuang desa binaan gen IX telah usai. Kini saatnya,kami melanjutkan perjuangan mereka. Sebelumnya,kami pejuang desa binaan gen X mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar besarnya kepada kakak-kakak pejuang gen IX  dan gen gen sebelumnya yang telah mempercayai dan mengamanahkan kami untuk berada di jalan juang ini. Serta mengajarkan kami hal-hal bermanfaat yang dapat kami terapkan dalam menjalani tugas sebagai pengurus desa binaan dan dalam kehidupan sehari-hari.πŸ’œπŸ™

Setelah mengikuti rangkaian agenda untuk kepengurusan yang baru,Alhamdulillah pada hari selasa,18 februari 2020 Waktu Indonesia Berkumpul telah dilaksanakan fiksasi pejuang desa binaan gen X bertempat di depan lift lt 2 GHA kampus A,Universitas Negeri Jakarta.

Diawali dengan presensi kehadiran di selasar GHA,setelah itu setiap orang mendapatkan nametag bertuliskan namanya masing-masing.Lalu,kita berkumpul didepan lift lantai 2 GHA. Agenda kali ini dipandu oleh Adin dan Dewa sebagai MC.




Selanjutnya,ada sambutan dari kepala desa binaan gen X yaitu Aksal Ramadhan dan sambutan dari kak Cecep Sobarudin sebagai perwakilan Departemen Sosial dan Politik BEM FMIPA. Tak lupa pekikan hangat di setiap sambutan mereka, HIDUP MAHASISWA! HIDUP RAKYAT INDONESIA! HIDUP PENDIDIKAN INDONESIA! .πŸ‘Š Pekikan yang selalu membangkitkan semangat para pejuang desa binaan. Selain itu,ada juga nih materi yang disampaikan oleh kak Ihsan yang merupakan kepala desa binaan gen VII. Kak Ihsan menyampaikan materi terkait dengan organisasi,pengalaman bersama adik-adik DB,pendidikan,cerita sejarah peradaban,serta pandangannya terkait permasalahan yang ada di indonesia saat ini.Penyampaian materi ditutup dengan pemberian bingkisan kepada pemateri oleh kepala desa binaan gen X.


Suatu kebanggaan bagi kami calon pejuang untuk dapat bertemu dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat dari kak Cecep dan Kak Ihsan.



Agenda yang ditunggu-tunggu pun sampai,yaitu fiksasi pejuang desa binaan gen X. Fiksasi kali ini memakai cara yang cukup unik loh pejuang online....😬😬 Kita sebagai calon pejuang desa binaan gen X harus sudah memakai nametag yang sudah diberikan oleh panitia ketika presensi. Meletakkan nametag harus ditempat yang mudah terlihat ya...
Nah,selanjutnya kita harus memejamkan mata dan tidak boleh mengintip. Selagi kita memejamkan mata nanti akan ada panitia yang menuntun kita untuk berpindah tempat. Dan ternyata,kita akan dikelompokkkan sesuai dengan divisi yang akan diamanahkan kepada kita. Dengan memejamkan mata terasa lebih menegangkan dan menambah rasa penasaran diri sendiri nih kira-kira kita akan ditempatkan di divisi apa ya? hehe itu sih yang aku rasakan saat itu😝

Setelah semua sudah terkelompokkan,kita calon pejuang diperbolehkan membuka mata dan disitulah kita sudah resmi menjadi pejuang desa binaan gen X yeayyπŸ’œ Nah,selanjutnya anggota masing-masing divisi saling berkenalan dan bercengkrama membentuk lingkaran.Selain itu juga membahas program kerja apa saja yang akan dijalani pada divisi tersebut.

Agenda fiksasi ditutup dengan foto bersama seluruh pejuang desa binaan gen X dan juga foto masing-masing per divisi. yukk pejuang online kita lihat hasil jepretannyaπŸ˜πŸ“·



DIVISI MANAJEMEN PROGRAM

DIVISI PSDM

DIVISI INFOKOM


Gimana nih pejuang online seru kan agenda nya?
Kurang afdhol nih pejuang online kalo kita tidak kenalan dengan para pejuang desa binaan gen X
langsung aja kita kenalan yuk.....





πŸŽ‰PEJUANG DESA BINAAN GEN X πŸŽ‰

Kepala Desa : Aksal Ramadhan (Pendidikan Matematika 2019)
Wakil Kepala Desa : Muhammad Rifad Khoiran (Pendidikan Kimia A 2019)

Sekretaris 1 : Hanifa Alifia P (Pendidikan Kimia B 2019)
Sekretaris 2 : Nurul Izzah R

Bendahara 1 : Dhaniah Nurul Utami (Pendidikan Kimia B 2019)
Bendahara 2 : Sekar Syawalahayati (Pendidikan Kimia B 2019)

Kepala Divisi PSDM : M Syach Dewa Aljala (Pendidikan Matematika 2019)
Wakil Kepala Divisi PSDM : Tara Mulia Insani (Pendidikan Kimia B 2019)
Ariska Novianti
Dwi Sisi Marnasih
Antika
Firman Prastiawan
Dinda Azmilia P
Dwi Nofiyanti N.F.
Hafidzah Ma`ruf
Myse Wahyuni Putri
Zarna Nurul Z.
Tasya E.K.
Desy Salsabila
Silvia Nitami

Kepala Divisi INFOKOM : Istimrariyyah Shulbah (Pendidikan KImia B 2019)
Wakil Kepala Divisi INFOKOM : Annisa Maharani (Pendidikan Kimia A 2019)
Sa`idah Linaili R.
Aulia Agustina
Mahmudah
Adinda Aulia Syifa
Harits Asaduddin A.
Istiqomah
Stefanus Waskito A.P.
Syaif Alwan Sugiharto
Qoulan Karima

Kepala Divisi MANAJEMEN PROGRAM : M Adin Nugroho (Ilmu Komputer 2019)
Wakil Kepala Divisi MANAJEMEN PROGRAM: Arin Catur Astiti(Pendidikan Kimia A 2019)

Kepala SubDivisi KURIKULUM : M Ridho Rizqillah (Ilmu Komputer 2019)
Wakil Kepala Subdivisi KURIKULUM : Chitra Rahmawati (Pendidikan Kimia B 2019)
Alifia Salsabila H.
M.Rizky Wafyan
Putri Nur Affriliani
Huriyatul Hakiimah
Sarah Adilisa K.
Rizka Anjani A.
Zahwa
Liana Kusumandari
Shoimatuz Zahrah
Abdurrahman Adhakil
Yuliana R.

Kepala SubDivisi SARPRAS : Hasnah Nadiya U (Pendidikan Matematika 2019)
Wakil Kepala SubDivisi SARPRAS : Hafifah Fadilah (Pendidikan Matematika 2019)
Aghina Nuha W.
Hafsah Mujahidah
Tiara Pramudita W.
Ahmad Ariyadih
Faradila Sisilianti
Siti Azizah
Devi Lesiani
Sari Rahayu
Syalwa Dhiya A.P
M. Hafiz Hisbullah

🌟🌟🌟🌟

Gimana nih pejuang online udah pada kenal kan siapa aja pejuang desa binaan gen X?
Meskipun dari prodi yang berbeda,tujuan kita tetap sama yaitu bersama berjuang untuk adik-adik desa binaan sehingga tercapainya #AKUKAMUKITALUARBIASA .
               Doakan kami ya pejuang online!agar dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya dan konsisten menebar kebaikan.πŸ‘ŠEitss... sebelum ditutup kita jargon lagi ya...

DESA BINAAN...
AKU, KAMU, KITA, LUAR BIASA 
DESA BINAAN...
AKSI NYATA MEMBANGUN BANGSA

HIDUP MAHASISWA!
HIDUP RAKYAT INDONESIA!
HIDUP PENDIDIKAN INDONESIA!

Sampai jumpa di agenda selanjutnya,jangan berhenti menebar kebaikan.
SALAM PEJUANG!

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
πŸ’•πŸ’•
πŸ‘€Info lebih lanjut silahkan cek
Instagram : @desabinaan_fmipa
Youtube : Desa Binaan FMIPA UNJ


Penulis : Adinda Aulia Syifa (Pendidikan Kimia A 2019)
Penyunting : Infokom Desa Binaan Gen X



Rabu, 21 Agustus 2019

0

PRESS RELEASE JALAN-JALAN CERDAS KE TAMAN MARGASATWA RAGUNAN

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kembali lagi nih bersama kami, DESA BINAAN FMIPA UNJ.

Yuk kita tes semangat dulu ya
DESA BINAAN...
AKU, KAMU, KITA, LUAR BIASA!
DESA BINAAN...
AKSI NYATA MEMBANGUN BANGSA!

Gimana nih kabar para pejuang? Semoga selalu dalam lindungan Allah Subhanahu Wa Ta'ala ya semuanya. Setelah sebelumnya para pejuang Desa Binaan Gen IX melaksanakan Madrasah Desa Binaan, kali ini kami mau memberikan press release acara yang kece banget nih, yaitu JJC alias Jalan Jalan Cerdas.

Alhamdulillah telah dilaksanakan acara Jalan-Jalan Cerdas (JJC) pada hari Sabtu, 6 Juli 2019 di Taman Margastwa Ragunan. Acara kali ini dimulai pukul 7.00 Waktu Indonesia Berkumpul sampai dengan jam 13.00 Waktu Indonesia Bubaran.

JJC atau Jalan-Jalan Cerdas  merupakan agenda liburan penutup semester 1 Desa Binaan Generasi IX (wahh, ga terasa yaaa). JJC itu sendiri merupakan salah satu program dari Divisi Manajemen Program dengan subdivisi Kurikulum, Sarana & Prasarana, dan Hubungan Masyarakat. Dengan mengusung tema "Mengenalmu Menambah Ilmuku", dengan adanya acara ini, diharapkan dapat meningkatkan rasa persaudaraan antar sesama pejuang dan juga adik-adik Desa Binaan FMIPA UNJ. Selain itu, dengan diadakannya acara ini diharapkan pula dapat menambah ilmu dan pengetahuan bagi pejuang terutama adik-adiknya.

First of all, sehari sebelum dilaksanakannya JJC ini, para pejuang melaksanakan sosialisasi  berupa penyebaran brosur ke rumah-rumah warga sekitaran posyandu kayu jati.

Pada pukul 07.00 Waktu Indonesia Berkumpul, adik adik DB dan pejuang yang awalnya berkumpul di posyandu kini menuju Kampus B UNJ untuk segera berangkat menggunakan metromini .

Perjalanan ditempuh selama kurang lebih satu setengah jam hingga sampai ke loaksi tujuan. Sesampainya disana, pejuang dan adik-adik mengantre untuk masuk ke kawasan taman margasatwa tersebut. Setelah semua masuk, mereka istirahat sebentar dan sarapan bersama.

Lalu, perjalanan  mengamati binatang-binatang yang ada di sana pun dimulai. Rusa tutul adalah binatang pertama yang kami amati. Kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi binatang buaya, unta, singa, harimau, banteng, dan juga orang utan. Adik-Adik DB sangat antusias dan bersemangat.


Setelah beristrirahat sebentar, perjalanan dilanjutkan kembali menuju kawasan binatang kuda nil, babi rusa, burung kaswari, dan di akhiri dengan mengunjungi macan tutul.

Pada pukul 11.40 WIB, pejuang dan adik-adik DB beristrirahat kembali di sekitar masjid sambil menunggu adzan Dzuhur. Setelah selesai melaksanakan sholat Dzuhur, sebagai penutup rangkaian acara hari ini, dilaksanakan foto bersama.
Akhirnya, pejuang dan adik-adik DB pulang dengan menggunakan metromini yang sama dengan keberangkatan tadi. Sambil menikmati perjalanan pulang, pejuang membagikan bingkisan kepada adik-adik DB yang sudah berkenan hadir pada acara ini.