Selasa, 21 Juni 2022

34

[CERPEN] Secercah Asa untuk Asa karya Cindy Kristina Sartika

 Secercah asa untuk Asa


        Di tepi jalan sebuah lorong gelap terlihat seorang wanita sedang duduk termenung. Dari mulutnya mengudara kepulan asap tipis. Sementara di ujung jalan terlihat seorang lelaki berusia sekitar 25 tahun dengan kemeja biru muda dan celana bahan berwarna hitam berjalan perlahan menghampirinya.

“Sedang apa?” Tanya lelaki tersebut.

Wanita itu hanya menoleh sekilas, kemudian meneguk air dari sebuah botol kaca yang ada di tangan kirinya.

“Saya Doni, namamu siapa?” Ucap lelaki itu kemudian.

Masih tidak ada jawaban, wanita itu hanya menghembuskan kepulan asap tipis dari rokok di tangan kanannya.

“Merokok membunuhmu.” Ucap lelaki tersebut sembari duduk pada kursi kosong di sebelah wanita itu.

“Kalau mau iklan di televisi, jangan di sini.” Wanita berusia 21 tahun itu akhirnya mengeluarkan suara.

“Nah begitu dong, ada jawaban.” Ucap Doni.

Wanita dengan rambut yang dikuncir asal itu kemudian beranjak dari kursinya tanpa berkata apa-apa, berjalan gontai sembari meneguk air dari botol kaca digenggamannya. Doni mengikuti dari belakang.

“Merokok tidak baik untuk kesehatan.” Ucap Doni perlahan.

“Peduli apa anda pada kesehatan rakyat kecil seperti saya? Memangnya siapa anda? Seorang Dokter?” Ketus wanita tersebut yang dibalas dengan anggukan oleh Doni.

“Oh, benar, anda Dokter?” Tanya wanita itu memastikan.

“Iya, benar.”

“Saya tidak punya uang untuk membayar anda, silahkan pergi dan praktik di tempat lain.” Ucap wanita itu.

“Saya tidak datang untuk praktik.” Balas Doni.

“Lalu untuk apa?” Tanya wanita tersebut.

“Sudah berapa lama seperti ini?” Tanya Doni mengalihkan pembicaraan.

“Maksudnya?” Wanita itu menghentikan langkahnya.

“Merokok dan minum alkohol, sudah berapa lama?”

“Memang apa urusannya dengan anda?” Ketus wanita tersebut.

“Tidak baik untuk kesehatan.”

“Tidak usah sok peduli pada kesehatan rakyat kecil seperti saya.” Ia melanjutkan langkahnya.

“Ibu saya pergi karena kami tidak punya cukup uang untuk membayar biaya perawatannya. Ibu saya terkena paparan virus Corona dan ia memiliki riwayat penyakit jantung. Ibu saya meninggal karena terlambat penanganan oleh tim medis. Mereka itu hanya akan bergerak kalau diberikan uang banyak.” Ucap wanita itu kemudian sembari duduk di sebuah halte.

“Salah saya juga, tidak bisa mengumpulkan uang yang banyak untuk pengobatan ibu. Malahan saya menghabiskan uang tabungan ibu untuk perkuliahan.” Lanjut wanita itu.

“Kamu kuliah? Sudah semester berapa?” Tanya Doni sembari duduk di sebelahnya.

“Sudah berhenti.”

“Sejak kapan? Dan kenapa?”

“Sejak dua tahun lalu, tepatnya setelah ibu pergi. Dulu saya mau kuliah untuk ibu, kalau ibu sudah tidak ada, untuk siapa saya kuliah?”

“Untuk dirimu, untuk calon anakmu kelak, kalau kamu sukses, ibumu pasti bangga dan sangat senang melihatmu dari atas sana.” Ucap Doni sembari menunjuk langit.

    Wanita itu melihat langit yang kebetulan sedang sangat indah di malam ini. Bulan bersinar terang seolah sedang bahagia, ditemani bintang-bintang bertaburan dengan cahaya yang tak kalah indahnya dari bulan. Kemudian ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.

“Namamu siapa? Kamu belum menjawab pertanyaan saya ini sedari tadi.”

“Asa.” Jawab wanita itu tanpa sedikit pun memalingkan pandangannya dari langit.

“Nama yang bagus. Ibumu pasti menaruh harap yang besar padamu. Beliau pasti sedih melihat Asa putus asa seperti ini.” Ucap Doni perlahan.

“Asa, saya tahu kamu sedih dan kecewa, tapi, kamu tidak bisa menyalahkan siapapun atas kepergian ibumu, baik itu tim medis atau pun dirimu sendiri.” Lanjut Doni.

Asa melihat ke arah Doni.

“Bapak dan adik perempuan saya pergi karena terkena paparan virus Corona juga. Saya dan Ibu saya adalah tenaga medis, tapi apa? Kami tetap tidak bisa membuat Bapak dan adik bertahan. Tidak berhenti di situ, seminggu setelah kepergian mereka, ibu juga terkena paparan virus Corona, lalu akhirnya menyusul bapak dan adik saya. Hidup saya hancur saat itu. Tapi, saya sadar bahwa kehidupan saya harus tetap berlanjut. Lagipula, jika Tuhan sudah berkehendak, kita manusia bisa apa?”

    Asa terdiam mendengar cerita Doni, ia mulai menyadari bahwa kehidupannya bukanlah yang paling menyedihkan di bumi ini. Masih ada Doni, yang kehilangan tiga orang yang dicintainya sekaligus.

“Saya turut berduka cita.” Ucap Asa akhirnya.

“Terima kasih.” Jawab Doni.

“Sebenarnya saya sudah sering melihat kamu.” Ucap Doni kemudian.

“Di mana?”

“Di lorong itu. Saya sering melihat kamu merokok dan minum alkohol di sana.”

“Saya memang selalu menghabiskan waktu di sana.” Jawab Asa

“Beberapa kali saya juga melihat kamu melukis.”

“Melukis?”

“Iya, melukis botol bekas alkohol.”

“Oh, hanya corat-coret saja. Saya takut kalau corat-coret di tembok nanti ditangkap polisi karena tidak ada perizinannya. Jadi, di botol saja.” Asa kembali meminum alkohol di tangannya.

“Kamu suka melukis?”

“Nggak juga. Saya hanya senang corat-coret saja, jadi, semua botol bekas minuman, ya, saya corat-coret.”

“Terus botol-botolnya di mana?”

“Anda mau lihat?”

“Boleh?”

    Asa beranjak dari posisi duduknya dan berjalan meninggalkan halte serta memberikan isyarat pada Doni untuk mengikutinya. Doni pun berjalan di belakang Asa. Setelah berjalan sekitar 5 menit, langkah Asa terhenti pada sebuah rumah berwarna abu-abu, rumah yang tidak begitu besar namun juga tidak terlalu kecil. Asa mengajak Doni masuk ke dalam rumah tersebut. Doni pun mengikutinya. Setelah berada di dalam, Doni dibuat sangat terkejut. Ia merasa seperti masuk ke dalam sebuah galeri seni. Doni melemparkan pandangannya ke segala arah, ia melihat beberapa sudut tembok dilukis dengan sangat menarik. Sungguh seperti sebuah galeri seni. Asa menunjukkan kumpulan botol yang telah dilukisnya, kumpulan botol tersebut disusun rapi pada sebuah rak dari besi. Lalu Asa mengambil kuas dan beberapa cat warna, ia mulai melukis pada botol yang baru saja ia bawa pulang. Sementara Doni masih terkesima dengan isi rumah Asa, ia menjelajahi setiap detail karya yang ada dalam rumah tersebut.

“Sejak kapan suka melukis?” Tanya Doni memulai obrolan.

“Sejak kecil. Dulu saya biasa melukis di kanvas, Bapak yang selalu belikan kanvasnya. Sejak Bapak pergi, tidak ada lagi yang belikan kanvas. Ibu suruh saya melukis di kertas, tapi kertas mudah sobek, saya nggak suka. Akhirnya berhenti melukis. Saya juga nggak pernah memaksa ibu untuk belikan kanvas, banyak hal yang lebih diperlukan selain kanvas. Sejak bapak pergi, kehidupan kami memang berubah drastis.” Jelas Asa.

“Bapakmu terkena paparan virus Corona juga?” Tanya Doni sembari berjalan mendekati Asa yang sedang sibuk bermain dengan kuas dan warna.

“Nggak. Perginya sudah lama, saat saya masih di bangku Sekolah Menengah Pertama, karena kecelakaan.”

“Saya turut berduka cita.”

“Terima kasih.”

“Terus, kenapa sekarang jadi suka melukis lagi?” Tanya Doni kemudian.

“Sejak ibu pergi, rumah ini sangat sepi. Saya nggak suka ramai, tapi, saya juga benci sepi. Jadi, saya corat-coret saja semuanya termasuk tembok-temboknya, kalau mencoret tembok di rumah sendiri, polisi tidak mungkin marah. Dengan begini, jadi tidak terasa terlalu sepi.”

“Sangat kreatif, ya. Karyamu bagus semuanya. Nggak ada niat ikut pameran seni? Daripada karyanya hanya dinikmati sendiri seperti ini.”

“Dulu mau, biar ibu bangga, tapi–”

“Ibumu pasti bangga, beliau melihat kamu dari atas sana. Belum terlambat untuk memulai lagi dari awal, semua harapan akan tetap jadi angan kalau kita tidak mulai melakukan pergerakan.”Ucap Doni memotong perkataan Asa.

“Seperti namamu, Asa, ibumu pasti sedih kalau tahu putri kesayangannya justru kehilangan asa sejak kepergiannya.”

    Asa terdiam mendengar perkataan Doni. Ia merasa bahwa perkataan Doni memang ada benarnya. Sudah dua tahun sejak kepergian ibunya. Hari-hari dilalui Asa tanpa semangat sedikitpun, dunianya tetap terasa abu-abu seperti warna luar rumah ini, meski di dalamnya ia bermain dengan berbagai warna. Tetapi, semua warna terasa sia-sia karena hatinya belum ikhlas menerima kenyataan bahwa ia tinggal sendiri di tengah bumi yang sangat ramai ini. Asa sadar, selama ini ia salah karena telah menjadikan kepergian ibunya sebagai alasan untuk tidak melanjutkan kehidupan, sebagai alasan untuk mengubur semua harapan, sebagai alasan untuk tidak melakukan pergerakan. Kini batinnya dipenuhi tanya, setelah dua tahun, mengapa ia baru menyadari semuanya? Ia heran, mengapa Doni yang baru ditemuinya hari ini justru bisa membuka pikirannya untuk kembali bergerak?.

“Terima kasih.” Ucap Asa akhirnya.

“Untuk?”

“Untuk membuat saya sadar, bahwa kehidupan harus tetap berjalan karena selalu ada secercah harapan, dan kesedihan tidak boleh dijadikan alasan untuk berhenti meraih impian.”

“Saya juga mau berterima kasih.”

“Karena apa?”

“Karena kamu mau mendengarkan saya, setelah kepergian semua keluarga saya, tidak pernah saya bercerita pada siapapun. Biasanya saya cerita segala hal pada mereka, setelah mereka pergi, saya kehilangan ‘rumah’ tempat untuk saya berkeluh-kesah. Terima kasih juga karena kamu mau mengajak saya ke rumahmu, saya senang, seperti sedang ke galeri seni.”

Asa tersenyum mendengar ucapan Doni, dan dibalas dengan senyuman juga oleh Doni.

“Terima kasih sudah mau mampir ke galeri seni milik Asa.” Ucap Asa kemudian.

“Jadi, mau ikut pameran?” Tanya Doni dengan senyuman.

Asa membalas dengan anggukan beberapa kali.

“Nanti saya bantu cari informasinya, kebetulan saya punya teman seorang seniman.”

“Serius?” Asa terkejut.

“Iyaa.”

“Terima kasih!”

Doni membalas dengan senyuman.



Selesai



Cindy Kristina Sartika_@cii.ndys
26

[CERPEN] Jangan Terburu-buru untuk Patah karya Bayyinah

Jangan Terburu-buru untuk Patah

        Mempergunakan kedua telinga yang telah Tuhan karuniakan untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara memang tantangan luar biasa. Wanita dengan pakaian longdres berusaha berdiri tegap di ketinggian 540 Mdpl. Matanya terpejam, nafasnya menghirup lembut udara bukit desa. Longdresnya menyapu rerumputan yang agak basah karena gerimis sore. Perlahan wanita itu membuka matanya dan menatap lurus ke arah bentangan Gunung Geureudong yang berada di posisi barat laut dari Kecamatan Syiah Utama, Bener Meriah, Aceh. “Bagaimana aku memangkas perkataan mereka? Tak ingin rasa percaya diriku terus digerogoti oleh sebuah kalimat tak mendasar. Apa aku harus terus mendengar statement1 itu jika kepulanganku dari sini tak juga membuahkan hasil?”
 
Suara selawat sebelum azan sudah mulai menggema dari musala dekat rumah-rumah yang berada di kaki pegunungan sana. Matahari mulai menuju tempat terbenamnya. Segera wanita itu membalikkan badan untuk kembali ke vila.
 
“Masih ke pikiran itu ya, Fir?” tanya Gea dari balik pintu dan diikuti dengan terbukanya pintu vila.
 
“Iya nih. Betah banget di kepala,” ujar Fira dengan sedikit gurauan pengalih kekhawatiran Gea.
 
“Hmmm betah atau betah?”
 
“Mending salat magrib Gee sebelum habis waktunya,” pungkas wanita itu sambil menggulung lengan baju dan berjalan menuju kamar mandi. Gea menutup beberapa gorden yang tersingkap oleh angin dan bersegera mengikuti Fira.
 
        Fira dan Gea adalah mahasiswa tingkat akhir. Kedatangan mereka ke vila bukan dalam rangka berlibur atau demi senang-senang belaka. Mereka datang demi terjun mengabdi pada masyarakat di desa ini. Idealnya mahasiswa dengan usia semester tua memang seharusnya mulai menyusun bab per bab skripsi. Akan tetapi, terkadang jalan hidup bukan hanya tentang ideal atau tidak ideal, melainkan bagaimana mempertahankan semangat untuk mengerahkan potensi yang bermanfaat untuk sekitar.

“Kita jadi turun ke hutan kan?” tanya Gea yang sudah berbaju rapi dan menepuk pundak Fira yang sedang menghirup udara pagi di teras depan vila.

“Melihat Rangkong Badak?” jawab Fira dan secara spontan pandangannya beralih dari hamparan perkebunan kepada wanita yang menepuk pundaknya.

“Iya. Kemarin aku menemui kepala desa untuk bertanya apakah aman untuk melihat-lihat kawasan hutan. Beliau memastikan aman jika kita melihat di area hutan yang belum terlalu jauh dari permukiman warga.”

“Loh justru bukankah kita perlu observasi di kawasan hutan yang lebih dalam? Jika hanya perihal bahaya pemburu, kita bisa minta bantuan beberapa warga atau polisi untuk keamanan kita.”

“Kepala desa sudah wanti-wanti loh, Fir. Enggak baik memaksa kalau dari awal kita sudah minta izin. Lagi pula, Rangkong Badak masih bisa kita lihat di hutan dekat permukiman.”

“Oke. Ku rasa kita lebih baik tetap meminta pengawasan beberapa warga, berhubung kita cuma berdua dan sama-sama perempuan.”

“Nah aku setuju kalau itu.”

        Fira dan Gea meminta bantuan kepada salah seorang warga di desa yang bermukim tak jauh dari vila tempat mereka singgah. Beruntungnya, ternyata mereka bertemu dengan pemuda yang juga merupakan mahasiswa di salah satu Universitas di kota Nanggroe Aceh Darussalam. Nama pemuda itu adalah Antana.

        Untuk sampai ke Hutan Kala Bugak, kami harus berjalan kaki sejauh 800 Km. Akses paling mudah untuk memasuki hutan memang berjalan kaki. Membawa motor hanya akan menimbulkan risiko karena akses jalan di sini belum sepenuhnya aspal. Wajarlah jika tanahnya licin, lebih-lebih sore kemarin turun hujan di desa ini.

“Hati-hati Ka, tanah hutannya masih agak basah,” respons Antana ketika Fira terlihat sangat selektif ketika berjalan di kawasan hutan.

“Selain bahaya karena tanahnya basah, pemburu di sini bahaya juga enggak?” tanya Fira.

“Kebanyakan mereka kan memburu untuk dijual hidup-hidup, Ka. Jadi sejauh ini belum pernah kejadian ada peluru yang mengenai warga di sini.”

Fira semakin antusias dan kembali bertanya, “Iya juga ya, tetapi An.. kok kami enggak diizinkan masuk ke kawasan hutan dalam?”

“Kawasan dalam hutan cukup gelap dan minim sekali sinyal, Ka. Agak bahaya kalau kesasar di sana. Hmm kakak mau ambil penelitian skripsi tentang Rangkong Badak ini ya?”

“Ha? SKRIPSI? Hahahahaha” tawa Gea sontak memecah hening Hutan Kala Bugak.

“GEAAA!! Di hutan kok malah tertawa lepas. Kami niat mau bantu mengurangi pemburuan Rangkong Badak atau paling tidak meningkatkan rasa kepedulian warga Aceh terkait populasi Rangkong Badak saja sih.”

“Jangan panggil kita kaka, Antana. Tinggimu saja cocok menjadi tempat bertengger Rangkong Badak. Upss maksudku selisih umur kita pasti enggak jauh beda,” celetuk Gea.

“Menurutmu Antana, mahasiswa jurusan Ilmu Komputer seperti kami ini bisa membantu apa untuk masalah ini?”

Dahi Antana berkerut seolah tak percaya bahwa kedua mahasiswa yang nekat menunda skripsi demi berkontribusi untuk kelestarian alam bukanlah mahasiswa jurusan Kehutanan atau Biologi, “Wah jadi jurusan kamu dan Gea itu Ilmu Komputer? Salut loh saya. Saya saja jurusan Kehutanan justru kuliah hanya fokus menyelesaikan tugas-tugas kuliah dan mengisi
hari libur dengan main game online2 .”

“Yupss, Game3 ! Fir, bagaimana kalau kita bikin game yang maskotnya Rangkong Badak?”

Fira tidak mengiyakan atau menolak tawaran Gea. Iya hanya menaikkan kedua alisnya pertanda bahwa ide tersebut menarik. Matanya terus memutar ke sudut sekeliling hutan dan menatap tajam beberapa Rangkong Badak yang terlihat terbang dan bertengger di atas pohon.

Bhukk

“Ahhh..” teriak Fira yang dalam kondisi duduk karena tersandung oleh ranting yang berserakan di hutan.

Antana yang berjalan di belakang Fira segera lari menghampirinya, “Baru saya mau bilang kalau jalan lihat ke depan bukan ke atas, eh sudah jatuh. Sini saya bantu.”

Fira hanya mengisyaratkan bahwa dia baik-baik saja dan tidak memerlukan bantuan.

“Ya sudah, lebih baik kita balik ke vila saja Fir, supaya kamu bisa istirahat. Lagi pula, enggak enak juga lama-lama merepotkan Antana,” seruan Gea diikuti dengan menarik tangan Fira.

        Sesampainya di vila, Gea bergegas menuju kamar dan mencari laptop yang ia simpan di dalam tasnya. Seolah banyak hal yang ingin ia cari dan telusuri. Tangannya lincah mengetik di peramban.

“Kamu cari apa, Ge? Yakin mau bikin game4 ? Temannya baru habis jatuh bukannya diambilkan obat.”

Jari Gea seketika berhenti mengetik dan ia segera menoleh ke arah Fira yang berdiri di depan pintu kamar, “Loh bukannya kamu baik-baik saja? Kalau tentang game, tahu enggak kenapa kamu selalu overthinking5 ? Karena statement6 dari mereka bahwa programmer7 wanita itu enggak bisa bikin program yang keren kan? Terus karena itu mereka menganggap kita enggak
bisa menyusun skripsi yang bagus-bagus amat. Aku yakin ini kesempatan emas buat kita untuk membuktikan kalau statement mereka itu salah, Fir!”

Ucapan Gea seperti petir di tengah hari bolong. Mengagetkan namun begitu membuka pandangan Fira. Fira seketika teringat akan keinginannya untuk mematahkan statement yang selama ini menggerogoti rasa percaya dirinya, “Aku enggak sangka Ge kamu bisa punya ide itu. Bangga loh aku jadi teman kamu hahahaha.”

“Iya sebenarnya kita punya pilihan Fir untuk mengolah statement itu jadi perkataan yang sekedar bikin kita patah atau justru jadi peluang ide kayak begini. Pemuda seperti kita kalau tidak memanfaatkan sebanyak-banyaknya peluang kan sayang, Fir.”

        Terkadang jiwa-jiwa kreatif justru muncul ketika diri kita sedang disuguhkan oleh pekiknya realitas. Cara pandang kita terhadap masalah yang ada justru bisa menjadi latar belakang lahirnya ide-ide kreatif. Mulai hari itu Fira dan Gea mencari referensi bagaimana meluncurkan sebuah game hingga bagaimana mendapat hak paten dari game tersebut. Tak lupa karena misi mereka adalah menyelamatkan populasi Rangkong Badak, maka mereka rela habis-habisan mengeluarkan dana demi keberhasilan pembuatan game ini serta agar game ini dapat dimainkan oleh banyak masyarakat secara gratis. Usaha mereka membuahkan hasil dan ide mereka disambut baik oleh Gubernur Kota Nanggroe Aceh Darussalam. Atas kehendak Tuhan mereka dapat lulus tanpa jalur skripsi yakni dengan memenangkan pembuatan game Rangkong Badak dalam kompetisi kreativitas mahasiswa tingkat nasional.

Bayyinah_@bayyinah_28

1 Pernyataan dari orang lain dalam konteks memberi label kepada seseorang

2 Permainan yang memerlukan jaringan internet 

3 Permainan

4 Permainan 

5 Berfikir secara berlebihan dan tidak sesuai dengan kebutuhan 

6 Pernyataan dari orang lain dalam konteks memberi label kepada seseorang 

7 Orang yang membuat sebuah aplikasi dengan memberikan perintah kepada komputer untuk melaksanakan  suatu tugas menggunakan bahasa pemrograman tertentu

Selasa, 02 November 2021

12

Masker Batik Tania karya Jihan Awaliya Hakim

Tania adalah seorang anak berusia delapan tahun. Tania belajar di kelas 3 Sekolah Dasar. Ia periang dan senang bermain dengan temannya.

Suatu ketika di hari Sabtu yang cerah, Bapak hendak mengajak Tania pergi ke luar untuk membeli buah-buahan. Bapak berkata, “Tania, ayo ikut!”

“Iya, Bapak. Aku mau ikut!” seru Tania. “Wah, kita mau pergi ke mana, Pak?” Lanjut Tania, masih dengan senyum riangnya.

“Bapak mau membeli buah-buahan segar di toko buah bersama Ibu. Hari ini Ibu ingin membuat jus jambu kesukaan kita, Nia!” jawab Bapak.

Tania senang sekali mendengar minuman kesukaannya akan dibuat Ibu. Ia juga semangat ingin segera pergi dengan Bapak dan Ibu. Tania akhirnya bersiap-siap untuk pergi. Ia mengganti pakaian dan merapihkan dirinya.

Sejak virus Korona (Covid-19) menyebar di Indonesia, semua warga yang bepergian ke luar rumah harus memakai masker. Bapak dan Ibu sudah siap dengan memakai maskernya. Namun, Tania belum juga memakai masker. Ia tidak mau memakai masker pelindung. Ia merasa panas dan tidak nyaman saat memakai masker. Bapak sudah membujuk dan merayu Tania untuk memakai masker. Ibu juga sudah memilihkan masker yang pas dan cocok untuk Tania. Sayangnya, Tania masih enggan untuk memakai masker.

Bapak khawatir jika Tania tidak memakai masker akan berakibat buruk bagi kesehatan Tania. Akhirnya, Bapak memutuskan Tania tetap di rumah bersama Ibu. Bapak pun pergi sendiri ke toko buah untuk membeli buah-buahan segar.

Melihat hal itu, Tania merasa kecewa. Ia menangis sejadi-jadinya di pundak Ibu. Ibu berusaha menenangkan Tania. “Tania, anak kesayangan Ibu...” ucap Ibu lembut sambil mengusap kepala Tania.

Dalam sendu tangisnya Tania berucap, “Ibu, kenapa sekarang kalau kita ingin pergi harus memakai masker? Tania mau ikut Bapak pergi ke toko buah. Tania tidak mau tinggal di rumah, Bu...” Ibu mengusap pundak Tania untuk membuat Tania tenang.

Tak berapa lama, Ibu mencoba memberi pengertian kepada Tania. “Nak, kamu pasti tahu banyak orang tua temanmu yang saat ini sedang dirawat sebab terkena penyakit dari virus Corona, bukan? Kita juga mendapat kabar Pakdhe Wiryo juga sakit terkena virus Corona. Kamu tahu kan, Nak?”

Tania mengangguk perlahan, tanda mengetahui. “Nah, itulah mengapa kita perlu memakai masker pelindung. Hal itu untuk menghindari kita dari terkena penyakit yang sama,” jelas Ibu.

“Memangnya kenapa kamu tidak mau memakai masker, Nak?” Tanya Ibu pada Tania.

“Aku sebenarnya tidak nyaman memakai masker itu, Bu. Wajahku terasa panas dan aneh saat bernapas”, jawab Tania perlahan.

“Ya, memang seperti itu, Nak. Kita memang merasa tidak nyaman pada awalnya. Ibu juga sama. Tetapi, lama-kelamaan kita jadi terbiasa,” ucap Ibu. Tania diam tanda mengerti. Ia mencoba menyerap nasihat dari Ibu.

Tidak berapa lama, Ibu berkata kepada Nia, “Bagaimana jika besok kita mencoba membuat masker kain dari jarik batik yang sudah lama tidak terpakai? Nanti ditambahkan dengan lapisan kain lembut di dalamnya agar tetap nyaman dipakai?”. Ibu tersenyum melihat Tania sambil menunggu reaksi anaknya.

Tak di sangka, Tania menyambut hangat ajakan Ibu dan menyetujui untuk membuat masker bersama. “Ya, Bu. Aku sangat senang membuat masker kain dengan Ibu. Ini pasti akan mengasah keterampilan Nia. Terima kasih banyak, Bu...” ujar Nia sambil menatap wajah Ibu. Ibu membalas ujaran Tania dengan senyum hangatnya.

Keesokan harinya, Tania bersama Ibu memilih jarik batik yang sudah lama tidak terpakai. Tania menemukan satu kain jarik berwarna hijau tua dengan hiasan motif batik dan bunga mawar putih keemasan. Kain jarik itu dulu sering digunakan Tania untuk bermain bersama teman-temannya. Tania menunjukkan kain itu kepada Ibu, ia ingin menggunakan kain ini untuk dimanfaatkan kembali menjadi masker. Ibu menyetujui keinginan Tania. Selain memilih kain jarik, Tania dan Ibu juga menyiapkan alat dan bahan lain yang diperlukan, seperti kapur tulis, tali ukur, benang, jarum, tali, dan kain halus untuk melapisi bagian dalam masker.

Proses pembuatan masker kain pun dimulai. Dengan tangan lihainya, Ibu mengukur panjang kain yang diperlukan dengan tali ukur dan menandainya dengan kapur tulis. Tania membantu menggunting kain untuk dijahit oleh Ibu. Ibu merapihkan guntingan kain yang dihasilkan Tania. Ibu mencobakan lebih dahulu kain hasil guntingan kepada wajah mungil Tania.

“Bagaimana, sudah pas belum, Nak? Tanya Ibu kepada Tania dengan sabar dan penuh perhatian.

“Sepertinya masih kebesaran, Bu. Terlalu lebar di wajahku, Bu...” ujar Tania pelan.

“Wah, iya, kamu benar, Nak. Oke, coba kita perkecil ukuran kainnya, ya!” balas Ibu.

Tahap demi tahap dilalui oleh Tania bersama dengan Ibu. Ibu menata dan menjahit kain jarik batik dan kain halus bersama-sama. Tania memperhatikan tangan Ibu yang menyusuri halusnya kain jarik batik dari kiri ke kanan, dari atas ke bawah. Ibu dengan teliti menjahit kain. Kreativitas Ibu memang luar biasa. Hal inilah yang mulai tampak dalam diri Tania.

Beberapa waktu kemudian, Ibu selesai menjahit kain. Setelah jahitan masker rapih, Ibu menambahkan tali untuk melengkapi masker. Tania senang dengan hasil masker kain yang dia buat bersama ibu.

“Wah, bolehkah aku mencoba masker ini, Bu?” Tania bertanya dengan penuh antusias.

“Ya, boleh, dong! Masker ini kan Ibu buat untuk kamu, Nak...” jawab Ibu halus.

Tania tersenyum mendengar jawaban Ibu. Tania kemudian mencoba masker tersebut di depan cermin. “Wah, bagus sekali masker kain ini, Bu. Aku juga tidak merasa panas saat memakai masker ini.” Ujar Tania dengan matanya yang masih memandangi cermin. Ibu pun senang dengan sikap Tania.

“Bagaimana jika besok Tania belajar memakai masker saat pergi ke luar rumah?” Ibu bertanya sambil memandangi wajah mungil Tania.

“Iya, Bu. Tania mau mencoba. Aku tidak mau sakit, aku ingin sehat,” jawab Tania penuh keyakinan.

Dengan senyum syukur Ibu memeluk Tania. “Anak Ibu memang hebat!” ucap Ibu dalam pelukannya.

Keesokan harinya, Ibu mengajak Tania pergi ke warung Bu Nilam. Bu Nilam merupakan seorang pedagang sayur di dekat rumahnya. Sebelum pergi, Tania dengan riang gembira menggunakan masker kain yang kemarin dibuatnya bersama Ibu. Tak seperti kemarin, saat ini Tania mau memakai masker. Melihat hal itu, Ibu senang dengan sikap Tania. Masker kain itu pun menjadi masker kesayangan Tania.

**SELESAI**

Cerita Pendek karya Jihan Awaliya Hakim
Instagram: @jihan.awaliya

28

ZORI IN PANDEMI karya Srifitria Lestari

Disuatu hari yang cerah, terlihat seorang gadis remaja yang berusia 17 tahun sedang duduk di teras rumah sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan di masa ini. Masa ini ialah masa dimana sedang sulit - sulitnya dalam ekonomi, belajar, dan lainnya. Saat sedang memikirkan hal tersebut, tiba - tiba dia dikagetkan oleh seseorang yang tak lain ialah sahabat nya sendiri.

“hayo, lagi mikirin apa kamu?”. Tanya rani kepada gadis tersebut.

“ih kamu, bikin aku kaget aja”. Jawab gadis tersebut.

“ya habisnya kamu, melamun saja. Sampai - sampai saat aku panggil pun kamu tidak mendengarnya”. Kata rani.

“ya maaf, aku lagi memikirkan apa yang harus aku lakukan di masa pandemi ini”. Kata gadis tersebut.

“hmm, apa yaa”. Ucap rani sambil memperhatikan sekelilingnya.

“aku tau apa yang harus kita lakukan di masa pandemi ini yang bisa menguntungkan”. Ucap rani.

“apa tuh ran?”. tanya zoya.

“jadi kita bikin sesuatu yang bisa bermanfaat dan menguntungkan”. Ucap rani.

“ya apa tapi aniii”. Ucap zoya dengan gregetan.

“hehehe”

“hehehe lagi kamu”

“bagaimana kalau kita jualan yang lagi viral dan hits gitu. Rani pernah liat tu di toktik makanan yang lagi viral, tapi rani lupa”.

“hmm apa yaa?”

“kita buat video pembelajaran yang menarik untuk semua orang. Saat ini kita kan sekolah online, terus banyak sekali anak anak yang belum paham terhadap materi yang diajarkan oleh guru”.

“betul juga kamu ni, kita buat lalu kita upload di sosial media kita. Secara anak zaman sekarang lebih suka bermain sosial media.”

“nah betul tu zoy. Kita buat sebisa kita dan semenarik mungkin”.

“kalau begitu yuk lah kita buat sekarang”

Setelah beberapa lama mereka berdiskusi tentang apa yang akan dilakukan di masa pandemi ini. Akhirnya mereka sepakat untuk membuat video pembelajaran, agar semua anak di Indonesia bisa memahami materi dari yang telah diajarkan oleh guru mereka di sekolah. Rani yang tadinya hanya ingin main ke rumah zoya, malah ikut berpartisipasi dalam pembuatan video tersebut. Rani dan zoya mulai mencari beberapa tutor yang bisa menjelaskan secara singkat tentang materi yang diajarkan.

Mereka mencari lalu merekam, mengedit, dan menshare di seluruh sosial media mereka. Walaupun belum tentu 100 % berhasil, namun mereka tetap berusaha agar apa yang mereka lakukan bisa bermanfaat bagi semua orang.

“bagaimana ran, kamu kesulitan tidak dalam mengedit video ini?”. Tanya zoya kepada rani.

“hmm lumayan si zoy, ini agak ribet sedikit si di beberapa bagiannya”. Jawab rani.

Ya diantara zoya dan rani, rani lah yang pandai dalam hal edit mengedit ini. Sedangkan zoya iya juga pandai, namun tidak sepandai zoya jika mengedit. Zoya pandai dalam hal public speaking nya, sehingga dia mampu menarik beberapa tutor untuk ikut dalam pembuatan video pembelajaran singkat ini. Termasuk dirinya sendiri pun ikut andil dalam menjelaskan beberapa mata pelajaran yang dia pahami.

“baiklah kalau seperti itu. Jangan terlalu dipaksa ya ran, kalau sudah tidak ada ide lagi berhenti saja dulu, istirahat”. ucap zoya.

“iya zoy”. Tiba - tiba rani mengingat sesuatu yang seharusnya ditanyakan kepada zoya dari kemarin.

“oh iya zoy. Kita belum melihat bagaimana komentar orang - orang tentang video yang kita buat ini”. Ucap rani.

“eh iya ya. Ya sudah yuk kita lihat, aku juga penasaran nih”

Kemudian mereka melihat komentar dari semua orang yang melihat atau menonton video yang mereka buat. Ternyata video yang mereka buat alhamdulillah banyak sekali yang menyukai, dan banyak yang paham.

“waaaahhh zoyaaaa, video yang kita buat banyak suka”. Teriak rani saking senangnya.

“iya ran, alhamdulillah ya, ternyata banyak yang suka dan paham dari penjelasan video tersebut”.

“komennya juga bagus bagus, ada yang bilang tampilannya menarik, materi yang dijelaskan langsung ke intinya dan jelas, terus latihan soalnya juga keren”. Lanjut zoya.

“iya dong siapa dulu gitu yang ngedit hahaha”. Ucap rani dengan tawanya yang nyaring sekali.

“iya deh, sahabat aku ini pinter banget kalau udah urusan seperti ini”.

“eehh, kamu juga kok zoy pinter banget cari tutor nya, dan kamu juga pinter menjelaskannya”

“hahaha iya iya kita sama - sama pintar”.

“yuk kita lanjut lagi, makin semangat aku kalau gini”.

Akhirnya mereka pun melanjutkan kegiatan mereka. Mereka tetap berkreatifitas di bidang tersebut. Walaupun tidak seperti orang - orang diluar sana yang hasil kreativitasnya bisa dijual, mereka malah memilih berkreasi tanpa mereka dapatkan hasil yang berupa barang. Namun karya mereka menghasilkan, hasil yang bermanfaat di masa pandemi dalam dunia pendidikan.


Cerita Pendek karya Srifitria Lestari
Instagram: @Srifitriaaa

3

Semarak Prestasi karya Priska Khairunnisa

 “Huft bosan nih di rumah mulu” ujar Nisa, sahabatku yang cerdas; sholehah; cantik; tetapi bawel minta ampun. Aku yang sedang fokus mengetik naskah hanya terdiam mendengar celotehnya.

“Woi Rere, kok aku didiamkan terus sih dari tadi kayak jemuran aja” rengek Nisa. “Ya mau bagaimana lagi, ini sedang pandemi, kamu ingin tertular?” jawabku. “Tertular apa? Tertular cerdasnya kamu dalam membuat naskah?” ujarnya sambil tertawa. Aku hanya tergeleng sambil tertawa mendengar gurauannya.

“Biar tidak bosan, makanya yuk ikut lomba kayak aku” lanjutku. “Tetapi aku tidak punya bakat” jawabnya. “Bohong, kamu pernah menang lomba debat saat SMA” ucapku. Nisa seketika diam. Aku lupa bahwa dia ada pengalaman pahit dari kejadian itu. Ibunya meninggal saat dia lomba. Sejak saat itu, dia seperti anak yang bermalas-malasan padahal sebenarnya dia sangat cerdas bahkan bisa dikatakan genius.

Keheningan selama beberapa menit membuatku tidak tahan walaupun sebenarnya aku dari tadi butuh fokus untuk mengerjakan naskah. “Nis, kamu masih berpikir bahwa ibumu meninggal karena kamu ikut lomba? Semua bukan karena itu Nis, itu bukan salah kamu. Memang takdirnya saja” ucapku memulai percakapan kembali. “Semua orang bilang takdir, kamu belum tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang menjadi pendukungku selama ini. Lagian kalaupun sekarang aku ikut lomba sepertinya aku tidak bisa menang, aku sudah kehilangan doa terbaik dari ibuku” ucapnya lirih.

“Kamu salah, kamu tahu kan ada istilah bahwa kasih ibu sepanjang masa? Doa dan harapan baik untuk anaknya tetap terus mengalir meskipun raganya tidak lagi bersamamu. Percayalah ibumu pasti bangga melihatmu memenangkan lomba saat itu dan beliau pasti selalu ingin lihat anaknya sukses dan bahagia” ujarku, tetapi reaksi Nisa masih diam tak peduli. “Aku masih ingat ceritamu dilahirkan, bagaimana ibumu tetap gigih melahirkanmu padahal saat itu kamu didiagnosis oleh dokter tidak akan hidup atau kalaupun hidup hanya bisa bernafas sebentar. Aku yakin saat itu ibumu yakin bahwa anak yang diperjuangkannya itu akan tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Kamu tuh sebenarnya anak yang hebat banget Nis. Asal kamu tahu saja bahwa aku sangat terinspirasi olehmu. Melihatmu bisa tertawa, bercanda, mudah bergaul padahal hati dan perasaanmu sangat sedih dan hampa. Mungkin kalau yang kehilangan ibu itu aku, aku belum tentu seceria kamu. Bahkan aku saja selalu dikatakan si murung. Aku memang kurang cerdas bermain kata-kata dan ekspresi dalam lisan tetapi saat aku berpikir bagaimana bisa sepertimu aku menemukan cara untuk aku berekspresi dengan membuat naskah. Kamu tidak perlu ikut sepertiku membuat naskah, kamu bisa berkarya dengan caramu sendiri. Kemudian untuk masalah menang atau kalah dalam lomba memang hal biasa, tidak perlu dirisaukan, yang terpenting sudah coba” lanjutku yang cukup panjang sampai-sampai aku sebenarnya kaget sendiri mengapa bisa aku berbicara seperti itu.

“Wow tumben banget aku diceramahi olehmu” ucapnya sambil bercanda. “Tetapi, terima kasih sahabat, kamu sudah memotivasiku kembali. Benar katamu, baiklah aku akan mencobanya tetapi sebelum itu aku ingin tidur” lanjutnya sambil menarik guling di kamarku dengan cepat dan cekikikan. “Ah, kebiasaan kamu” teriakku kesal. Kemudian aku juga menyusul tidur disampingnya.

Kami memang tinggal bersama karena semejak ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dan tidak ingin mengurusnya. Syukurnya aku bisa membujuk ibuku untuk menganggap Nisa sebagai anaknya juga, mungkin karena ibuku hanya punya satu anak yaitu aku.

Esok harinya, aku terkejut karena Nisa sudah tidak ada di kamar. Kemudian, saat aku memeriksa telepon genggamku, aku melihat pesan dari seseorang tak dikenal. Pesannya berbunyi “Sudah kukatakan jangan semangati Nisa untuk lomba!!!”. Tiba-tiba aku teringat bahwa ayahnya Nisa lah yang membuat Nisa seperti itu. Kepalaku sangat pusing, aku bingung harus berbuat apa.

Beberapa lama kemudian ibuku datang ke kamar. Aku menangis. Ibu memelukku. “Besok kita laporkan kepada polisi sayang, saat ini belum bisa kita adukan anak hilang” ucap ibuku berusaha menenangkan.

Aku menenangkan diri dengan membuat konten. Beberapa jam kemudian, ada telepon dari nomor luar negeri. Awalnya kupikir itu telepon salah sasaran. Namun, nomor tersebut beberapa kali telepon sehingga akhirnya kujawab. “Halo Re” salam si penelpon. Aku terkejut karena seperti suara Nisa tetapi aku tidak ingin asal memberi kesimpulan, aku memutuskan untuk menunggu konfirmasi darinya. “Ini aku Re, Nisa” lanjutnya. “Halo Nisa, bagaimana bisa tiba-tiba seperti ini? Bagaimana ceritanya? tanyaku. “Aku hanya berteman denganmu dan Jonny, tetapi saat orang-orang dari ayahku ingin menculikku aku khawatir bila menghubungimu akhirnya aku menghubungi Jonny tetapi agar tak terlacak aku meminjam telepon genggam orang lain dan menghubungi Jonny kemudian Jonny menyambung ke kamu. Aku hanya ingin mengelabuinya. Aku tidak mungkin ke luar negeri hanya dalam beberapa jam kecuali aku punya pintu kemana saja punya doraemon1” jelas Nisa. “Syukurlah kamu tidak apa-apa, kamu sekarang dimana?” tanyaku cemas. “Kamu bersyukur tetapi masih khawatir” ucapnya sambil tertawa. “Bisa-bisanya kamu tertawa?!” kesalku. “Tenang saja, aku akan kembali, kamu tak perlu khawatir” ucapnya dan ia pun langsung menutup teleponnya.

Pukul 22.00 WIB dia belum kunjung kembali. Ibu menyuruhku tidur. Namun, aku sulit memejamkan mata. Namun, akhirnya aku tertidur juga karena ibu menyetel lantunan ayat suci.

Pagi harinya, ada suara bel berbunyi. Ibu dan aku bingung siapa yang bertamu di pagi hari seperti ini. Akhirnya kami mengintip dari jendela. Kami terkejut melihat banyaknya kumpulan anak datang ke rumah kami. Kemudian, terdengar suara Nisa yang cempreng itu. Akhirnya kami membuka pintu. “Maaf Bu aku kesini membawa banyak orang tanpa mengatakan sebelumnya, tetapi mereka telah aku fasilitasi masker dan kusuruh mencuci tangan di depan Bu” ucap Nisa. “Iya tidak apa-apa Nak, selama tetap menaati protokol kesehatan ya” jawab ibuku. “Ada apa kamu bawa banyak orang Nis? Kamu mau mengadakan pesta ulang tahun?” tanyaku sambil bercanda. “Aku ingin kita ikut lomba Re dan membagikan pengetahuan atau pengalaman yang kita punya dengan memfasilitasi anak-anak yang keterbatasan biaya untuk belajar” jawab Nisa. “Bagaimana dengan ayahmu? Kamu akan terus diteror olehnya” ucapku gelisah. “Ayahku beserta anak buahnya telah ditangkap, maka aku sudah aman. Aku baru tahu sebenarnya yang terjadi mengapa ayahku begitu memaksaku untuk tidak berprestasi, kreatif dan hal-hal membanggakan lainnya” jawab Nisa. “Sudahlah cerita ayahku tidak penting, tetapi aku tidak ingin banyak orang seperti ayahku, maka saatnya kita harus membangun kreatifitas banyak anak muda, kita perlu bentuk komunitas, mulai dari komunitas kecil di lingkungan kita ini saja, baru nanti bisa kita perluas secara daring” bujuk Nisa. “Ibu bangga padamu nak, biar makin semangat belajar dan berprestasi tunggu pisang goreng buatan ibu ya” ujar ibuku semangat setelah mendengar niat baik dari Nisa. Aku pun tersenyum bangga mendengar ucapan sahabatku itu.

Ditengah-tengah diskusi dan belajar bersama, aku bertanya “Apa nama komunitas kita?”. “Semarak prestasi?” saran Nisa. “Wah, ide bagus” jawabku antusias.

Setelah beberapa bulan berjalan, komunitas semarak prestasi telah membantu ratusan orang untuk berkembang, berproses, belajar, berkarya, dan berprestasi bersama di masa pandemi. 


Cerita Pendek karya Priska Khairunnisa
Instagram: @priskakhair2002

9

RAMPAS karya Hana Farhani Maulida

Aku menarik napas berkali-kali. Meneguhkan hati untuk tabah, walau kutahu sungguh tak mudah. “Terima kasih banyak, Kak Nara.” Anak itu mengucapkannya dengan begitu tulus. Tidak terdengar lewat telinga, tetapi sampai ke hati.

Pandemi sudah enam bulan berlalu dan situasi ini merupakan masa yang sulit bagi siapapun. Aku sudah mendengar kabar duka dari beberapa kawan, tetangga, dan kerabat jauh. Syukurlah, keluargaku masih terbebas dari virus ini. Selama enam bulan ini, aku benar-benar tidak pergi kemana pun. Mama dan Papaku memberiku fasilitas yang sangat cukup bagiku untuk menjalani segala aktivitas di rumah. Hal itu juga karena mereka pun harus bekerja secara daring dari rumah. Mereka bersikap tegas di situasi pandemi ini.

Sebelum pandemi, aku tak memiliki banyak aktivitas. Fokus utamaku hanya kuliah. Aku bahkan tidak mengikuti organisasi selain yang diwajibkan oleh kampusku. Tentu saja hal itu kulakukan sekadar formalitas. Namun enam bulan di rumah membuatku benar-benar merasa terpenjara. Aku sudah membaca begitu banyak buku, menonton seluruh serial Netflix, dan mendengarkan lagu-lagu baru yang sebagian besar tidak cocok untuk telingaku. Namun semua itu tidak berhasil memudarkan rasa bosanku karena terpenjara di rumah.

Maka dari itu, aku berusaha memohon kepada kedua orang tuaku untuk mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat yang diadakan oleh BEM kampusku. Aku hendak mendaftar menjadi relawan. Awalnya mereka tentu saja menolak.

“Ini situasi yang rumit, Ra. Kamu dengar kan berita kematian di luar sana? Kami gak mau namamu ada dari sekian banyak statistik kematian akibat dari pandemi ini,” ujar Papa dengan tegas sewaktu aku pertama kali mengutarakan maksudku. Mama mengangguk setuju.

Meski mereka sangat tegas, tetapi mereka juga orang tua yang demokratis. Setelah berkali-kali aku mengutarakan keinginanku, menjelaskan bagaimana konsep kegiatan, termasuk peraturan protol kesehatan yang harus ditaati, mereka akhirnya menyetujui pilihanku.

“Kamu memang sangat keras kepala. Persis seperti Papamu.” Mama melirik kepada Papa.

“Kami mengizinkanmu. Namun akan ada beberapa peraturan baru di rumah yang harus kamu patuhi,” lanjut Mama. Setelah Mama mengungkapkan beberapa peraturan baru itu disertai beberapa pertanyaan dariku, kami akhirnya menyepakati itu.

“Doain Nara, ya, Pa, Ma.”

Agenda pengabdian masyarakat yang kami lakukan adalah mengajar anak-anak sekolah yang terdampak pandemi di pinggiran kota. Lokasinya berada di sebuah taman yang ditutup selama pandemi. Kami mengajar setiap akhir pekan agar tak menganggu aktivitas kuliah. Hari Sabtu untuk jenjang SD dan hari Minggu untuk jenjang SMP dan SMA. Aku ditugaskan untuk mengajar anak SD. Kegiatan dilakukan di ruangan terbuka, maka seharusnya aman. Tentunya kami tetap memakai masker. Tempat cuci tangan juga tersedia di mana-mana. Siswa yang hadir pun terlebih dahulu didata agar tidak melebihi kapasitas. Mereka yang terdata adalah anak-anak yang bersekolah, tetapi kurang mampu.

Pada hari pertama aku menjadi relawan, aku masih cukup kaku. Namun semangat anak-anak itu ternyata mampu mencairkan kegugupanku. Kami berdoa, belajar, dan bermain bersama. Di akhir pertemuan, para relawan memberikan mereka vitamin dan sekotak susu. Mereka sangat senang.

“Makasih, Kak. Permennya enak banget!” ujar salah satu dari mereka.

“Yeh, kocak! Bukan permen kali, itu namanya vitamin. Gak pernah makan vitamin, sih!” ujar yang lainnya menanggapi.

“Kayak yang sendirinya pernah aja!”

Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tertawa tipis menyaksikan pertengkaran kecil mereka. Anak-anak di sini cukup nyablak dan selama tidak berlebihan, kami menganggap itu hal yang wajar. Meskipun jika ada anak-anak yang berkata kasar, tentu saja kami langsung mengingatkan mereka.

Saat agenda hari ini sudah berakhir dan kami tengah bersiap-siap pulang, aku tak sengaja melihat seorang anak berdiri di depan taman. Aku berpikir dia adalah anak yang datang terlambat.

“Hei, nama kamu siapa? Kenapa baru datang jam segini?” tanyaku.

“Aku Adam. Maaf, Kak.” Ia menjawab dengan terbata-bata.

“Kelas 1, ya?” tanyaku. Ia mengangguk dengan ragu.

Aku menjelaskan kepadanya bahwa pembelajaran hari ini sudah selesai dan kami sudah bsersiap-siap pulang. Aku pun memintanya untuk datang di minggu depan pada pukul 8 pagi.

“Jangan telat, ya, Adam.” Aku mengingatkannya. Aku juga memberikannya vitamin dan sekotak susu yang masih tersisa. Adam sangat senang dan berterimakasih. Ia kemudian pamit pergi.

Pada minggu selanjutnya, aku kembali bertemu dengan mereka, anak-anak yang menyenangkan. Hari ini kita tidak akan belajar mata pelajaran sekolah, kita akan menghafal doa kegiatan sehari-hari. Pertama-tama, aku memeriksa kehadiran anak-anak. Semuanya lengkap.

Setelah pertemuan hari itu usai dan kami bergegas pulang, lagi-lagi aku bertemu dengan Adam sedang berdiri ragu-ragu di dekat kami. Aku menghampirinya.

“Adam, kenapa telat lagi?” tanyaku. Ia hanya menggeleng.

“Kamu pasti cuma mau vitamin dan susunya aja ya tapi gak mau belajar? Hayo!” timpal Fani, rekanku. Adam hanya menggeleng.

“Maaf, Kak,” ujar Adam pelan.

Hari itu akhirnya memutuskan untuk menemani Adam belajar sementara rekan-rekanku pulang. Mereka mengingatkanku agar tidak terlalu lama karena mereka khawatir orang tuaku akan marah jika aku pulang terlambat. Beberapa saat kemudian, di taman hanya tersisa aku dan Adam. Aku melihat Adam sama sekali tidak membawa buku dan alat tulis. Akhirnya aku memberikannya. Aku berpikir ia lupa membawanya.

“Oke, Adam! Sekarang kita akan belajar membaca doa sehari-hari. Doa apa yang Adam hafal?” tanyaku. Adam menggeleng.

Kemudian aku menuntunnya untuk membaca dan menghafalkan beberapa doa, seperti doa makan, doa tidur, dan doa belajar. Aku membacakannya dan aku meminta ia mengulanginya. Aku bacakan beberapa kali dan hebatnya Adam dapat menghafalnya dengan sangat baik.

“Wah, Adam keren banget! Ini hadiah untuk Adam.” Aku memberikan vitamin dan susu untuk Adam. Ia menerimanya dengan senang hati.

Selanjutnya aku pun bersiap untuk pulang. Aku mengajak Adam untuk keluar bersama, tetapi Adam menggeleng. Mungkin ia masih ingin bermain-main sebentar di taman. Taman ini juga tidak terlalu jauh dari pemukiman warga, yang mungkin dekat dengan tempat tinggal Adam. Aku mengingatkannya agar tidak pulang terlalu siang, kemudian aku segera pulang.

Minggu selanjutnya, aku melihat Adam sudah tiba di taman sangat pagi, bahkan sebelum para relawan tiba di taman. Aku mengapresiasi semangatnya. Ia pun tak segan membantu kami untuk menyiapkan beberapa peralatan yang diperlukan. Ia memang anak yang sangat baik dan patuh, meski agak sedikit murung. Minggu-minggu selanjutnya ia selalu datang di waktu yang sama dan membantu kami.

Waktu berjalan tanpa terasa. Kegiatan pengabdian kami berjalan dengan lancar dan menyenangkan. Aku sangat beruntung bisa mengambil peran di sini.

Suatu waktu, di saat aku sedang mengajar, tiba-tiba Mama meneleponku dan mengabari bahwa Bi Yati, asisten rumah tangga kami positif COVID. Mama memintaku segera pulang untuk melakukan tes PCR (Polymerase Chain Reaction). Aku berusaha menjelaskan kepadanya bahwa agendaku belum selesai. Namun kepanikan telanjur menguasainya. Akhirnya di tengah mengajar, aku pun pulang dengan terburu-buru.

Sesampainya di rumah, ternyata sudah ada dokter dan perawat dari rumah sakit tempat kami biasa berobat. Bi Yati sudah dibawa ke wisma atlet untuk melakukan karantina. Aku pun segera dites. Kata Mama, kemungkinan tertular saat pergi ke pasar. Positifnya Bi Yati membuat Mama melarangku untuk pergi kemana pun. Aku cukup sedih, tetapi tak bisa menolak. Sebab, ini semua demi kebaikan bersama.

Siang itu kami begitu panik dan cemas menunggu hasil tes yang baru keluar dua hari kemudian. Aku juga merasa lebih lelah dari biasanya. Aku langsung tertidur setelah dites dan baru terbangun pada keesokan harinya. Saat hendak memeriksa ponsel, aku tidak berhasil menemukannya. Mama dan Papa mencoba menghubungi, tetapi ponselku mati. Setelah aku mengingat-ingat, sepertinya ponselku tertinggal di taman saat aku terburu-buru pulang. Aku pun menghubungi temanku lewat ponsel Mama. Aku menjelaskan terkait kondisiku dan bertanya terkait ponselku yang tertinggal.

“Kemarin pas beres-beres kita gak liat ponselmu, Ra.”

Aku menghela napas. Ponselku benar-benar hilang. Mama menyayangkan kecerobohanku, tetapi karena di masa seperti ini ponsel telah menjadi kebutuhan primer, mau tak mau orang tuaku langsung membelikanku ponsel baru. Kami memesannya secara online, dan ponselku baru akan datang beberapa hari kemudian.

Keesokan harinya, Papa menerima surat hasil tes PCR lewat surel. Hasilnya kami semua negatif. Kami sangat bersyukur dan menjadi lebih tenang. Kami juga mendengar kabar Bi Yati yang keadaannya sudah semakin membaik.

Namun tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara ketukan pintu dan diiringi bunyi sirine. Mama membukakan pintu, lalu memanggilku. Ada polisi yang mencariku.

“Apakah benar ini ponsel milik Anda?” tanya polisi sambil menunjukkan sebuah ponsel yang telah ditaruh ke dalam plastik dan benar itu adalah ponselku. “Baik, kami butuh keterangan saudari sebagai saksi,” lanjutnya. Kami semua sangat kaget.

Akupun dibawa ke kantor polisi. Mama dan Papa ikut menemaniku. Polisi memberiku begitu banyak pertanyaan. Aku menjawab dengan jujur sebagaimana yang kuketahui. Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, aku sangat lemas. Ketika Mama dan Papa menanyaiku, aku tak bisa menjawab pertanyaan mereka. Aku pun tak dapat mengingat semua yang polisi tanyakan. Aku sungguh terkejut.

Satu hal yang kupahami, ada seorang anak yang dibunuh oleh preman di taman di tempatku mengajar. Polisi menduga preman membunuh anak itu karena ingin merampas ponselnya, yang ternyata merupakan ponselku. Preman itu kini telah ditangkap.

“Mbak Nara, mari kita lihat jasad korban,” ujar polisi yang tadi mewawancaraiku. Aku menurut.

“Ra, kamu yakin mau melihat jasadnya? Kalau kamu mau menolak, biar Papa yang berbicara.” Papa mencoba memastikan keadaanku.

“Pa, aku harus tahu anak itu. Siapa tau aku bisa membantunya.”

Kami pun pergi ke rumah sakit yang tidak terlalu jauh dari kantor polisi. Tempat di mana jenazah anak itu berada. Saat kami hendak memasuki ruang jenazah, tiba-tiba polisi lain menghampiri.

“Lapor, Pak! Kami menemukan barang bukti baru berupa buku tulis di TKP.” Polisi itu menunjukkan sebuah buku tulis yang tidak bersampul. Aku agaknya mengenali buku tersebut, tetapi tidak mungkin. Pasti banyak anak yang memiliki buku seperti itu. Aku yakin anak ini bukan seseorang yang kukenali. Aku berharap begitu. Namun tiba-tiba aku meminta kepada polisi untuk melihat buku tersebut.

Polisi pun membukakan lembar demi lembar dalam buku itu di dekatku. Aku sangat kaget dengan isinya. Ya Tuhan, aku sangat mengenali buku ini. Aku segera mendesak masuk ke ruang jenazah untuk membuktikan bahwa dugaanku salah, tetapi saat itu sungguh perasaanku sudah tidak karuan.

Saat polisi membuka kain jasad anak itu, aku benar-benar langsung terjatuh dan terisak dengan sangat kencang. Aku sangat mengenali siapa anak ini. Aku memeluk Mama dengan sangat erat.

“Anak ini adalah pengamen yang selalu bermalam di taman itu. Lokasi itu memang cukup rawan dengan preman di malam hari. Dugaan kami, preman itu berusaha merampas ponsel yang dipegang anak ini. Namun, karena ia menolak, ia akhirnya dibunuh oleh preman itu.” Polisi menjelaskan dugaannya kepada.

Aku sungguh terkejut.

Anak itu adalah muridku. Aku sungguh baru mengetahui bahwa ia merupakan pengamen dan tidak memiliki tempat tinggal. Bahkan mungkin ia tidak pernah sekolah. Ia mengaku padaku bahwa ia bersekolah mungkin hanya agar ia dapat belajar bersama kami. Aku sungguh tidak percaya dengan segala yang kulihat dan kudengar. Selanjutnya, semuanya menjadi kabur.

**

/halaman pertama/ adam kelas 1.

/halaman kedua/ doa makan, doa tidur, dan doa belajar, diiajari Kak Nara

/halaman ketiga dari akhir/ adam seneng bisa belajar

/halaman kedua dari akhir/ hp kak nara ketinggalan, Adam balikin minggu depan.

/halaman terakhir/ terima kasih kak nara bidadari

**

Anak itu baru saja memulai mimpinya, tetapi realitas merampasnya dengan begitu tega.


Cerita Pendek karya Hana Farhani Maulida
Instagram: @hanafm24s

14

AKU SAMPAI karya Amira Zahra Azhari

Perkara nasib memang tidak ada yang tau. Aku bujangan yang sedang kehilangan. Hilang langkah, arah, semangat, gairah, bahkan tak ada emosi. Perlahan menyusuri jalan setapak yang becek karena genangan air. Apa yang bisa dibanggakan dari seorang pengangguran. Disepanjang jalan, nyatanya tak ada yang menyapa, entah aku yang kurang bergaul atau mereka yang tak mau tau si orang miskin ini. Tinggal digubuk yang sempit dengan udara lembap didalamnya.

Sampai dirumah yang disebut gubuk ini, aku melepaskan sepatu usang dan menuju sebuah ruangan sekat bambu yang dinamai kamar, bahkan aku sangsi jika orang menganggap ini kamar. Berbaring diatas kasur lapuk dan helaan napas menjadi satu-satunya suara yang kukeluarkan sejak 4 jam yang lalu, terlalu lelah akan hidup.

“Allahu Akbar, Allahu Akbar,,, Allahu Akbar, Allahu Akbar” suara adzan maghrib mengusik tidurku, pejaman mata memang menjadi obat dari segala lelah. Terduduk diatas kasur untuk pengumpulan nyawa.

Didepan pintu kamar, ada ibu disana, berdiri dan tersenyum lembut kepadaku seraya berkata “sholat nak, kemasjid gih”. Mendengar itu aku membalas senyumannya dan bangkit dari kasur, bersiap untuk ke masjid. Setidaknya ada sepucuk gairah untukku hidup, ibu.

Masjid sudah bisa sholat berjamaah sejak seminggu yang lalu, walau ada jarak tetapi disini aku merasa bahwa aku masih menjadi bagian dari manusia, tak ada beda dengan yang lainnya. Selesai sholat, tanpa basa-basi aku langsung keluar dari masjid dan pulang.

Disepanjang perjalanan menuju rumah, yang biasanya aku mendengar hiruk pikuk perkotaan, kini cenderung sepi. Jalan sempit yang hanya bisa dilalui satu orang terasa sangat menyeramkan dikala pandemi.

Sekelebat bayangan hari ini datang dalam pikiran, aku si anak miskin dihina didepan publik. Mereka yang mengaku orang terpandang, tetapi memandang orang saja tak bisa. “Punya apa kamu melamar disini? ijazah SMA, gaada kelebihan apa apa. Sampah masyarakat tempatnya bukan disini”, itu kata dia waktu aku memberikan pesyaratan melamar kerja. Entah sudah keberapa kalinya seperti ini, menjadi bahan tontonan. Menyedihkan.

Sampai dirumah, hal pertama yang kulakukan yakni tidur. Makan malam pun khayalan saja, tak ada apa-apa yang bisa dikunyah. Sepertinya ibu pun sudah terlelap, jadi aku ingin melanjutkan skenario hidup dalam mimpi saja, setidaknya mimpi tidak mengecewakan. Maaf bu, anakmu belum bisa memberikan apa-apa.

_________________________________________________________________________

Silau, mataku terbuka, ternyata sudah pagi. Berjalan keluar kamar dan duduk diatas dipan, menyapa matahari yang masih mau menyambutku. Berfikir dan berfikir, hari ini apa yang bisa kulakukan?, semua perusahaan dan toko yang memerlukan pekerja sudah kusambangi. Memang susah sekali mencari kerja dengan ribuan pelamar lainnya, sedangkan aku tak ada apa apanya .

“Nak, jangan bengong” tersadar dari lamunan, ibu duduk disampingku.

“Ga bengong bu, cuma bingung. Cari rezeki dimana lagi ya, lagi pandemi begini gaada yang mau nerima” ucapku dengan cemas.

Ibu cuma tertawa renyah “Nak, rezeki udah ada yang ngatur. Pergilah hari ini kemanapun, ikuti langkah kaki. nanti akan sampai” aku hanya mengangguk.

Mandi, bersiap dan mencoba tegar akan keadaan. Hari ini nampaknya matahari terlalu bersemangat, panas menyengat. Entah kemana langkah kaki ini berjalan, hanya dinikmati saja. Berjalan sambil memegang map berisikan cv dan ijazah.

Kususuri jalan ibukota, mungkin ada yang mau menerima pekerja.

Hampir seharian penuh melangkah, ternyata hari ini pun sama, tak ada hasil yang kubawa pulang. “Assalamualaikum bu” ucapku dari depan pintu, kuhampiri ibu dikamar. “Bu, aku gagal” ibu hanya tersenyum, “gapapa”. Aku kecewa, entah yang keberapa kalinya.

__________________________________________________________________________

Hari-hari berlalu, semenjak lulus, kegagalan menjadi sahabat. “Bu, aku gagal” “Bu, aku gagal” “Bu, aku gagal” hanya kalimat itu yang selalu aku sebutkan. Sedih,, jujur. Lelah, sangat. Apakah harus ku akhiri hidup?.

Selama pandemi ini, dari pengeras suara masjid selalu terdengar “innalillahi wa innailahi rojiun”, apakah aku harus menyusul?.

Menetes air mata, kucuran air tak bisa membuatku kembali menjadi semula. Kata motivasi menjadi angin lalu rasanya. Semua hal seakan kebohongan belaka. AKU BENCI!.

Semua pikiran jahat lewat, “haruskah aku mencopet?” “atau aku maling saja?” “bisa apa manusia ini?” “sampah masyarakat yang dibilang mereka benar”.

“hiks, hiks ARGHHHH!” pecah sudah pertahananku. Diotakku hanya berputar “Ibu ingin aku sukses, ibu ingin aku berhasil” berulang kali. Tolongg!! Aku sekarat.

Keluar kamar mandi dengan keadaan basah kuyup, mata sembab dan hidung merah. Berlari dengan kencang tak tau arah. Bahkan sempat terpikir untukku menabrakkan diri.

“Brukk” benar saja aku terjatuh, dilhat anak kecil dan ditertawakan. “HAHAHAHAHA, bangun om, cengeng banget udah gede nangis” salah satu anak itu mengejek. Bukannya bangun, akau malah semakin mennundukkan kepala diaspal dan menangis sekencang mungkin. Kepalan tanganku seolah memiliki tenaga sangat kuat untuk menghantam aspal, aku tak mau menyakiti mereka.

“HEH!, pergi pergi, orang jatoh kok bukannya ditolongin malah diketawain” teriak seorang nenek.

“Bangun nduk” sembari memegang lenganku dan membawaku kesebuah rumah, yang ku tau ini rumah beliau dan aku didudukan diatas kursi. Nenek itu tetanggaku, seorang janda yang ditinggal suaminya baru ini karena virus.

“duhh itu tangannya berdarah, siniin” dengan agak kasar, nenek itu memegang tanganku dan membersihkan luka dengan tissue. “kenapa sih lari-lari, kan jadi jatuh” ucapnya, aku hanya memasang wajah datar.

“Nenek itu kenal sama ibu kamu, dia juga sering cerita sama nenek. Anak bujang satu-satunya gabisa dia nafkahin dengan baik, dan malah membebani kamu” kata nenek. “ibu gaperlu nafkahin nek, yang harusnya nafkahin keluarga si brengsek itu” wajar bukan jika aku marah.

Nenek hanya menghela napas, mungkin bingung ingin bicara apalagi, beliau tau berantakannya keluargaku. Akhirnya aku yang buka suara “Dari awal lulus sampai sekarang, aku cuma ngasih ibu kegagalan nek. Sial banget hidupku”. “Hushh, kalau ngomong gaboleh gitu, belum rezeki namanya” gebukan ringan kudapat dibahu darinya.

Hening menyelimuti sesaat, aku hanya menyesap teh hangat yang disediakan dan beliau kembali kebelakang.

“Ndukk!!, bisa benerin mesin cuci nenek? Rusak sepertinya” Teriaknya dari dalam. Kuhampiri beliau, lalu kulihat mesin cuci usang itu, ternyata benar tidak jalan. “sini kubenerin” ucapku lalu sedikit menggulung kemeja. 2 jam berlalu, mesin cuci itu kembali menyala.

“Cah pinter, Terima kasih ya… gaperlu encok lagi orang tua ini buat nyuci” aku tersenyum samar, ada bahagia tersendiri.

“kamu kenapa ga buka servis aja nduk?” tanyannya, “ilmuku belum cukup nek, lulusan SMA aja” ucapku sangsi. “Ya belajar!! Kreatif dikit. Anak jaman sekarang maunya instan aja, cari kerja, kerja, digaji. Kenapa ga bikin usaha sendiri” aku tercengang. “Betul, aku suka otak-atik mesin, kenapa tidak kukembangkan” ucapku dalam hati.

Tanpa pamit, aku pulang kerumah yang jaraknya mungkin hanya satu kilo dari rumah nenek, nenek hanya tertawa sedikit dan memaklumi “hahh anak baik”.

Pulang kerumah, lalu membuka handphone keluaran lama, yang sudah retak tapi masih bisa berguna. Kucari semua situs mengenai mesin elektronik, mulai dari televisi, handphone, kulkas, laptop dan lainnya.

Kutulis semua hal penting yang kupelajari, mulai dari listrik yang terambung, processor, alat-alat elektronika dan lain sebagainya. Hampir satu minggu tanpa henti kupelajari semua, tak kenal pagi, siang, sore ataupun malam. Membuka modul pembelajaran, ikut kelas gratis dan lainnya. Soal bagaimana aku mendapatkan internet, aku pergi ke belakang café free wifi lalu mengunduh semua bahan materi. Hahahaha, menyenangkan ternyata.

__________________________________________________________________________

Seminggu berlalu, sekarang waktunya eksekusi. Kembali mencari cara untuk penjualan jasa, ada dua cara yang kupikirkan, satu buka jasa dirumah, kedua menjemput bola. Aku lebih memilih menjemput bola. Karena dimasa pandemi ini tidak mungkin orang dengan bebas keluar rumah.

Kupakai kalung papan bertuliskan “JASA SERVICE ELEKTRONIK”. Keliling menyusuri perkampungan tempatku tinggal, bahkan sampai ke beberapa kampung kecil yang kusambangi. Alhamdulillah semua membuahkan hasil, hari ini 4 rumah yang kubantu untuk membetulkan barangnya. Dengan upah seikhlasnya, hampir dua ratus ribu kupegang dengan bahagia.

Malam tiba, watunya untuk pulang. Berlari memasuki rumah mencari ibu, ternyata ibu disana, duduk diatas kasur dengan mukenanya, cantik. Berlutut dibawa kasur didepan ibu “Bu, aku dapet rezeki…doakan aku selalu ya bu, supaya bisa beliin ibu rumah yang layak, beli pakaian, makan enak” Tersedu kumenangis. Ibu tersenyum “Kamu anak yang luar biasa, jangan batasi langkah, dan jangan lupa ibadah” akan kuingat nasihatnya.

_________________________________________________________________________

Sudah sebulan lamanya aku mengulang rutinitas yang sama, pergi ke beberapa kampung dan membantu orang-orang yang kesulitan untuk memperbaiki barang elektroniknya. Hampir beberapa juta kusimpan ditabungan plastik untuk investasi nantinya.

Sepulang keliling, aku menyambangi rumah nenek dengan membawa martabak kesukaan beliau, ya, coklat keju. “Assalamualaikum nekk” ucapku riang. “Waalaikumussalam” balasnya.

“duh repot-repot, makin kurus aja kamu nduk” sebegitu perhatiannya beliau kepadaku, kemana saja aku selama ini. “nek, nek, aku mau buka toko aja. cape keliling. Uangnya udah cukup buat sewa” keluhku, “nahh gitu dong, kembangin terus, jdi anak kreatif inovatif kalau kata orang di tivi hahahahaha” aku ikut tertawa.

Kini, aku sudah punya toko sendiri. Tak perlu susah untuk keliling, hanya perlu mengangkat telfon lalu kusambangi rumah itu, juga ada beberapa orang yang datang membawa barang elektroniknya untuk diinapkan ditokoku.

Tak ada perjuangan yang sia-sia. Setiap hari aku selalu meminta doa kepada ibu, selalu mendapatkan senyumnya, selalu menjadi alasanku untuk berjuang. Hampir dua bulan ini aku sudah jarang pulang kerumah, lebih sering menginap ditoko untuk membenarkan barang dan juga ada beberapa pekerja yang sekarang membantuku.

Keesokan harinya, ada seorang pelanggan setia yang selalu membenarkan barang elektroniknya disini, dan selalu puas akan kinerjaku. Dia mengajakku untuk berbincang sebentar katanya, ingin membicarakan suatu hal penting.

Disinilah aku sekarang bersama dia, didalam café yang terlihat mahal, bahkan aku yang dulu saja hanya berkhayal bisa masuk kedalam sini. “Jadi gini mas, saya berencana mau buat bisnis start up, apalagi sekarang teknologi mulai berkembang dan tergantikan dengan mesin semua. Saya mau modalin buat kembangin bisnis service ini lebih besar lagi dengan inovasi terbaru.” Jelasnya. Diotakku hanya ada kata “BAHAGIA” akhirnyaa!!. Kami berdiskusi panjang dan mendapatkan keputusan. Aku yakin bisnis ini akan berjalan dengan lancar. Semoga.

Aku berlari pulang kerumah, tanpa melepas sepatu kuteriak “IBUUU !!! BUU ANAKMU INSYAALLAH SUKSES BUU!!” “BUU!!” “IBUU DIMANA?!” Aku heran, kok ibu siang ini tidak ada dirumah.

Kuberlari sambangi rumah nenek “Assalamualaikum NEKK!!”, “Waalaikumussalam, ada apa sih teriak teriak?!” kesalnya.

“Nekk, tokoku akan berkembang nekk, ada inverstor yang mau modalin. aku akan bekerja lebih keras supaya jadi orang sukses” nenek menangis mendengarnya, tak kusangka aku bisa sampai dititik ini.

“ibu kok gaada ya nek? Aku mau bilang ibu nek” tapi nenek malah semakin menangis.

“Nekk kenapa? Ibu dimana?? Nekk !! JAWAB!” Aku marah, disaat seperti ini ibu malah tidak ada.

“NDUKK! Kamu yang harusnya sadar!!” Teriaknya, “Ibu kamu udah ngga ada!!” “SADAR NDUK SADAR! Hikss…” ucapnya sambil menggebuk-gebuk tanganku.

Seolah aku ditarik kembali ke memori dimana ibu berada di brangkar rumah sakit dengan alat yang menempel disekujur tubuh. Kala itu hanya tangisan keras takut kehilangan satu-satunya keluarga dihidupku, seorang anak yang masih duduk dikelas VII SMA.

“Nak, jangan nangis… ibu disini dan akan selalu ada disini. Jangan takut. Dunia tidak semenyeramkan itu, ada ibu” ucapnya terbata.

“tapi aku gagal terus bu, gabisa bahagiain ibu, gabisa kayak anak-anak lain hiks…” aku jatuh dan kembali jatuh.

“Kamu itu bahagianya ibu, Terima kasih ya nak… ibu disini, jangan merasa terus gagal, nanti akan sampai”, lalu kardiograf berbunyi nyaring, tanda ibu meninggalkanku. Hilang harapan saat itu. Tapi ibu tak berbohong, dia selalu ada bahkan hanya bayangan saja.

Sekarang aku hanya ingin bilang “Ibu, Aku sampai”.


Cerita Pendek karya Amira Zahra Azhari
Instagram: @mirazahra_

72

Akhirnya karya Luthfiyyah Azzahra

Kehilangan, satu kata yang sebelumnya tidak pernah begitu menyesakkan bagiku. Tetapi semuanya berubah saat kejadian itu terjadi. Tepat lima tahun yang lalu bayang-bayang kehilangan dan menghilang terpampang jelas didepan pandangan. Saat itu, pagi hari di bulan Mei. Matahari menerpa wajahnya seakan-akan dia bercahaya. Cantik, “Cia” panggilan untuk anak perempuan pintar yang sedang menyapaku dari kejauhan. Ceria seperti biasanya.

“ Assalamualaikum, rek. Hari ini jadwal e tahfidz Qur’an kan yo?”

Tanyanya sambil tergesa-gesa mengeluarkan Al-Qur’an dari dalam tasnya. Rasa aku sedikit heran, tidak biasanya anak ini terlihat panik saat jadwal tahfidz Qur’an. Apa dia melupakannya ya? Itu lebih tidak masuk akal.

“Waalaikumsalam, opo o kamu Ci, belum hafalan tah?” selidikku.

“Sudah, cuma takut wae Al- Qur’an ku kari ndek rumah. Huh, bikin wong ndredek wae.”

Sudah kuduga, tidak mungkin dia lupa hari ini ada jadwal hafalan.

Bel masuk berbunyi nyaring, kelaspun sudah dipenuhi oleh anak-anak. Mereka mulai gaduh mempersiapkan kelompok hafalan.

“ Assalamualaikum, lho tumben tenan kalian sudah rapih semua biasane wae harus di suruh-suruh dulu,” sapa ustadz. “Waalaikumsalam ustadz.” Jawab anak-anak serempak.

“Ya ndak apa-apa toh ustadz, nanti kalau belum siap sampean marah-marah lagi.” Celetuk Cia yang membuat anak-anak tertawa.

“Yowis … yowis… bagus. Ayo mulai dengan berdoa dulu ya, habis itu seperti biasa wae langsung maju satu-satu hafalan,” bangga ustadz. “Iya, siap ustadz.” Jawabku lantang.

Hafalan hari ini berjalan dengan lancar. Beberapa anak bahkan ada yang maju sampai tiga kali. Mereka benar-benar hebat, kalau begini iri sekali rasanya.

“Ini sudah hapalan semua tah nduk? Kalau sudah lanjut hafalan bareng-bareng ya.”

“Sudah ustadz, gimana kalau baca yasin wae ustadz?” sahut Cia yang diiyakan oleh ustadz.

Tidak terasa waktu yang terpakai untuk hafalan terasa lebih cepat dari biasanya. Anak-anak lain ada yang kembali ke tempat duduk masing-masing atau duduk melingkar dibelakang kelas untuk sekedar berbincang.

“Hmm rek, ayo baca Al-fatihah dan yasin rek…” Celetuk Cia.

“Wes mari Ci hafalan e.” Selaku, lagi pula tadi kita sudah membacakan Al-fatihah dan yasin.

Ya tidak salah juga kalau membacanya sekali lagi, Dyra dan Ara langsung mengiyakan permintaan Cia. Selama kami membacakannya tatapan Cia membuatku risih. Tatapannya kosong, menatapku tapi seperti tidak memikirkan apa-apa, sepertinya dia ada masalah.

“Opo o Ci?” tanyaku, masih penasaran.

“Hm? Ora opo-opo kok hehe.” Jawabnya sambil tersenyum manis. Dari jawabannya saja aku sudah bisa tebak kalau Cia sedang ada masalah.

Bel ke dua berbunyi, kami yang tadi sedang duduk di belakang kelas segera kembali ke tempat duduk masing-masing. Dengan sigapnya guru matematika sudah memasuki kelas dengan membawa buku-buku tebal. Disampingku, Cia juga sudah siap dengan buku matematikanya terlihat sangat semangat. Suara bising dari luar kelas mulai memekakan telinga, bagaimana tidak? Kelas lainnya sudah istirahat dan melakukan aktivitas bebas. Anak-anak dari kelas lain bahkan dengan usilnya menggoda kelas kami yang belum selesai.

“Ustadz, kelas lain sudah istirahat lho.” Rengekku mulai memprovokasi teman-teman yang lain.

“Yowis… yowis ini juga sudah selesai kok, istirahat o kabeh!” Perintah ustadz, hehehe berhasil bukan? “Yeeee…” Sorak anak-anak bahagia.

“Tapi tugas e saya tambahkan jadi 3 halaman yo, sudah wis assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam, wes rek timbang waktu istirahat e kepotong kan yo. Ayo ndang nang kantin!” Ucap Ara menyemangati yang lain. Memang benar lebih baik kalau waktu istirahat tidak terpotong hehehe.

Saat di kantin tiba-tiba Cia berhenti didepan gerobak bakso. Sebenarnya tidak heran, toh biasanya dia akan memilih bakso sebagai menu utama. Cia kemudian berjalan menuju anak-anak yang sedang berkumpul disamping gerobak bakso. Ah, ingin membeli sate telur puyuh rupanya.

“Tumbas sate ne a Ci? Lek iyo aku yo kate tumbas, ketokan e enak ngono.” Tawarku ke Cia, tampaknya anak ini juga penasaran karena yang beli lumayan banyak.

Tidak ada sauhutan, tunggu dia melamun? Karena gemas menunggu jawaban yang tak kunjung dibalas aku menyenggol lengannya.

“Eh? Iyo lah, koyok e yo enak seh. Ayo tumbas!” Ajaknya sambil menarik tanganku menuju adik kelas yang berjualan sate telur puyuh, diikuti dengan Dyra dan Ara. Hmm anak ini benar-benar.

Setelah mendapatkannya Cia menyuapkan sate tersebut kepadaku untuk mecicipinya terlebih dahulu. Rasanya lumayan tidak terlalu buruk.

“He Dek,Mbak,Mas. Kalian kalau mau satene ambil o aja nanti tak bayari.” Tunggu, barusan Cia menawarkan untuk meneraktir kan?

Aku, Ara, dan Dyra saling bertatapan, kami bertiga benar-benar kaget. Pasalnya Cia menawarkan untuk meneraktir tidak pada orang tertentu, melainkan seluruh siswa yang sedang beristirahat.

“Fa, awakmu mau kan yo? Ini loh ambil o. Dyr, Ara ayo ini lho ambil o wae.” Tawar Cia semangat.

“Ora wes Ci, aku pingin roti bakar wae.” Tolakku halus, begitupun dengan Dyra dan Ara menolak dengan halus tawaran Cia. Bukannya tidak berterima kasih, tapi kami merasa tidak enak saja.

“Hmm, yowis.” Balas Cia seadanya. Melihat perubahan air muka Cia aku jadi merasa bersalah, habis ini aku berniat untuk mengajaknya berbicara berdua, siapa tahu dia juga mau menjelaskan keadaanya yang sedari tadi menurutku aneh.

Waktu istirahat berakhir, anak-anak lainnya kembali ke kelas masing-masing begitupun kami. Pelajaran demi pelajaran kami lewati seperti biasanya, sampai tidak sadar waktu menunjukkan pukul 16.00 dimana waktunya untuk mengakhiri pembelajaran dan kembali ke rumah masing-masing. Terlihat semangat yang terpancar dari wajah anak-anak lainnya.

“ADUH SEGER E!” Teriak Dyra sambil merenggangkan otot-otot tubuhnya.

“Halah, pelajaran selesai wae baru seger!” Sela ku, yang membuat siempu memutarkan matanya.

“Ayo wes ndang ambil wudhu, pengen ndang mulih aku.” Ajak Dyra terburu-buru.

“Santai wae lho, tempat wudhu yo sek ramai timbangane ngenteni sambil berdiri, pegel Dyr. Wes duduk sini wae rek.” Usul Cia yang langsung disetujui oleh aku dan Ara,kami langsung saja duduk di anak tangga, sedangkan Dyra langsung melesat mencari tempat wudhu yang sepi.

“Lho ini kalian kok belum ambil wudhu?” tanya salah satu ustadz, yang tidak sengaja melihat kami bertiga duduk di anak tangga seperti anak hilang.

“Masih banyak yang antre ustadz.” Jawabku sekenanya, yang diangguki oleh Cia dan Ara.

“Sakno e arek-arek iki, hahaha.” Tawa ustadz pecah.

Kami bertiga hanya tersenyum kecut mendengarnya. Huh ustadz ini benar-benar, daripada mengasihani kami lebih baik memikirkan untuk menambah tempat wudhu baru dan pasokan air agar antrean wudhu tidak lama.

“Ustadz, foto ustadz.” Celetuk Cia yang diiyakan oleh ustadz, aku dan Ara pun langsung bergaya saat kamera ponsel diarahkan pada kami.

Beberapa detik kemudian kami sadar kalau sedari tadi diperhatian oleh guru lainnya. Tapi hal itu tidak membuat kami malu, karena yang menonton guru-guru perempuan hehehe, bahkan beliau yang mengarahkan kami bergaya. Tak lama kemudian Dyra datang menghampiri kami setelah mengambil wudhu dengan tatapan sedih.

“Lho aku ora dijak foto…. Ayo foto lagi ustadz, kan ndak boleh lho foto cuma bertiga tok.”

“Emang e opo o kalau foto bertiga Dyr?’ Tanyaku penasaran.

“Hm? Iyo Fa, jarene ancen ndak boleh. Wedi nanti ada yang meninggal salah satu e.” Jawaban yang diberikan Dyra membuatku kaget , aku tidak pernah mendengarnya.

“Nduk, wes… wes… mitos itu ndang ambil wudhu terus sholat ashar. Dyra ndang pakai mukena e nduk.”

“Oh iya ustadz, ndang rek wudhu tak enteni ndek kelas.” Final Dyra,yang membuat tiga model dadakan ini segera mengambil air wudhu.

Sholat ashar berjamaah pun selesai dilaksanakan, suasana ramai kembali menyelimuti sore ini.

Anak-anak lain masih banyak yang bermain atau sekedar berbindang di gazebo.

“Cia ayo mulih!” Ajakku.

“Sek sabar Mbak hehehe, nah wes let’s go!” Balasnya saat berhasil mengikat tali sepatunya dan langsung menyusulku duduk di depan ruang guru.

“Opo o? Cerito wae, aku koncomu lho.” Tanyaku tiba-tiba, padahal aku tidak pernah begini.

“Hmm, aku bingung Fa. Bapakku sakit sedangkan yo dino iki aku onok les bahasa Inggris. Bapakku wes bilang seh ndak uah les dulu, tapi yo opo aku ndak mau menyianyiakan kesempatan. Aku entuk beasiswa gawe les bahasa Ingrris iku bersyukur banget aku Fa, ilmu lho itu Fa.” Terang Cia panjang lebar. Terlihat genangan air mata yang hendak metes.

Ternyata ini alasan mengapa Cia terlihat melamun beberapa kali. Aku mulai menenangkannya sambil memberikan masukkan, yang akhirnya disetujui oleh Cia. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang guru untuk menghubungi bapaknya.

“Yo opo, opo jare bapakmu?”

“Bapak masih sakit e, aku ndak usah les dulu katanya lagi. Aku wes bilang mau minta tolong anak e bu kantin, tapi tetep wae ndak boleh.”

“Ci? Mulih wae yo, cuma sehari aja kok. Kan ndek rumah masih bisa ngulang pelajaran Ci.” Balasku halus.

“Hmm, yowis lah ndak usah wae.” Finalnya, dengan helaan napas yang panjang. Sebegitu besarnya kah kamu menghargai ilmu Ci?

“Ojok tinggalno aku yo? Makasih banyak.” Ucap Cia tiba-tiba, dengan pandangan lurus kedepan sambil tersenyum simpul, tanpa menoleh sedikitpun ke arahku. Aku hanya mengiyakan jawabannya dengan diikuti senyum diwajahku. Senang? Tentu ! Rasanya seperti mendapat apresiasi.

“Eh Ci, aku mulih disek yo? Wes datang i lho jemputan e.” Pamitku singkat pada Cia, tak lupa melakukan tos perpisahan.

Sesampainya di rumah aku membersihkan diri dan beristirahat sebentar. Setelah itu mulai mempersiapkan diri untuk mengerjakan tugas. Tapi bagai tersambar petir disiang bolong, tepat pukul 6.10 petang, Nuri teman sekelasku menghubungiku dan mengatakan bahwa Cia sudah tiada. Kecelakaan, Nuri bilang Cia terpental jauh dengan kepala yang terbentur trotoar saat perjalanan menuju tempat les. Sakit? Sesak? Entahlah semua bercampur menjadi satu, mual mendominasi. Memoriku memutar semua ingatan terakhir bersama Cia tadi sore. Rasa bersalah menyelimuti diriku. Apakah aku sudah mengingkari janji untuk tidak meninggalkannya?

“Kita ke rumah Cia sekrang.” Potong mamah membuyarkan pikiranku. Jadi, ini semua nyata? Pikiranku kalut.

Kain putih terbalut ditubuhnya, bahkan menutupi wajahnya yang cantik. Isak tangis terdengar bersahutan, sedangkan air mataku seakan kering tak ingin keluar dari tempatnya. Para guru dan teman-teman saling berlalu lalang untuk melihat keadaannya. Haruskah aku juga lihat? Tangan ini gemetar hebat, jantung ini berdetak cepat. Udara yang bebas rasanya sulit tertangkap. Kupandangi ibunya yang menghampiriku dengan isakkan yang tertahan.

“Nduk, ya Allah Rafa sahabat e anakku. Seng tabah yo nduk, matur suwun wes jaga Cia sama jadi sahabatnya.” Harusnya aku yang menenangkannya bukan beliau.

“Cia kenapa tetap berangkat les buk? Siapa sing antar? Cia kenapa bisa gitu buk? Aku sudah bilang ndak usah lho padahal, anaknya ya juga mau saya suruh pulang aja.” Tanyaku bertubi-tubi.

“Nduk, Cia diantar anak e mbak kantin lali pakai helm anak e.” Tangis ibu Cia. Aku merasa bersalah harusnya aku menenangkannya. Langsung saja kubalas pelukannya dengan erat.

“Buk, aku mau lihat Cia.” Cicitku.

“Iyo nduk, ayo kita dekati yha. Tapi wajahnya ndak bisa dilihat ndak apa-apa yo?”

“Ndak apa-apa buk, ndak apa-apa.” Tangisku mulai lagi.

Melihat dari dekatpun sebenarnya tak ada guna, semuanya sudah tertutup rapat. Menangis juga tidak akan mengembalikan Cia. Banyak pertanyaan yang muncul dikepalaku, apakah aku sudah menjaganya dengan baik? Aku bahkan terkadang tidak mendengarkan ceritanya, dan meresponnya dengan baik. Hanya biasa saja. Oh, atau ini balasan?


Cerita Pendek karya Luthfiyyah Azzahra
Instagram:@piiyyo_